Wednesday, August 22, 2012
Always On (Bagian 2)
Untuk menggunakan paket Always On, Anda tentu harus memiliki kartu 3 terlebih dahulu. 3 menyediakan beberapa paket perdana. Saya sih menyarankan Anda membeli perdana yang masih ada Bonus Umum di jenis pulsanya. Bila tak ada, setidaknya yang ada Bonus Sesama 3. (Untuk bonus ini, tentunya akan diperlukan bila Anda memakai paket ini bukan hanya untuk modem.)
Setelah memiliki perdana 3, tentu Anda harus mengaktifkannya. Sebaiknya memakai identitas asli supaya Anda dapat melakukan penggantian SIM card bila hilang atau rusak.
Lalu, untuk pola internet sangat murah yang saya maksudkan, Anda perlu mengisi pulsa sebesar Rp50.000. Pulsa itu akan Anda pakai untuk mengaktifkan paket internet Always On 12 bulan (harga paket ini Rp50.000). Tentunya Anda bisa juga memilih mengisi pulsa Rp40.000 (mungkin ini hanya bisa dilakukan lewat Internet Banking Mandiri) bila Anda ingin mengaktifkan paket internet Always On 6 bulan (harga paket ini Rp35.000). Atau, Anda bisa juga memilih mengisi pulsa berapa saja, yang penting pulsa cukup untuk mengaktifkan paket internet Always On 1 bulan (harga paket ini Rp10.000).
Setelah punya pulsa, Anda dapat mengakitfkan paket Always On dengan menghubungi *234#. Pilih paket Always On, dan pilih sesuai jangka waktu yang Anda inginkan. Saya merekomendasikan Anda memakai paket Always On 12 bulan, tentunya bila Anda ingin turut serta dalam berinternet dengan pola yang saya anjurkan.
Setelah aktif, Anda akan bisa mengakses 10 situs populer versi 3 secara bebas dan mendapatkan kuota berinternet sebesar 50MB/bulan, gratis. Kuota itu dapat Anda pakai untuk mengakses internet di luar 10 situs populer versi 3. Kesepuluh situs populer versi 3, yaitu: Facebook, Google, Detik, Okezone, Vivanews, Tokobagus, Kaskus, Kompas, KlikBCA, dan ebuddy (untuk chat di beberapa layanan chat seperti Yahoo!, Facebook, MSN, Google Talk), dapat Anda akes tanpa mengurangi kuota berinternet Anda. Itulah sebenarnya inti dari paket Always On.
Sampai di sini, Anda masih bisa menikmati internet dengan nyaman. Anda tidak akan merasakan masalah berinternet sebelum kuota 50MB habis. (Kuota 50MB gratis hanya akan diberikan di setiap awal bulan atau pada saat Anda baru mengaktifkan paket Always On.) Akan tetapi, pola internet sangat murah yang saya maksudkan sebenarnya berhubungan dengan menggunakan internet saat Anda tak punya kuota internet lagi untuk mengakses situs lain di luar 10 situs populer versi 3. Anda tentu dapat membeli kuota internet untuk mengakses situs di luar 10 situs itu dengan membeli paket Kuota++. (Hubungi *234# untuk mendapatkannya. Tersedia kuota 100MB dengan harga Rp5.000, 700MB Rp35.000, 1,25GB Rp50.000, 3GB Rp100.000.) Hanya saja, Anda tidak akan menikmati pola berinternet sangat murah yang saya maksudkan.
Saat ini saya memakai Always On 6 bulan untuk modem saya. Pulsa saya hanya terpotong Rp35.000 untuk mendapatkan paket itu. Saat baru aktif, saya mendapatkan kuota gratisan 50 MB. Saya bisa mengakses semua situs secara normal. Setelah kuota 50MB habis, saya mendapatkan SMS notifikasi dari 3 di modem saya. Setelah itulah saya baru melihat kalau 10 situs populer yang dimaksud oleh 3 memang bisa saya akses walaupun saya tak memiliki kuota internet lagi.
Lalu, apakah mungkin dapat menggunakan internet bila hanya bisa mengakses sepuluh situs populer versi 3 itu?
