Pages

Friday, August 31, 2012

"Be Nice, Don't Lie"

Apakah yang terpenting dari sebuah film? Tentu setiap orang memiliki jawaban yang berbeda. Itulah sebabnya pilihan orang untuk menonton apa bisa berbeda-beda. Ada yang suka menonton film action, ada pula yang suka menonton film komedi romantis. Ada yang suka menonton film drama, ada pula yang tidak. Ada yang suka menonton film horor Indonesia, ada pula yang suka menonton film televisi a.k.a FTV. Selera kita menonton film apa menunjukkan apa yang terpenting dari sebuah film.

Saya ingat ketika film The Raid diputar banyak orang yang memuji film itu. Saya termasuk yang tidak terlalu suka film itu. Aksi yang ditampilkan dan juga efek yang ditampilkan film itu memang hebat. Hanya saja film itu tidak punya cerita. Penonton film itu hanya disuguhi rentetan pertarungan yang diberi jeda sejenak. Saya pikir orang seharusnya lebih suka menonton WWE yang disertai drama dibanding film itu. Tentu untuk orang yang memang suka melihat yang sadis, film itu sangat bagus. Tetapi kembali lagi, itu kembali ke selera masing-masing. Dari ketidaksukaan saya terhadap film The Raid yang tidak menampilkan cerita di dalam filmnya, jelaslah saya lebih suka sebuah film yang memiliki cerita. Saya sering membandingkan film Transporter, yang juga film action, dengan  film The Raid. Film Transporter lebih enak ditonton karena ada cerita di dalam film itu.

Secara umum, saya suka film yang memiliki cerita. Saya termasuk yang menganggap cerita termasuk hal yang terpenting dari sebuah film. Saya sudah banyak menonton film. Hanya saja film yang paling saya suka adalah film berdasarkan kisah nyata. Film berdasarkan kisah nyata memiliki pesan yang menarik selain ceritanya merupakan cerita yang pernah terjadi. Satu film berdasarkan kisah nyata yang paling saya ingat judulnya adalah Radio. Lalu, ada banyak film berdasarkan kisah nyata lainnya yang saya lupa judulnya, tetapi saya tak akan menolak untuk menonton ulang film itu.

Malam ini, saya menonton sebuah film dokumenter di HBO Signature. Film itu berjudul Talhotblond. Film dokumenter itu dibuat berdasarkan kisah nyata tentang sebuah pembunuhan. Pembunuhan itu bukan sebuah pembunuhan biasa, makanya sampai dibuat filmnya. Pembunuhan itu terjadi karena terjadinya sebuah cinta segitiga di internet. Cerita di dalam film itu memberikan pesan yang luar biasa dari beberapa orang yang diwawancarai untuk pembuatan film itu. Salah satunya yang saya catat tadi, dan sudah saya post ke Twitter, adalah pernyataan dari Rex Beaber -seorang psikolog-, "the biggest human addiction in the world is love." Dan juga, "be nice, don't lie."

Saya tidak akan menceritakan cerita lengkap dari film itu. Hanya saja, saya pikir Anda yang membaca ini punya satu film yang mungkin harus Anda tonton.

Tangerang Selatan
31 Agustus 2012, 21:59

Thursday, August 30, 2012

Siapa yang Menjatuhkan?

Aku baru saja mendengar sebuah suara. Suara itu seperti sebuah suara perempuan. Pernah menonton film horor yang terkadang menyertakan suara menyeramkan? Suara yang aku dengar tadi mirip suara dalam film horor itu. Suara itu memang hanya terdengar sekali. Hanya saja, saya lebih memilih untuk cuek.

Saya memang termasuk orang yang cukup cuek terhadap hal yang
menyeramkan. Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada yang namanya setan atau hantu atau sejenisnya. Saya hanya belum pernah bertemu langsung, melihat langsung, merasakan langsung keberadaan mereka.

Saya pernah menjadi satu-satunya pengunjung di perpustakaan sekolahku. Waktu sudah mendekati pukul 21.00, waktu untuk perpustakaan tutup. Penjaga perpustakaan waktu itu adalah seorang mahasiswa, adik kelasku. Iseng, saya bertanya tentang hal yang menyeramkan di perpustakaan dan apakah dia takut. Dia lalu bercerita kalau dia sudah pernah melihat cahaya putih yang sekilas melintas di antara lorong yang terlihat dari pintu perpustakaan. Membayangkan itu, saya sebenarnya cukup takut. Bagaimana kalau saat itu malah muncul, pikirku.

