Pages

Thursday, August 16, 2012

Judging

Judging. Itu sebuah kata dalam bahasa Inggris yang dalam bahasa Indonesia lebih cocok diartikan menghakimi. "Jangan kamu menghakimi," kata Yesus, "supaya kamu tidak dihakimi." (Mat 7:1, ITB)
Menghakimi buatku terkesan sangat berat dan memang langsung terkesan negatif. Pada kenyataannya, kita memang tak bisa lepas dari menghakimi. Siapa di dunia ini yang tak pernah menghakimi sesamanya?

Judging. Kata itu kesannya mungkin lebih ramah. Selain lebih ramah, kata itu lebih menunjukkan apa yang kita sering lakukan secara tidak sadar. Jadi, pertanyaan siapa di dunia ini yang tak pernah menghakmi sesamanya itu adalah pertanyaan retorik.

Judging. Itu bisa diartikan sebagai sekadar menilai. Pernah melihat para juri Australia Masterchef menilai makanan yang dihidangkan peserta? Mereka meniai berdasarkan ukuran yang telah mereka tentukan. Memang ada juga juri yang bisa menilai masakan peserta Masterchef itu walaupun dia bukan koki, hanya pecinta makanan. Jadi, ada juga ternyata orang yang pekerjaannya hanya menilai walau orang itu tak bisa membuat sesuatu seperti yang dia nilai.

Judging. I guess we are human that was created to judge each other. But be aware, "for with what judgment ye judge, ye shall be judged: and  with  what measure ye mete, it shall be measured to you again." (Mat 7:2, KJV)

Tangerang Selatan
16 Agustus 2012, 23:17

Wednesday, August 15, 2012

Memori

Memori. Bahasa Inggrisnya kata itu memory. Kalau tak salah tebak, kata itu punya akar kata yang sama dengan kata mimesis (atau memesis ya?) yang artinya mengingat.

Blog di Multiply akan tutup tanggal 1 Desember 2012 ini. Saya sendiri baru terdaftar di Multiply sekitar bulan November tahun 2004. Walau masih hanya tujuh setengah tahun, ada banyak memori yang tersimpan di blog saya ini. Ada banyak cerita. Ada  cerita yang saya bahkan baru sadar pernah menuliskannya setelah membaca kembali beberapa tulisan di blog ini. Ada juga tulisan yang pernah jadi skandal kecil. Ada tulisan yang membuat saya berkenalan dengan seorang dosen saya yang sedang kuliah waktu itu di Amerika Serikat. Ada banyak kenangan..

Memori. Kalau saya tak memindahkan tulisan-tulisan, foto-foto, review, dan segala sesuatu yang bisa saya publikasikan di blog Multiply ini, maka saya akan kehilangan beberapa memori yang tercatat dalam rentang waktu yang cukup panjang. Memori dari blog ini tak akan berguna lagi mungkin buat saya saat ini. 20 tahun lagi? Siapa yang tahu.

Semoga Multiply segera menyediakan tool untuk memindahkan memori dari blog ini ke penyedia blog lain.

Tangerang Selatan
15 Agustus 2012, 23:21

Wednesday, July 18, 2012

Taman Suropati - Kontrakan Gak Jelas

I need to write again. It's been too long this blog has been abandoned.

So, I want to tell a story about yesterday morning trip from Taman Suropati to Kontrakan Gak Jelas at Kalasan Dalam.

Yesterday, I had a chance to be at Taman Suropati at about 6.30 am. I was dropped off near the Great Britain's ambassador residence. I walked through Taman Suropati from the north to the south of the park. I didn't remember anymore when the last time I walked through that park. I guess it was about the end of 2011. I used to come to the park with my (or Hans') bicycle that no longer mine (or Hans'). The layout of the park had changed for a few times. I stil had the pictures that I took about 2007 in that park. I guess I need to take pictures with the new layout. The new layout has a wide free space in the center of the park. People can hold a flashmob with about a hundred people in the center of the park. I guess that is the most significant change in the park for years.