(bersambung ke bagian 3)
Tangerang Selatan
22 Agustus 2012, 23:36
Tuesday, August 21, 2012
Pendidikan sebagai Bisnis
Lalu, kalau tidak jadi melanjutkan tulisan Always On, apa yang saya akan tulis?
Baiklah. Saya akan menulis tentang pendidikan lagi. Saya pergi ke Bintaro Plaza malam tadi dan singgah di toko buku Gramedia. Saya menghabiskan waktu di bagian majalah dan komputer. Yang menarik perhatian saya ada di bagian majalah idebisnis Agustus yang memberi gambaran bahwa pendidikan untuk anak itu merupakan lahan bisnis yang menarik. Ada berbagai jenis jasa pendidikan yang diulas di majalah itu. Pendidikan sebagai bisnis?
Saya rasa hanya sedikit (atau bahkan tak ada?) sekolah swasta yang punya nama (you-know-what-I-mean) yang tak berorientasi bisnis. Lagipula, kalau tak berorientasi bisnis, sekolah itu mau bertahan dengan cara bagaimana? Bila sudah berorientasi bisnis, pendidikan pun dibuat semenarik mungkin dengan bermacam-macam cara agar banyak yang tetap masuk ke sekolah/jasa pendidikan itu. Dengan biaya pendidikan yang mahal, orang tua pun pada akhirnya berpikiran anak yang telah masuk sekolah yang mahal itu akan menghasilkan uang yang banyak nantinya setelah bekerja. Bukankah begitu?
Dengan demikian, pendidikan sebagai bisnis: itu lumrah.
Tangerang Selatan
21 Agustus 2012, 23:41
Monday, August 20, 2012
Always On (Bagian 1)
Harga layanan internet semakin lama memang semakin murah. Saya masih ingat, dulu saya pernah pakai layanan internet yang harganya Rp200.000 hanya untuk Unlimited (speed turun setelah kuota) 3GB. Sekarang, ada yang 5GB dengan harga Rp125.000 saja. Itu untuk harga layanan internet dari provider 3. Sepengetahuan saya, itu adalah yang termurah untuk operator GSM. Harga itu masih mahal kalau dibandingkan dengan orerator CDMA yang bisa memberikan kuota 6GB dengan harga Rp100.000, dan 12GB hanya dengan Rp150.000. Kalau mau hemat, operator CDMA itu bahkan memberikan layanan internet unlimited (dengan kecepatan rendah, maksimum 386kbps) dengan harga hanya Rp90.000 per bulan.
Jenis layanan paket internet yang dibutuhkan setiap orang bisa berbeda. Itu tergantung kebutuhan masing-masing orang. Ada yang membutuhkan kuota internet 5GB untuk smartphonenya, ada juga yang hanya membutuhkan kuota sepersepuluhnya, 500MB. Ada yang mau pakai paket harian, mingguan, atau bulanan. Kalau paket berdasarkan waktu, saya pikir itu lebih ke pertimbangan banyaknya pulsa sih biasanya.
Nah, saya selama beberapa tahun terakhir (tak lebih dari satu setengah tahun sih sebenarnya) memakai koneksi internet dari 3. Tulisan ini, dengan pendahuluan yang cukup panjang, sebenarnya ingin memperkenalkan satu jenis paket internet terbaru yang ditawarkan oleh 3. Namanya paket Always On. Tujuan tulisan ini bukan untuk mempromosikan paket itu, tetapi mencoba memperkenalkan kepada yang (sudi) membaca tulisan ini sebuah cara berinternet yang menurut saya sangat-sangat murah. 3 tentu tidak ada membayar saya untuk menulis ini. Saya bahkan membayangkan 3 bisa tidak untung kalau banyak yang mencoba mengikuti saya menggunakan paket Always On 1 tahun DAN juga mengikuti pola berinternet yang akan saya paparkan dalam tulisan ini. Pola berinternet ini masih dalam percobaan.
(berlanjut besok)
Tangerang Selatan
20 Agustus 2012, 23:43
Saturday, August 18, 2012
Fanatik Menggonggong Biarlah Berlalu
Hari ini, liga ini telah dimulai. Dimulainya liga ini tentu akan meramaikan pembicaraan para pecinta sepakbola di setiap awal minggu. Bertemu dengan pecinta sepakbola lain, pertandingan yang diadakan antara Sabtu sampai dengan Senin pagi akan menjadi perbincangan.