Sambil bercerita, sambil saya juga iseng mengaku tak pernah merasakan yang menyeramkan, teman saya itu mematikan semua lampu perpustakaan. Lalu, tiba-tiba sebuah suara muncul dari ruangan administrasi perpustakaan. Karena saya merasa tidak perlu ada yang ditakutkan, saya malah berjalan ke arah ruangan itu. Entahlah, saya bisa saja dibilang sok pemberani. Saya malah iseng bertanya, "siapa itu?" Dengan rasionalisasi, saya langsung bilang ke teman saya, "paling ada benda yang jatuh." Siapa yang menjatuhkan?

Tangerang Selatan
30 Agustus 2012, 23:57

Wednesday, August 29, 2012

Kesal

Apa yang kau lakukan ketika kau kesal?

Menunjukkan kekesalan sebenarnya lebih mudah dengan kata-kata. Hanya saja, kekesalan pun dapat ditunjukkan dengan ekspresi muka.

Saya tadi kesal kepada Eydro, keponakan saya yang baru berumur 3 tahun. Biasanya saya bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan kekesalan saya kepadanya lewat nada bicara yang meninggi ataupun lewat raut wajah yang menunjukkan kekesalan. Hanya saja, hari ini rasanya ada sekitar dua sampai tiga kali saya menunjukkan rasa kesal saya terhadap dia. Saya kesal karena dia berusaha memainkan ponsel saya yang baterainya sedang diisi ulang, kesal karena dia memainkan kabel charger netbook saya, dan kesal karena dia mencoba menekan-nekan keyboard netbook saya saat saya sebenarnya ingin mengetik.

Saya yakin dia sudah mengerti ekspresi rasa kesal orang terhadap dia. Saat dia memainkan ponsel saya, saya hanya membuat ekspresi wajah kurang senang. Saat dia memainkan charger netbook saya, saya bicara dengan nada cukup tinggi, "Eydro, jangan dimainin kabelnya." Saat dia menekan-nekan keyboard netbook saya, saya mematikan netbook saya.

Saya yakin juga dia tidak senang kalau ada yang merasa kesal terhadap dia. Dia sempat terdiam saat saya membuat ekspresi wajah kurang senang. Dia lalu marah dan hampir merengek karena saya mematikan netbook saya. Untunglah, saya cukup sadar tidak baik membuat keponakan saya yang lucu itu untuk menjadi kesal juga karena kekesalan saya. Setelah dia cukup sadar kalau saya kesal, saya langsung berusaha mengalihkan perhatian dia supaya dia tidak perlu kesal juga.

Saya jadi ingat sebuah ayat Alkitab, "janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu." (Efesus 4:26b.) Ayat itu memang tidak terlalu relevan dengan kekesalan saya. Hanya saja, mengingat kekesalan saya terhadap Eydro hari ini, saya akan berusaha untuk tidak mudah kesal terhadapnya. Berlama-lama kesal terhadap Eydro? I bet you can't.

Tangerang Selatan
29 Agustus 2012, 23:58

Tuesday, August 28, 2012

Marah Kepada Allah

Pernah dengar cerita tentang Yunus? Yunus diutus ke Niniwe untuk mengabarkan bahwa kota itu akan ditunggangbalikkan jika penduduk kota itu tidak bertobat. Singkat cerita, orang di Niniwe berpuasa dan Allah berkenan atas pertobatan orang Niniwe . Hukuman tidak jadi dilaksanakan.

Lalu, apa reaksi Yunus? Dia malah tidak senang. Dia malah berdoa kepada Allah: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup." (Yunus 4:2-3.)

Baiklah, ada banyak cara memandang cerita di kitab Yunus. Saya sampai sekarang tertarik dengan cara Pak Ioanes Rakhmat memandang cerita di dalam kitab ini. Cara tersebut tentu akan tak terlalu disukai oleh banyak orang. Dongeng?

