Pages

Showing posts with label televisi. Show all posts
Showing posts with label televisi. Show all posts

Monday, May 29, 2006

Empat Mata yang Tidak Sensual

Gue seharusnya udah buat sebuah paper mengenai RUU-APP. Kalo dalam bahasa Inggris, kalimat itu bisa dibuat lebih jelas pengertiannya. I should have made a paper about RUU-APP. But I haven't. Dan sepertinya memang gak akan pernah membuat tuh paper.

Gue gak ngurus lagi kalau ada berita mengenai RUU-APP. Tetapi, gue tadi nonton acara Empat Mata di TV7. Yang membawa acaranya adalah Tukul. Gue tahu acara ini juga karena tertarik iklan berjalan sewaktu menonton The Lord of the Ring - The Fellowship of the Ring. Isinya memang mengundang nafsu cowok. Gue gak gitu ingat isi iklan berjalan itu. Tapi ada kata sensualitas, Rahma Azhari, dan Aline.

Gue jamin (walaupun bukan jaminan uang kembali) hampir semua cowok yang udah pernah tahu gimana Rahma Azhari pasti pengen nonton tuh acara. Gue sendiri memang sudah sering ngeliat nih cewek di acara-acara komedi gak jelas di beberapa stasiun televisi. Dari setiap penampilannya di acara komedi itu, yang ditonjolkan dari dia itu malah tubuhnya. Gue ingat komentar teman gue dulu di Bandung kalo ngeliat dia di TV. "Body-nya itu lho. Tapi mendingan kakaknya lah. Sarah Azhari."

Kalau Aline, gue tahu nih cewek waktu pernah lihat di majalah FHM ada rubrik Ask Aline. Terus, dia sendiri pernah masuk koran Kompas hari Minggu. Di rubrik Sosialita. Gue ingat kalau di dalam rubrik itu diceritakan kalau Aline termasuk di salah satu dari 100 cewek terseksi versi majalah FHM. So, gue udah ngerti nih acara maksudnya mau lari kemana.

Gue ganti-ganti saluran televisi yang gue tonton. Di jam yang sama dengan acara Empat Mata itu ada acara Fear Factor edisi Miss USA. Terus, ada juga acara Superbike di Global TV. Sewaktu kembali melihat TV7, gue langsung nonton dengan seksama. Rahma Azhari dengan pakaiannya yang tidak menutupi bagian atas tubuhnya dengan sempurna itu telah membangunkan sesuatu dari tubuh milik laki-laki yang menonton acara itu. Paling tidak milik saya ikut bangun. (Maklum, gue laki-laki normal.) Ah, susah menceritakannya.

Gue bingung tuh acara dibuat di jam 10 malam dan rating(?) acaranya dibuat SU atau Semua Umur. What the hell is going on? Acara seperti itu dibuat untuk Semua Umur? Pantes aja banyak ormas-ormas yang ingin RUU-APP segera disahkan.

Secara keseluruhan, acara Empat Mata di TV7 yang gue tonton tadi garing banget. Maksa banget. Apalagi inti dari acara malam itu yang sebenarnya membicarakan masalah sensualitas malah ngaco gara-gara Tukul malah sibuk beradu ejekan ama Omas.

Walaupun garing, ada juga hal yang bisa dijadikan bahan untuk diomongin. Rahma Azhari tadi ngomongnya cewek seksi itu lebih dilihat dari inner beauty-nya. Tetapi, Aline malah bilang kalau seorang cewek itu dikatakan seksi dilihat secara fisik. Terus, yang mana dong yang benar di antara dua selebritas ini?

Asrama Putra STTJ, Dempo 14, Jakarta
1:16
29 Mei 2006
DAY8063

Wednesday, May 3, 2006

Presiden Mengesahkan RUU APP

Akhirnya Presiden mengesahkan Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) menjadi Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengesahkan RUU tersebut tadi pagi di antara sekitar pukul 00.47 sampai pukul 05.17...





...dalam mimpi saya.






Apakah mimpi saya akan menjadi kenyataan?
Nantikan jawabannya di TV kesayangan Anda!


Asrama Putra STTJ, Dempo 14, Jakarta
09:00
4 Mei 2006
DAY8038

Tuesday, June 21, 2005

"Pinch me! Did I really see this?"

Kalau kamu nonton F1 di GlobalTV Senin dini hari yang lalu, bisa saja kamu dengar juga komentar dari komentator acara live tersebut -berbahasa Inggris- setelah acara podium yang tidak biasanya. "Pinch me! Did I really see this?"