Di antara pecinta sepakbola, ada yang namanya pendukung klub. Saya tak tahu apakah kata fans merupakan kata yang lebih baik. Yang ada di kepala saya begitu mendengar kata 'fans' adalah kata fanatik. Bagi saya fanatik itu lebih mengarah ke arti yang negatif. Saya kebetulan tidak bisa mengakses KBBI online saat ini. Jadi, saya mencoba mencari di Google dan menemukan beberapa definisi yang tertulis di hasil penelusuran Google.
Fanatik menurut Reference.com berarti "a person with an extreme and uncritical enthusiasm or zeal, as in religion or politics". Lebih menarik dan pas dengan tulisan saya ini bila saya mengutip arti yang ditulis di Wikipedia (sebuah ensiklopedia yang tak boleh dipakai untuk tulisan ilmiah) di bawah kata fanaticism: "Fanaticism is a belief or behavior involving uncritical zeal, particularly for an extreme religious or political cause or in some cases sports". Kata kunci: ekstrim, antusiasme tak kritis; di bidang agama, politik, dan juga olahraga.
Saya pernah melihat seseorang menulis di Twitter bahwa menjadi seorang penggemar sebuah klub sepakbola memang harus fasis, entah apa maksud dari kata fasis di kalimat orang itu. Yang saya tahu, orang tersebut memang seorang pendukung klub Manchester United. Fanatik? Bisa jadi. Ada juga seorang teman yang penggila sepakbola, sangat menggilai Cristiano Ronaldo. Fanatik? Menurut saya, ya. Menurut dia sih, kemungkinan besar tidak.
Fanatik itu, buat saya, berlebihan. Dari kata kunci tentang kata fanatik yang saya tulis sebelumnya, seorang fanatik itu esktrim dan memiliki antusiasme tak kritis. Saya yakin ada banyak penggemar sebuah klub sepakbola yang tergolong fanatik. Sama seperti pemeluk agama tertentu yang fanatik, cara berpikir fanatik klub sepakbola juga mirip: mereka paling benar.
Lalu, bagaimana menghadapi fanatik klub sepakbola? Saya sih lebih berpikir untuk tidak berdebat panjang dengan fanatik klub sepakbola, sama seperti dengan mereka yang fanatik agama.
Tangerang Selatan
18 Agustus 2012, 23:37
Friday, August 17, 2012
Pendidikan
Pendidikan. Bicara tentang pendidikan, kita bisa jadi mau membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dengan di luar negeri. Lalu kita bisa jadi menganggap pendidikan di luar negeri itu jauh lebih baik dibandingkan dengan di Indonesia. Saya baru saja menonton film Waiting for 'Superman' di HBO. Film itu merupakan sebuah film dokumenter yang memperlihatkan betapa masalah pendidikan di Amerika Serikat itu tidak jauh beda dengan di Indonesia. Mungkin pendidikan di negara mereka memang lebih baik dibandingkan dengan negara kita, tetapi mereka tetap memiliki masalah dalam sistem pendidikan mereka. Masalah anak yang tidak diterima di sekolah, masalah anak yang tidak boleh ikut perayaan kelulusan sekolah karena ibunya tak melunasi uang sekolah, masalah penerimaan siswa baru yang menggunakan lotere, dan masalah ketimpangan sekolah negeri (public school) dengan sekolah swasta. Mereka juga mengalami masalah dalam kualitas guru.
Film Waiting for 'Superman' itu memberikan gambaran bahw a di manapun pendidikan memang diperlukan untuk kehidupan yang lebih layak. Beberapa saat ditampilkan Bill Gates yang berbicara tentang pendidikan di Amerika yang agaknya sudah akan ketinggalan dengan negara-negara lain. Gates juga bertanya apakah pendidikan di Amerika nantinya akan bisa menyiapkan generasi Amerika selanjutnya di 20 tahun mendatang untuk berkompetisi di dunia. Negara sehebat Amerika saja masih merasa akan ketinggalan, bukankah itu berarti Indonesia jauh ketinggalan?