Leaving the park, I walked through Jalan Diponegoro. You would see a lot of ambassador of some countries residences on the street. You can find the vice president of Indonesia residence too on the corner of the street. Acrross the vice president's residence is a house of a military general, I guess. Yesterday some military policemen stood near the traffic light prepared for the general's convoy. I could see the preparation while I walking through the front of the general's house. Walkting though the pavement, I can see the signs of some other ambassador's residence. The Switzerland's ambassador residence was the frist house I went through after the general's house. It was build (or rebuild) about 2010-2011. I could see Pusat Kebudayaan Rusia accros the pavement that I walked trough. I could remember that there was a pcture of a newly wed couple in 2007 on the bulletin board that was placed in the fornt of the Pusat Kebudayaan Rusia.

To make it short, I went though the street for about 20 minutes. And for your information, the ambassadors residences in the street: United States, Switzerland, Belgium (I just realized that this one exists on the street yesterday), Philliphines, Palestine, and another one that I forget from which country. There are also Italy and Switzerland embassy on the street.

I arrived at Kontrakan Gak Jelas about 7 am.

Puri Beruang
18 Juli 2012
16:19

Thursday, March 1, 2012

Selamat Tahun Baru

Selamat Tahun Baru, Semua.

Terlambat? Tidak. Sepengetahuan saya yang sedikit tahu ini, bulan pertama itu sebenarnya bulan Maret. Ada sejarahnya mengapa kalender kita sekarang menggunakan Januari sebagai bulan pertama, Februari bulan kedua, dan seterusnya. Saya tidak terlalu tahu sejarahnya, tetapi yang saya tahu Maret itu bulan pertama. September itu bulan ke-7 (septim itu tujuh), Oktober itu bulan ke-8 (okto itu delapan), dan Desember itu bulan ke-10 (mungkin dari deka). Untuk lebih jelasnya, kata orang pintar sih silakan mencari di Google.

Tahun 2012, saya sama sekali tidak pernah menulis di blog ini. Kenapa? Saya tidak tahu. Saya kurang tahu. Facebook dan Twitter bisa dijadikan kambing hitam. Hanya saja, di Facebook dan Twitter pun saya sudah cukup jarang menulis. Apakah ini artinya dunia mau kiamat?

Tahun ini blog ini berumur 7 tahun. Saya memang menjadikan tanggal 5 Februari 2005 sebagai hari lahirnya blog ini. Jadi, seharusnya tanggal 5 Februari 2012 yang lalu saya sudah menulis sesuatu. Atau, setidaknya saya sudah harus mengganti sedikit gambar di Home blog ini. Copyright-nya yang tak terlalu penting itu harus diganti menjadi 2005-2012. Sayangnya, saya juga sudah duluan sadar kalau ternyata akun blog ini dibuat tanggal 30 November 2004. Informasi itu aku dapat di Account Summary blog ini. Lalu, 5 Februari 2005 itu apa? Post pertamaku aku buat di bulan Januari 2005. Ah, sudahlah. Tak ada yang peduli ini.

Tulisan ini akan diakhiri dengan sebuah pertanyaan sangat penting, yaitu: apakah ini akan menjadi tulisan satu-satunya di blog ini pada tahun 2012 ini?

Kontrakan Gak Jelas
1 Maret 2012
23:59

Thursday, December 8, 2011

Apa yang bisa dibanggakan dari semua itu?

Apakah Anda bangga bangsa ini menempati urutan atas pengguna jasa komunikasi maya? Sebagai pengguna Facebook terbesar kedua di dunia, terbesar ketiga untuk Twitter. Pengguna telepon seluler meningkat pesat dari tahun ke tahun. Lalu, sejumlah orang terinjak-injak ketika mengantre Blackberry yang dijual separuh harga di Pacific Place, Jakarta.