Wajar saja komentatornya bicara seperti itu. Dan untuk pagi itu, aku memang menonton dua tayangan acara olahraga yang dalam keduanya ditemukan sesuatu yang lain dari yang biasanya. Ketika tayangan acara live F1 di Global TV mau dimulai, aku memindahkan channel TV ke Global TV setelah kami selesai menonton tayangan pertandingan sepakbola antara Jepang dan Yunani yang dimenangkan oleh Jepang 1-0. Di layar ditayangkan urutan start. Aku memang tidak tahu urutan start karena malam sebelumnya tidak menonton kualifikasinya. Lalu sempat diperlihatkan juga bos F1 -gak jelas apa Bernie Ecclestone atau Max Mosley- sedang berbicara dengan direktur teknis tim Ferrari, Jean Todt. Aku merasa itu merupakan suatu hal yang wajar. Lagipula setahuku bos F1 itu dekat dengan tim Ferrari.


Warm-up lap pun dimulai. Belum terlihat suatu kejanggalan. Ketika di akhir warm-up lap satu per satu pembalap membawa masuk mobil balapan mereka ke dalam pit lane, barulah terlihat keanehan itu. Awalnya aku pikir yang masuk itu -yang aku lihat di layar TV sebelumnya hanya Truli dan Alonso- ingin langsung melakukan pit stop atau start dari pit stop. Tapi ternyata tidak. Mobil para pembalap yang masuk ke pit lane tadi malah dimasukkan ke dalam garasi. Dan di garis start, hanya tersisa 6 pembalap. Pembalap tersebut hanyalah pembalap yang timnya menggunakan ban Bridgestone. "Balapan apaan ini? Masa cuma 6 aja yang start." komentar temanku Ben. Dan setelah start dimulai, mulailah kami berspekulasi apa yang terjadi. "Karena peraturan kali, makanya hanya yang pake ban Bridgestone aja yang boleh start." ucapku berlagak tahu.


Tim F1 tahun ini yang memakai ban Bridgestone hanyalah Ferrari, Jordan Toyota, dan Minardi. Yang dua terakhir adalah tim papan bawah yang tidak bisa bersaing dengan tim lainnya. Untuk tahun ini, praktis hanya Ferrari saja tim F1 yang memakai ban Bridgestone yang dikatakan bisa unjuk gigi, walau hanya sedikit. Ferrari tahun ini tidak sebagus tahun-tahun sebelumnya disebabkan salah satunya faktor ban yang tidak mendukung. Ban Bridgestone kurang ngegrip, begitulah komentar komentator acara F1 Global TV.


Walaupun sudah dapat dipastikan yang akan finish 1-2 itu adalah tim Ferrari, aku masih aja nonton terus acara itu. Aku ingin dengar komentar dari komentator -yang bahasanya sebenarnya aku tidak begitu mengerti- tayangan live acara F1 itu. Kalau biasanya komentar mereka adalah seputar race yang sedang berlangsung, kali ini mereka mengomentari keanehan yang sedang terjadi. Mereka juga coba menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi. Reporter mereka yang biasanya mewawancarai pembalap yang berhenti di tengah balapan, kali ini mewawancarai pembalap dan bos tim yang pada tidak ikut balapan. Ada juga penonton acara itu yang menonton langsung di sirkuit Indianapolis itu yang diwawancarai. Mereka merasa rugi datang jauh-jauh hanya untuk menonton 6 pembalap. Pokoknya sepanjang balapan, yang dikomentari lebih banyak mengenai keanehan yang terjadi, bukan balapan itu sendiri.


Selagi menonton F1, tayangan sepakbola Piala Konfederasi antara Brazil-Meksiko juga ditayangkan di SCTV. Aku pun pindah-pindah channel untuk bisa mengikuti perkembangan kedua acara tersebut. Di acara sepakbola ini juga terjadi suatu keanehan. Meksiko mendapatkan hadiah tendangan penalti karena pemain belakang Brazil -Roque Junior- "memeluk" Borgetti -pemain Meksiko- dan jatuh di kotak penalti. Tendangan penalti pun dilakukan oleh Borgetti. Gol. Tapi harus diulang karena wasit melihat ada pemain Meksiko yang bergerak lari masuk ke dalam kotak penalti ketika bola belum ditendang Borgetti. Tendangan penalti diulang. Tendangan penalti kedua ini tidak gol karena dapat ditepis oleh Dida. Tapi ini juga mesti diulang lagi. Kali ini pemain Brazil yang masuk terlalu cepat ke dalam kotak penalti. Ketika tendangan penalti dilakukan untuk yang ketiga kalinya, bola eksekusi penalti yang dilakukan Borgetti mengenai mistar gawang. Tidak gol. Ini mungkin tidak aneh. Tapi paling tidak untuk aku dan Dimas, teman sekosku yang sempat menonton denganku, kejadian itu termasuk aneh.


