Tuesday, December 28, 2010
Monday, December 27, 2010
Plaza Semanggi - Kontrakan Den Abed (Bagian I)
Hari ini aku berhasil berjalan kaki dari Plaza Semanggi ke kontrakanku. Mungkin ini jalan kaki tak penting terjauh yang aku pernah lakukan selama di Jakarta. Terakhir dan terjauh sebelumnya mungkin jalan kaki dari Stasiun Tanah Abang ke kontrakan yang aku lakukan Selasa minggu lalu.
Aku pergi ke Plaza Semanggi sebenarnya dengan tujuan tak penting: mengambil uang di ATM. Dan satu hal tak penting lain yang cukup memalukan kalau disebutkan: mencari perdana murah dengan nomor menarik di jembatan penyeberangan Bendungan Hilir.
Sekitar 16.03 sewaktu kakakku mengirimkan sms memintaku memeriksa email, aku sudah berada di halte Megaria di Jalan Proklamasi dengan sebotol Aqua 1500 ml di tanganku. Pakaianku hanyalah sebuah celana pendek orange yang aku biasa pakai untuk tidur dan sebuah kaus putih 61 yang bertuliskan "Love At First Sight". Aku sebenarnya hendak pergi mencari makan siang di KFC Cikini -Attack- lalu dari sana mengambil uang ke ATM Mandiri yang berada di depan TIM. Apa hendak dikata, rencanaku sering berubah. Aku malah pergi ke Giant membeli Aqua lalu memutuskan mengambil uang di Plaza Semanggi saja.
Tiba di Plaza Semanggi, aku langsung mengambil uang di ATM Mandiri di dekat CFC. Lagu Ave Maria yang dinyanyikan oleh Celine Dion berkumandang. (Berkumandang? Seperti lagu kebangsaan saja!) Tak ada yang lebih menarik dari mengambil uang di ATM sambil bernyanyi sok tahu lagu Ave Maria. Selesai dari ATM, aku ke 3 Store. Aku berencana membeli voucher 3 untuk internetku. Setelah berpikir sangat panjang, aku mengurungkan niatku. Biarlah aku menikmati internet 3-ku yang sudah super lemot, pikirku. Atas nama pengencangan ikat pinggang. (Ada ya istilah seperti itu?) Jadilah aku datang ke 3 Store hanya untung mengisi surat keluhan yang disediakan oleh mereka. Keluhanku ya itu, internet 3 "lambat sangat kalau kuotanya sudah habis." Yah, di mana-mana memang begitu kan? Hanya saja, aku tak salah kan mengeluhkan itu? Aku kemudian melemparkan pandanganku ke Christiano Ronaldo yang berdiri entah sejak kapan di toko itu. Ada daftar "nomor cantik" yang menempel di tubuhnya. Dan satu nomor yang menarik perhatianku adalah 08999990507. 507! Aku kemudian berkeliling ke XL dan Axis. Axis memasang iklan menarik untuk paket Blackberry Unlimited-nya. Axis tidak memasukkan tarif 3 dalam grafik Perbandingan Tarif Blackberry Unlimited Bulanan. Atau sepertinya dia memakai tarif BB 3 yang lama. Bukan mau membela 3, hanya saja menurutku iklan itu payah! Tentang para operator seluler sekarang, aku pikir bisa dibuat tulisan lain. Secara singkat, semua operator itu iklannya payah.
Yang menarik di Plaza Semanggi adalah adanya toko dengan nama Luna Maya. Pakai kata hardware pula. Aku tak terlalu memerhatikan apa isi tokonya.
Aku kemudian keluar dari Plaza Semanggi. Aku memang tak punya sesuatu yang ingin kubeli. Atau tepatnya, aku sedang tak ingin membeli apa-apa dalam rangka memperingati Natal. Apa hubungannya ya?
Aku kemudian nongkrong sejenak di jembatan penyeberangan Bendungan Hilir. Aku memerhatikan satu per satu dengan tidak seksama nomor-nomor perdana yang dihamparkan oleh seorang penjual di dekat belokan ke arah halte bus Transjakarta. Di situlah aku dulu membeli perdana Simpati PeDe ku yang 507 itu seharga Rp15.000. Kalau tidak salah, aku membelinya sekitar awal tahun ini. Setelah aku perhatikan, tak ada satupun yang menarik. Aku kemudian memutuskan untuk pulang saja. Aku berjalan menyusuri jembatan penyeberangan yang dipenuhi penjual jam tangan yang entah-apa-namanya dan penjual tas yang modelnya-entah-apa-namanya.
Pukul 17.51 di jam telepon genggamku, aku tiba di halte. Aku berpikir kalau hari masih terlalu cerah untuk langsung pulang. Lagipula bus 213 rata-rata penuh pada jam pulang kantor seperti itu. Aku pun kemudian dengan spontan memutuskan untuk berjalan kaki saja. Sampai ke rumah.
Benarlah pepatah yang mengatakan, "banyak berjalan, banyak melihat." Ada ya pepatah seperti itu? Kenapa sepertinya aku malah mengarang pepatah baru ya? Despite the pepatah is right or wrong,
what I'm trying to say is I was looking a lot of things this
evening when I walked home.