Itu adalah kalimat pendahuluan di dalam tulisan Bre Redana di Kompas bagian Fokus (Jumat, 9 Desember 2011, halaman 45) yang berjudul Hiperkonsumerisme, Hiperteks, Hipermedia. Penulis artikel ini tidak menjelaskan arti hiperkonsumerisme, tetapi dia menggambarkan bahwa pada saat ini orang-orang telah kehilangan kesadaran atas ruang dan waktu dan mengalami apa yang disebut Benjamin Barber sebagai civic schizophrenia alias kegilaan warga. Dalam zaman kegilaan ini, politik digambarkan menjadi politik waktu luang bagi orang-orang iseng kelas menengah. Para pemimpin juga gencar menampilkan politik pencitraan, yaitu politik yang kehilangan kontak dengan realitas, melalui media massa.

Mengenai hiperteks, penulis artikel ini menggambarkan bahwa hiperteks merupakan konsekuensi dari digitalisasi dari kehidupan sekarang. Pembacaan hiperteks merupakan cara membaca secara berlapis-lapis yang terlihat dari cara orang membaca lewat layar komputer/gadget yang membaca bermacam teks secara bersamaan. Hal ini berbeda dengan membaca linear yang terjadi saat membaca buku, koran, atau majalah. Pembacaan hiperteks, melalui hasil penelitian, memberikan penyerapan akan bacaan lebih rendah dibanding pembacaan secara linear. Hiperteks juga mengakibatkan kita menampung terlalu banyak data berseliweran tanpa mampu menarik hubungan dengan informasi yang sudah ada sebelumnya sehingga kita tidak mampu memiliki cara berpikir koheren, Ketidakmampuan berpikir koheren mengakibatkan kita dipenuhi oleh informasi-informasi sesaat. Hal itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh media menjadi gosip. Bagi penulis artikel, analisis politik saat ini sebenanrya hanya rekonstruksi gosip. Di sinilah media cetak, menurut penulis artikel, harus memiliki peranan sebagai media yang dapat mempertahankan sivilisasi.

Lebih lanjut, multitasking disebut penulis artikel sebagai "terampil pada tingkat superfisial". Dia kemudian mengingatkan pembaca bahwa dulu Seneca, filsuf Roma, pernah berkata "berada di mana-mana berarti tidak di mana-mana."
Pada akhir artikel, penulis mengatakan bahwa orang saat ini adalah orang yang memiliki ciri-ciri ketergesa-gesaan dan ketergopoh-gopohan. Penekanannya ada pada kesegeraan sehingga orang selalu memelototi Blackberry untuk mengetahui/memperbarui status terbaru.

"Apanya yang harus dibanggakan dengan itu semua?" Artikel itu diakhiri dengan pertanyaan ini.

Terus terang, saya tertarik dengan isi artikel di koran itu. Saya tertarik karena saya merupakan bagian dari pengguna Facebook dan Twitter di Indonesia. Saya juga pernah menjadi orang yang hampir setiap kegiatan di-update sebagai status di Facebook. (Penulis artikel itu juga ada menulis "...barusan buang angin pun diberitahukan ke seluruh dunia.") Saya juga adalah bagian dari yang disebut oleh penulis artikel itu sebagai orang yang terhubung dengan orang yang jauh di luar lingkungan fisik sosial saya, tetapi kurang memiliki hubungan sosial yang baik dengan orang di sekitar saya. Saya juga adalah orang yang lebih sering menjadi pembaca hiperteks dibanding menjadi pembaca linear. Artikel yang ditulis Bre Redana itu kemudian menjadi menarik karena dapat memberi kritik terhadap diri saya.

Pertanyaan yang kemudian dapat diajukan adalah: bagaimana caranya agar tidak menjadi bagian dari kegilaan warga? Membaca hiperteks tidak salah, tetapi bila hanya lebih banyak membaca hiperteks memang terasa bahwa cara berpikir saya tidak koheren. Dengan demikian, pertanyaan selanjutnya adalah apa yang harus saya lakukan agar saya lebih memilih untuk menjadi pembaca linear dibanding menjadi pembaca hiperteks? Lalu pertanyaan paling utama: apa gunanya saya bisa ditemukan di mana-mana di dunia maya; apa yang bisa dibanggakan dari semua itu?