OK. Cerita tentang Yunus yang saya baca tadi pagi ini membuat saya berpikir. Apakah memang kita tidak akan mungkin seperti Yunus? Yunus tidak senang karena Allah akhirnya mengampuni orang Niniwe bertobat. Lalu, cerita tentang orang Niniwe ini bisa juga kita tafsirkan bahwa Allah juga mengasihi orang yang bukan bangsa pilihan-Nya (yang menurut Perjanjian Lama di dalam Alkitab adalah bangsa Israel.) Bagian terakhir ini membuat saya bertanya, apakah saya nantinya akan marah kepada Allah bila orang yang ternyata tidak percaya kepada Yesus bahkan beragama Kristen pun tidak berada di dalam surga milik Allah versi yang saya percayai?

Duh.

Tangerang Selatan
28 Agustus 2012, 23:46

Monday, August 27, 2012

Aku Kangen Kamu

Pagi ini aku bermimpi. Ada kamu di dalan mimpiku itu. Sudah berapa lama kita tak berjumpa? Sudah lama kan ya? Lalu, kenapa kamu hadir di mimpiku ya?

Mimpi itu katanya bunga tidur. Ada pula yang bilang mimpi itu representasi dunia bawah sadar manusia. Lalu, apakah kamu hadir di dalam mimpiku hanya untuk menghiasi mimpiku? Atau, kamu bisa hadir karena aku sedang kangen akan dirimu?

Ada yang aneh dengan dirimu di mimpiku. Kamu cantik, di luar mimpiku. Di mimpiku, kamu cantik, tetapi kamu sudah terlihat tua. Jujur, kamu tak terlihat cantik di masa tuamu, di dalam mimpiku. Yah mungkin kamu akan begitu di masa tuamu nanti. Hanya saja, cantiknya wajahmu bukanlah yang utama. Bukan?

Hai, Kamu. Aku kangen padamu. Rasanya aku tak perlu mengatakannya padamu. Mungkin aku akan mengatakan tentang ini nanti saja, di masa tuamu. Saat itu tiba, aku berharap kau tak seperti di dalam mimpiku.

Tangerang Selatan
27 Agustus 2012, 23:30

Sunday, August 26, 2012

Saya Senang Hari Ini

Ketika tak ada waktu banyak tersisa, aku bisa dengan mudahnya membuat sebuah tulisan pendek di ponsel.

"Eydro senang hari ini?"
"Iya, Eydro senang hari ini."
"Eydro senang karena apa?"
"Eydro senang karena main di BP."

Percakapan itu tidak terjadi hari ini, tetapi memang pernah terjadi. Hari ini, saya yang malah senang karena Eydro, keponakan saya yang baru berumur 3 tahun. Dia menunjukkan banyak hal yang bisa membuat kami tertawa hari ini.

Nah, itu saja isi tulisan singkatnya.

Copy, lalu paste di Gmail, lalu kirim. Satu Post Sehari untuk hari ini selesai.

Tangerang Selatan
26 Agustus 2012, 23:47

Saturday, August 25, 2012

Nyamuk

Nyamuk. Apakah guna nyamuk di muka bumi ini? Apakah hanya untuk menjadi santapan cicak di dinding?

Nyamuk. Sudah berapa nyamuk yang kau bunuh malam ini? Tidakkah kau mengingat perintah untuk "jangan membunuh"?

Nyamuk. Kenapa kalau satu orang yang menemani sepasang orang yang sedang pacaran malam mingguan disebut nyamuk? Eh, memang begitu kan?

Nyamuk. Apa benar ada nyamuk di rumahku karena kamu malas bersih-bersih?

Nyamuk. Aku baru saja membunuh nyamuk yang sepertinya telah menghisap darahku. Apakah nyamuk itu sebenarnya vampir?

Nyamuk. Betapa malang nasibmu. Kenapa kau harus dibunuh? Padahal darah yang kau hisap tak sebanyak darah yang keluar dari tubuh seseorang saat donor darah. Ah, aku tahu. Seandainya suaramu tak mengganggu, dan gigitanmu tak akan membuat bekas, aku pikir banyak yang tak keberatan kau berada di dekat mahkluk bernama manusia.
Maka, wahai kau nyamuk, cobalah berevolusi!

Tangerang Selatan
25 Agustus 2012, 23:23