Pages

Showing posts with label makan. Show all posts
Showing posts with label makan. Show all posts

Tuesday, November 3, 2009

Aku Makan II

(aku melanjutkan tulisan ini setelah menyantap makanan gratisan, sisa makanan di acara Sertifikasi Guru-guru Agama yang diselenggarakan di Aula STT Jakarta)

...lanjutan dari tulisan sebelumnya.

Makan saat sakit tentunya menjadi masalah buat kebanyakan orang. Dari masalah tidak selera, atau bahkan karena masalah perut yang menolak makanan. Saat sariawan atau ada gangguan di mulut pun kebanyakan orang akan terganggu dalam menyantap makanan. Hal itu tidak atau kurang berlaku padaku. Ini mungkin karena memang sudah sejak kecil aku tidak boleh tidak makan (kecuali dianjurkan demikian, misalnya pada waktu aku baru mengalami kecelakaan pada tanggal 26 Mei 1999) walaupun sedang sakit. Memuntahkan makanan pun sepertinya bukan pilihan buatku, karena aku harus makan lagi (bukan yang aku muntahkan tentunya) supaya perut jangan sampai kosong. Begitulah adanya sehingga dalam keadaan sakit seperti apapun aku pasti bisa menghabiskan makanan yang sudah menjadi jatahku. Sariawan, penyakit yang pernah aku tuliskan di blog ini sebagai penyakit bulananku, pun tidak pernah menghalangiku untuk makan dengan normal.

Soal sakit dan makan, aku punya cerita bodoh. Aku termasuk orang yang tidak terlalu mau merepotkan orang lain. Suatu waktu di tahun 2006, aku sakit demam biasa. Sepertinya begitu. Walaupun tubuhku sudah lemas, aku membeli sendiri makananku dengan berjalan cukup jauh ke warteg atau warung penjual makanan terdekat. Sakit tidak sembuh, aku malah menjadi tambah sakit karena kurang terawat. Aku bahkan sampai divonis gejala tifus karena sakitku yang akhirnya cukup lama sembuh itu. Sejak itu, aku mulai tidak ragu untuk merepotkan orang lain untuk membelikanku makanan bila aku sakit.

Ah, aku mentok. Aku hanya bisa menulis seri "Aku Makan" ini hanya sampai di sini.

Perpustakaan STT Jakarta, Meja 2
3 November 2009
19:40

Monday, November 2, 2009

Aku Makan

Aku baru saja makan siang di kantin sekolahku. Aku hanya makan nasi putih dengan lauk sayur capcay dan telor dadar. Itu sudah cukup untuk membuat perutku kenyang.

Makan. Itu bukanlah aktivitas yang terlalu spesial buatku. Buktinya aku sering melewatkan makan pagi atau makan siang atau makan malamku. Aku juga tidak pernah terlalu memilih-milih makanan apa yang akan aku makan.

Aku sering melewatkan salah satu waktu makanku bukan karena penghematan, tetapi lebih ke arah malas. Atau, karena aku sering menunda-nunda, salah satu penyakitku. Walaupun begitu, aku jarang (kalau dibilang tidak pernah sepertinya berlebihan) merasakan maagku sakit.

Berbicara tentang maag, aku jadi ingat kapan pertama kali aku kena penyakit maag. 27 Juni 1999. Itu adalah hari di saat Bapak akan diantar ke pemakaman. Waktu itu makan siang, dan menunya adalah nasi, rendang, dan sayuran. Sewaktu makanan sudah kutelan, aku merasakan sakit di lambungku. Besoknya aku dan Mamak langsung memeriksakan diriku ke Rumah Sakit St.Elizabeth. Just in case ada luka di dalam perutku akibat kecelakaan yang mengakibatkan Bapakku dirawat di RS Vita Insani Siantar sebelum akhirnya dia meninggal. Dua hari berikutnya aku di-rontgen. Ternyata tidak ada keanehan di perutku. Dokter hanya menvonis kalau aku sakit maag. "Karena banyak pikiran," kata dokter. Aku bertanya dalam hati, "apa? Banyak pikiran?" Vonis dokter aku terkena penyakit maag membuatku selama 3 tahun duduk di SMU Negeri 1 Medan selalu harus membawa bekal a.k.a bontot ke sekolah. Itulah pula yang menyebabkan diriku diberi julukan Dewa Bontot di Buku Tahunan SMUNSA 2002.