Balapan F1 pun selesai ketika pertandingan Brazil-Meksiko masih di menit-menit awal babak kedua. Dari ketiga pembalap yang naik podium -satu pembalap lagi dari tim Jordan, yaitu Monteiro-, hanya pembalap Jordan itu aja yang terlihat senang. Maklum, itu adalah podium pertamanya dan timnya. Schumacher yang biasanya melompat di podium kalau dia mendapat posisi 1, bahkan terlihat hanya menerima pialanya tanpa mengangkatnya ke atas. Padahal itu adalah kemenangan pertama buat dia di tahun ini, dan ke-84 sepanjang karirnya. Di post race press conference pun mereka menyatakan kemenangan seperti itu bukanlah kemenangan yang Schumacher dan Barrichelo inginkan. Dan mau tahu komentar Monteiro, "I'm not as sad as them.."


Aku pun terus menunggu komentar dari komentator acara F1 yang berbahasa lebih aku mengerti dari Global TV. Host acara itu adalah Hilbram Dunar. Dia ditemani oleh seorang komentator -biasanya host manggilnya Bung Arif- yang sejak aku suka nonton F1 di TV -sejak 1999- dia sudah sering tampil sebagai komentator. Dan dari penjelasannya barulah aku mengerti yang terjadi di Indianapolis bukanlah karena adanya kolusi antara tim yang memakai ban Bridgestone dengan petingggi F1, tapi murni karena faktor produsen ban Michelin yang tidak berani menjamin keselamatan pembalap kliennya dengan ban yang sudah mereka pakai. Selain itu permintaan pembuatan chicane di tikungan 13 atau tikungan terakhir tidak dapat dipenuhi oleh FIA.


Setelah menonton F1 dan sedikit komentar itu, aku pindah lagi ke SCTV untuk menonton Brazil-Meksiko yang akhirnya dimenangkan oleh Meksiko hanya dengan satu gol. Gol itu dimasukkan oleh Borgetti melalui sundulan menyambut tendangan sudut yang aku tidak perhatikan diambil oleh siapa. Kalau mau menyalahkan siapa gol itu bisa terjadi, aku rasa orang yang bisa disalahkan adalah Roque Junior -pemain Brazil yang paling tidak disukai oleh temanku Timbul- yang tidak berhasil menjaga dengan baik Borgetti.


Setelah selesai menonton kedua tayangan aneh itu, aku pun ikut-ikutan berkomentar sama dengan komentator F1 -the English one-. "Pinch me! Did I really see this?"

Tuesday, March 8, 2005

Undang-Undang Dokter

Tadi siang waktu aku keluar dari kost-kostanku, aku ngeliat sekilas iklan (antara di TransTV ama Metro TV) tentang program acara mereka yang mau ngebahas tentang seorang gadis yang meninggal karena malpraktek. Lagi? Mungkin pertanyaan ini cocok banget dilontarkan karena udah sering banget kejadian yang sama terjadi, tapi tak pernah ada dokter yang dianggap melakukan malpraktek dinyatakan bersalah. Aku dulu pernah dengar berita/acara yang membahas mengenai malpraktek. Dan selalu mereka (dokter) dinyatakan telah melakukan segala sesuatunya sesuai dengan prosedur. Dan sepertinya mereka itu gak akan pernah deh dinyatakan bersalah karena mereka mungkin sudah menganut Undang-Undang Dokter. Ini sebenarnya nyontek dari Undang-Undang Senior* yang dulu waktu aku baru mau masuk SMU dibacain ama seniorku di depan kelas.

Undang-Undang Dokter


Pasal 1

Dokter tidak pernah salah.

Pasal 2

Kalau dokter salah, tinjau kembali pasal 1.

Mungkin sebaiknya undang-undang ini diajukan ke DPR dan disahkan, jadi ketika ada kejadian malpraktek (lagi) keluarga yang jadi korban gak usah cape-cape lagi mo nuntut dokter. Wong dokter gak pernah salah.


* : kata "dokter" dalam Undang-Undang Dokter di atas tinggal diganti ama kata "senior"