Ada bus Royal Platinum. Bus itu adalah bus yang dipakai oleh rombongan peserta PRPG Agustus lalu. Aku jadi ingat kalau aku naik bus ke Cipanas hanya dengan empat penumpang di dalamnya. Bus Royal Platinum itu tadi aku lihat diparkir di depan Hotel Sahid Jaya. Aku baru memerhatikan kalau bangunan hotel itu sudah semakin bagus. Lalu melihat kondektur bus Royal Platinum itu, aku jadi ingat kondekturbus yang membawa kami ke Cipanas waktu itu. Dia bercerita kalau dia lari dari bosnya dengan menggadaikan motor milik bosnya. Di sebelah Hotel Sahid Jaya ada bangunan Da Vinci Penthouse. Aku jadi teringat seseorang yang mengaku tinggal di situ. Soal gedung itu, aku pikir gedung itulah satu-satunya gedung di Jalan Sudirman yang memiliki pilar agak berlebihan dan ada patung-patung yang harusnya didemo oleh FPI. Gedung berikut yang membuatku teringat akan sesuatu adalah gedung BNI 46. Aku pernah ke salah satu lantai gedung itu untuk interview menjadi data entry. Ada tulisanku tentang penipuan yang dilakukan perusahaan yang melakukan interview palsu itu (yang aku tak bisa mencari link-nya karena internetku super lemot).
Selain gedung, ada pula stiker menarik di dekat halte Karet. Isinya, "ingin tahu apakah bus Anda sudah lewat?" Kurang lebih begitu. Follow @tegursapajakart. Kalau tidak keliru, itu nama akun Twitternya. Menarik, pikirku.
Walaupun pendapatku tentang bus 213 pada jam pulang kantor seperti tadi itu ternyata salah -- it turned out that 213 was not as padat
as usual --, aku tetap melanjutkan perjalanan kakiku. Kakiku
sudah sakit ketika melewati jembatan dekat Stasiun Sudirman. Dan aku pun ternyata ingin membuang sesuatu karena aku terlalu banyak minum. What do you expect from drinking 1500 ml water?
Pukul 18.24 waktu di handphone-ku, aku sudah di depan lift dekat Harvey Nichols Grand Indonesia.
to be continued...
Kontrakan Den Abed
27 Desember 2010
23:37
Sunday, December 26, 2010
Aneh Berlanjut
Keanehan berlanjut. Sepertinya bukan karena ada yang aneh yang terjadi di sekitarku. Itu lebih kepada diriku sendiri yang aneh. Melihat hal yang biasa itu sebagai sesuatu yang aneh.
Tadi pagi kami mengikuti kebaktian Minggu di GKI Bintaro Utama. Kali ini aku jadi teringat lagi dengan Perjamuan Kudus di dalam Memimpin Ibadah. Pagi tadi memang dilaksanakan Sakramen Perjamuan Kudus di GKI Bintaro Utama. Aku melihat (tata) liturginya. Ada yang aneh. Hanya saja aku tak tahu apa. (Bilang saja sebenarnya tidak tahu!)
Pokoknya pagi ini dalam ibadah Minggu tadi aku berpikir kalau dalam sebuah jemaat harus terdapat orang-orang yang mampu untuk mempersiapkan ibadah dengan baik. Banyak elemen yang terkait tentunya dalam pelaksanaan ibadah. Entah kenapa aku malas menyebutkan satu per satu. (Eh, aku memang tak tahu kali ya?) Hanya saja dari ibadah tadi pagi aku berpikir kalau di setiap gereja itu harus ada pemusik yang mengerti musik dan musik gereja, dan bisa memainkan musik tanpa memakai style bawaan keyboard. Sejak belajar tentang musik gereja, entah kenapa aku termasuk orang yang agak anti dengan penggunaan beatbox (atau apalah namanya itu!) dalam ibadah. Apalagi pemusiknya showy tak penting dengan terlalu panjang memakai intro tak penting dan juga interlude. (The last few lines was a sok-tahu view from someone who
can't even play any music instrument.)
Soal multimedia juga. Kalau memakai slide, orang yang mengoperasikan komputernya haruslah orang yang mengerti menampilkan di layar from current slide, bukan dari awal lagi.
Tentang persembahan pujian: kalau Anda berminat memberikan persembahan pujian, alangkah baiknya menyesuaikan lagu yang akan dinyanyikan dengan tema ibadah atau kalau perlu dengan khotbah. Makanya setiap orang yang ingin menyampaikan persembahan pujian juga seharusnya melalui penyaringan oleh penyelenggara ibadah.
Terlihat sangat mudah sebenarnya untuk mempersiapkan ibadah. Terlihat sangat mudah pula menuliskan apa yang baik (menurutku) ada dalam proses mempersiapkan ibadah. Coba Anda memintaku untuk menjalankan apa yang aku tuliskan! Dan aku pun akan menolak, karena aku pun sebenarnya tak tahu apa-apa.
Aneh kan? Menulis sesuatu dari ketidaktahuan.
Hal paling aneh hari ini adalah: aku menolak ikut dengan keluarga kakakku untuk bertamasya di Waterbom. Aku memang belum pernah ke sana. Hanya saja aku sedang aneh. Tak bisa berenang menjadi alasanku. Flu dan lebih ingin istirahat menjadi tambahan alasan. Alasan sebenarnya: ingin menghemat. (Aneh kan? Wong bukan pakai duitmu lho, Von!)
Keanehan hari ini ditambah lagi dengan aku sangat senang saat Indonesia kebobolan dua gol di Malaysia. Aku mematikan televisi, lalu mendudukkan pantatku di atas lantai di dekat meja tempat komputer aku mengetik tulisan ini. Wait a minute. Let me get
this straight. Aku sangat senang Indonesia bisa bermain
bagus. Aku hanya tak ingin Indonesia juara. Entar ada yang sombong. Semoga di Gelora Bung Karno Indonesia bisa menang. Tetapi tidakjuara.
Aneh kan?
Den Abed Residence
26 Desember 2010
21:27
PS: kalau Anda sampai membaca bagian ini, berarti Anda ikut-ikutan aneh.
Saturday, December 25, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)