Makan di fastfood restaurant sebenarnya bukan pilihan buatku ketika aku baru menginjakkan kakiku di Bandung. Setiap kali jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza sepulang mengikuti kebaktian di GII Dago, aku tak pernah terpikir untuk makan di McDonald. Bukan kelasku, pikirku saat itu. Cara berpikir seperti itu berubah ketika kakakku datang mengunjungiku. Dengan dialah aku pertama kali makan di McD BIP. Aku tidak ingat kapan tepatnya itu terjadi, tetapi setelah itu aku jadi tidak sungkan-sungkan lagi untuk makan di McD BIP dan rumah makan cepat saji sejenisnya.

Makan saat sakit tentunya...

bersambung

Thursday, December 27, 2007

Belum Makan

Kakak kerja (hari gini). Mamak ke kampung karena ada pesta pernikahan. Tinggallah gue sendiri di rumah.

Gue pun pergi ke warnet sekitar pukul dua belas lewat. Warnet Sukses ternyata gak sukses. Kecepatannya gak banget. Terpaksa pindah ke warnet yang waktu lalu aku pakai. Much better speed.

Nah, sekarang permasalahannya bukan masalah internet lagi. Gue belum makan.. Seharusnya gue masak sayurnya sendiri, tetapi karena ke warnet ini, gue belum masak dong.

Nah, setelah dari sini gue harus makan. Pertanyaannya, beli makan di mana? Yang manakah tempat yang menyediakan makanan enak di kampung yang hanya dalam 2 tahun terakhir ini aja gue kunjungi setiap libur Natal?

BPK atau apa ya?

Friday, July 20, 2007

Hidup dengan Coklat

hari ini gue hidup hanya dari sebatang coklat SilverQueen dan sebatang coklat ChunkyBar



siapa bilang manusia tidak bisa hidup dari beberapa batang coklat saja?

tapi perutku sekarang sakit...


Thursday, February 1, 2007

1 Februari 2007 (ku yang Hilang)

Sekitar jam 12.30 tengah malam, gue dan Jeremia membeli makan di gang dekat kontrakan. Makan, lalu karena sudah lelah seharian belum ada istirahat, gue tidur.


"Gak kuliah lo, Tho?"
"Bukannya jam pertama itu MPT?"
"Bukan, jam pertama Dogmatika."


Gue lihat jam dinding di kamar gue. 07.35.


"Aku gak kuliah deh, Bang. Udah telat."


Gue pun melanjutkan tidurku.
Sekitar pukul sembilan, gue terbangun. Turun ke bawah mau ke kamar mandi. Sikat gigi. Lalu gue masuk ke kamar Hans yang terletak di bawah. Merebahkan diri di atas kasurnya yang lebih empuk (menurutku - tetapi Hans malah bilang kasur gue yang lebih empuk). Tertidur hingga jam 12.


Terbangun. Lalu naik lagi ke kamarku yang berada di lantai 2. Dan... Tidur lagi.


Gue benar-benar bangun setelah ada teman gue yang balik dari kampus.


Sekitar jam 1 siang, gue udah nongkrong di bawah, di kamarnya Armand. Setelah itu, gue hanya duduk di sana. Menghabiskan waktu dengan bermain Cool Pool -game bilyard- bersama anak nongkrong kontrakan gue hingga...


... hingga jam 12 malam pun tiba lagi.


Dan genap sudah gue 24 jam tanpa makan -minum juga hanya beberapa gelas-. (Ini pertama kalinya di Jakarta. Dulu di Bandung sudah sering.)


"Bang, nasi gorengnya dua. Mie gorengnya tiga." Gue memesan makanan ama tukang jualan makanan yang sepertinya kurang kerjaan banget masih keliling sekitar pukul 1 malam.


Akhirnya gue makan juga bersama anak nongkrong kontrakan yang lain..


..lalu tidur..


"Bangsatttttttt!" teriakku di dalam kepalaku. Gue bangun disambut dengan air yang menetes dari balik asbes kamarku dan membasahi beberapa bagian kamarku.


Jam sudah menunjukkan 7 lewat 10. Kupaksakan ke kampus. Eh, ternyata dosennya gak ada. (Untung juga gue datang. Soale, diabsen ama asistennya.)


Gue pun pergi ke perpustakaan bermaksud mengerjakan tugas Ibrani I yang harus dikumpul sebelum pukul 11. Aku mengambil koran lalu duduk. Gue meletakkan koran di atas meja. Dan.. barulah gue sadar kalau hari ini tanggal 2 Februari 2007 waktu melihat tanggal yang tertera di koran The Jakarta Post yang terletak di mejaku itu. Gila, pikirku. 1 Februari ku hilang..