Yang menarik dari film itu adalah diangkatnya sebuah cerita tentang seseorang yang mempunyai pengaruh untuk membuat kebijakan publik di bidang pendidikan. Dia berusaha untuk mengubah sebuah sistem penggajian guru. Sistem penggajian guru itu memungkinkan seorang guru dapat memiliki gaji dua kali lipat dari sebelumnya, bila si guru bersedia digaji dengan sistem evaluasi berdasarkan kinerjanya. Usul itu dibawa ke Serikat Guru dan karena dianggap dapat memecah para guru, banyak yang tak setuju hal itu dibicarakan untuk dijadikan salah satu hal yang perlu diputuskan. Rhee, perempuan yang memberikan usul itu, kemudian di dalam film itu berkata, "sistem pendidikan tidak bisa berubah menjadi lebih baik karena lebih mementingkan kepentingan orang dewasa (, bukan kepentingan anak-anak).
Satu hal lain yang menarik dari film itu adalah perkataan seorang guru bernama Geoffrey Canada. Dia adalah pendiri salah satu sekolah negeri (atau sekolah rintisan) dengan sistem pendidikan yang berbeda dengan sekolah lain pada umumnya. Dia berkata bahwa "seorang guru yang hebat itu adalah seseorang yang sangat ahli di bidangnya. Kita akan kagum melihatnya seperti kita kagum melihat seorang atlit atau seorang artis yang hebat di bidangnya masing-masing." Saya pikir setiap kita pernah menemukan seorang guru seperti yang dikatakan Geoffrey itu. Semoga..
Pendidikan. Indonesia. Apa tujuan pendidikan di Indonesia?
Tangerang Selatan
17 Agustus 2012, 23:44
Thursday, August 16, 2012
Judging
Menghakimi buatku terkesan sangat berat dan memang langsung terkesan negatif. Pada kenyataannya, kita memang tak bisa lepas dari menghakimi. Siapa di dunia ini yang tak pernah menghakimi sesamanya?
Judging. Kata itu kesannya mungkin lebih ramah. Selain lebih ramah, kata itu lebih menunjukkan apa yang kita sering lakukan secara tidak sadar. Jadi, pertanyaan siapa di dunia ini yang tak pernah menghakmi sesamanya itu adalah pertanyaan retorik.
Judging. Itu bisa diartikan sebagai sekadar menilai. Pernah melihat para juri Australia Masterchef menilai makanan yang dihidangkan peserta? Mereka meniai berdasarkan ukuran yang telah mereka tentukan. Memang ada juga juri yang bisa menilai masakan peserta Masterchef itu walaupun dia bukan koki, hanya pecinta makanan. Jadi, ada juga ternyata orang yang pekerjaannya hanya menilai walau orang itu tak bisa membuat sesuatu seperti yang dia nilai.
Judging. I guess we are human that was created to judge each other. But be aware, "for with what judgment ye judge, ye shall be judged: and with what measure ye mete, it shall be measured to you again." (Mat 7:2, KJV)
Tangerang Selatan
16 Agustus 2012, 23:17
Wednesday, August 15, 2012
Memori
Memori. Bahasa Inggrisnya kata itu memory. Kalau tak salah tebak, kata itu punya akar kata yang sama dengan kata mimesis (atau memesis ya?) yang artinya mengingat.
Blog di Multiply akan tutup tanggal 1 Desember 2012 ini. Saya sendiri baru terdaftar di Multiply sekitar bulan November tahun 2004. Walau masih hanya tujuh setengah tahun, ada banyak memori yang tersimpan di blog saya ini. Ada banyak cerita. Ada cerita yang saya bahkan baru sadar pernah menuliskannya setelah membaca kembali beberapa tulisan di blog ini. Ada juga tulisan yang pernah jadi skandal kecil. Ada tulisan yang membuat saya berkenalan dengan seorang dosen saya yang sedang kuliah waktu itu di Amerika Serikat. Ada banyak kenangan..
Memori. Kalau saya tak memindahkan tulisan-tulisan, foto-foto, review, dan segala sesuatu yang bisa saya publikasikan di blog Multiply ini, maka saya akan kehilangan beberapa memori yang tercatat dalam rentang waktu yang cukup panjang. Memori dari blog ini tak akan berguna lagi mungkin buat saya saat ini. 20 tahun lagi? Siapa yang tahu.
Semoga Multiply segera menyediakan tool untuk memindahkan memori dari blog ini ke penyedia blog lain.
15 Agustus 2012, 23:21