Perpustakaan STT Jakarta
9 Desember 2011
17:02

Tuesday, November 1, 2011

True Reach by Klout versi Saya

Ada persoalan menarik tadi malam. Setidaknya buat saya. Mas Jed Revolutia menyatakan bahwa seorang yang menghebohkan (atau membuat diri sendiri menjadi sesuatu yang menghebohkan?) di Twitter beberapa waktu lalu hanya memiliki follower aktif sekitar delapan ribu orang, dari sekitar 32 ribu followers. Sisanya? Bot, menurut Mas Jed Revolutia. Bagaimana dia mendapatkan data tersebut? Dia menyatakan bahwa dia memperoleh data tersebut dengan melihat data True Reach di website Klout.

Saya langsung mencoba website tersebut. Saya kemudian langsung mengira bahwa pernyataan Mas Jed Revolutia itu tidak akurat. Benar bahwa True Reach akun orang yang menghebohkan diri itu, saya sebut oknum TS, hanya berjumlah delapan ribu, tetapi tidak serta merta data True Reach di Klout itu dapat menjelaskan bahwa kebanyakan follower TS adalah bot. Benar juga dari graphic True Reach di Klout untuk profil TS kita dapat melihat bahwa True Reach oknum TS baru meningkat sejak 14 Oktober 2011.

Saya kemudian membuat True Reach akun Twitter saya sebagai pembanding. Ternyata True Reach saya mencapai angka 209, sementara angka follower saya hanyalah 164. Itu berarti True Reach ini bukanlah angka yang didasarkan pada follower semata. Di Klout terlihat penjelasan bahwa True Reach "is the number of people you influence, both within your immediate network and across their extended networks."

Dengan demikian, True Reach dari Klout tidak dapat dijadikan data untuk menyatakan bahwa kebanyakan follower TS adalah bot. Lonjakan True Reach akun TS setelah tanggal 14 Oktober 2011 saya pikir ada hubungannya dengan bertambahnya orang yang mention TS atau retweet sebuah tweet yang di dalamnya ada nama akun TS.

Nah, persoalan ini sebenarnya bisa berhenti sampai di penjelasan di atas. Hanya saja, saya pada akhirnya tertarik pada penggunaan True Reach ini. Untuk apa sebenarnya data True Reach ini? Data True Reach menurut pengamatan singkat saya digunakan untuk mengukur seberapa besar pengaruh seseorang di social media khususnya Twitter. Pengaruh dalam hal ini diartikan sebagai jangkauan seseorang (atau sebuah brand) melalui akun Twitter. Seorang Agnes Monica, menurut Klout, hanya menjangkau 189K (atau 189 ribu), padahal follower-nya mencapai 1.549.500. Seorang Poltak Hotradero hanya menjangkau 16K, walaupun follower-nya mencapai 29.769. Dan yang paling menarik buat saya selama 18 jam terakhir memperhatikan beberapa True Reach dari akun orang terkenal adalah akun Poconggg. Follower: 1.104.283; True Reach menurut Klout: 1.073.959. Dari data ini, saya akan memilih Poconggg untuk mempromosikan produk perusahaan saya. Itu kalau saya punya perusahaan.

Dari tulisan singkat ini, saya juga ingin mengatakan kepada oknum TS untuk tidak perlu me-lebay-lebay-kan jumlah follower, karena pada kenyataannya dia hanya menjangkau delapan ribuan orang. Poconggg yang menjangkau sejutaan orang saja tak sombong.

Meja 11, Perpustakaan
1 November 2011
18:25

PS:
- terlalu banyak kata
True Reach dalam tulisan ini
- ada hal lain yang bisa dilihat di Klout selain True Reach
- Klout sepertinya akan sangat berguna bagi orang yang benar-benar ingin menggunakan Twitter sebagai media untuk mempromosikan sebuah produk atau untuk mempengaruhi orang lain. untuk narsis melihat seberapa terkenalkah Anda juga bisa dilakukan.