Pages

Tuesday, July 10, 2007

What am I doing here?

What am I doing here?
It's 9:38 pm.
Sign in to Yahoo Messenger, download some emails, and check Multiply and Friendster.
That's all?

What am I doing here?

Aku Senang M. Rahman Kalah

Hari Sabtu lalu ada pertandingan tinju antara M. Rahman (Indonesia) dan Florante Condes (Filipina) ditayangkan di RCTI. Bagi M. Rahman pertandingan itu adalah untuk mempertahankan gelar juara dunia IBF kelas teringan(?), sedangkan bagi Condes adalah usaha untuk merebut gelar juara dunia dari Rahman.

Ronde pertama berlangsung tidak seru karena kedua petinju seperti sama-sama tidak berniat tanding. Baru ronde kedua pertandingan mulai seru. Aku yang suka memindah-mindahkan channel akhirnya melewatkan momen Condes membuat Rahman jatuh dan dihitung oleh wasit. Sewaktu mendengar komentator -yang terlalu memihak Rahman- mengatakan kalau di ronde kedua ternyata Rahman dijatuhkan Condes, betapa senangnya hatiku. Aku pun bersorak sewaktu pukulan-pukulan Condes banyak mengenai wajah Rahman di ronde ketiga dan keempat.

Ronde-ronde berikutnya ternyata malah Condes yang dihajar balik oleh Rahman. Sial, pikirku. Masa Rahman yang menang? Di ronde ke-10 aku pun bersorak lagi sewaktu Condes berhasil menjatuhkan Rahman lagi walaupun bukan karena kuatnya pukulan yang mengenai kepala Rahman, melainkan karena keseimbangan Rahman yang goyah.

Mendekati ronde-ronde terakhir, aku terpengaruh komentar-komentar komentator -yang sudah aku bilang terlalu memihak Rahman- yang membuatku tidak yakin kalau Condes bisa menang. Apalagi Condes memang lebih banyak bertahan daripada menyerang Rahman. Mana serangan pukulan Rahman banyak yang mengenai wajah Condes.

Setelah ronde ke-12 selesai, aku langsung pindah channel melihat acara lain. Dan sewaktu kembali ke RCTI, aku melihat kedua petinju terlihat senang, masing-masing menawarkan diri kepada para wartawan untuk difoto. Tak ketinggalan Menpora juga ikutan foto bareng Rahman dan pelatih Rahman.

Kemudian pembawa acara mulai bicara. Bla..bla..bla.. dan kemudian melihat kertas hasil penilaian juri dengan sedikit mengkerutkan dahinya. Hasil akhir, M.Rahman - Condes adalah 117-114 (juri Indonesia bukan?), 112-114 (ini juri Filipina - mendapat hoooo dari penonton), dan 112-114 (ini juri Thailand). Setelah angka terakhir dibacakan, Condes langsung
diangkat oleh para krunya.

".. and the new IBF minimumwheight champion winning by split decision (?) is Florante Condes..."

Ah, senangnya. M. Rahman akhirnya kalah. Bukankah seharusnya aku mendukung petinju Indonesia? Aku memang seharusnya mendukung M. Rahman kalau saja aku tidak menonton Lensa olahraga di ANTV di malam sebelumnya. Condes sewaktu diwawancarai mengatakan kalau dia akan menutup mulut besar Rahman. Oh, jadi M. Rahman bermulut besar toh? Entah itu hanyalah pendapat Condes yang berlebihan, tetapi pernyataan Condes itulah yang membuat aku lebih suka Rahman kalah. Aku tidak suka orang yang bermulut besar. (Tetapi aku sekarang menjadi bertanya-tanya, apa benar M. Rahman bermulut besar seperti yang dinyatakan oleh Condes? Kalau ternyata salah, aku akan berbalik untuk mendukung Rahman di rematch Desember nanti.)

Faktor lain, lepas dari mulut besar, mengapa aku lebih suka M. Rahman kalah adalah munculnya Menpora di arena tinju itu. Untuk apa sih dia muncul? Apa sih perannya bagi M. Rahman sampai dia harus naik ring?


Olahraga Indonesia yang Menyedihkan
Aku masih merasa sedih kalau mengingat nasib seorang peraih medali perunggu Asian Games dari cabang binaraga. Sudah berlatih dengan biaya sendiri -sampai puluhan juta rupiah-, sewaktu tanding tidak ada satu pun dari KONI atau siapapun dari kontingen Indonesia yang menonton untuk memberi dukungan. Padahal, menurut si atlit yang matanya terlihat masih basah sewaktu diwawancarai RCTI, dukungan penonton juga dapat mempengaruhi penilaian juri. Menyedihkan, bukan?

Saturday, July 7, 2007

72 hari lagi..

ternyata postingan gue berjudul "89 hari lagi?", salah euy..
seharusnya waktu itu jumlah harinya dikurangi 6

dan hari ini tinggal 72 hari lagi..

Tuesday, July 3, 2007

semalam gue bisa tidur

Akhirnya semalam gue bisa tidur. Walaupun gue cuma tidur suri (gak pernah dengar istilah ini kan?), yang penting gue gak bergadang gak jelas. Awal yang baik untuk menghentikan si insomnia keparat.

Monday, July 2, 2007

paling kecil, paling berkuasa


ngeliat foto ini di album fotonya kakak gue, gue jadi inget slogan di rumah, bahkan sewaktu Bokap masih ada.. "yang paling kecil adalah yang paling berkuasa." yang paling kecil di sini bukanlah gue, yang merupakan anak paling kecil.. lihat saja di foto ini, siapa yang paling kecil!!


Hai Gadis dan Girlfriend

Samsons dan Avril Lavigne sama-sama punya lagu buat orang-orang yang pedenya tinggi amat. Samsons dengan lagu "Hai Gadis" dan Avril Lavigne dengan lagu "Girlfriend." Mereka hanya berbeda dalam bahasanya dan juga cara penyampaiannya. Samsons memang Indonesia banget. Dia gak bilang kalau cowok yang lagi dipacari ama si gadis itu buruk. Dia cuma bilang "aku jauh lebih baik darinya." Berbeda banget dengan Avril Lavigne yang Barat banget. Avril berani bilang "she's so stupid, what the hell were you thinking? I don't like your girlfriend. I think you need a new one. I could be your girlfriend."

Lagu ini, menurut gue, memang buat orang-orang yang pedenya tinggi abis untuk bilang ke seseorang yang dia suka, tetapi sudah atau sedang punya "monyet", bahwa dia lebih baik dari si "monyet." Sayangnya, walaupun gue sedang suka seseorang yang lagi punya "monyet," gue pasti gak punya pede setinggi itu untuk bilang "aku jauh lebih baik darinya" atau malah bilang "he's so stupid, what the hell were you thinking?"

Paling gue berani bilang kalau gue lebih baik dari monyet, bukan dari "monyet"-nya dia. Hehehehe...

Insomnia jilid Entah

Insomnia kali ini adalah insomnia entah yang ke berapa kalinya. Seingat gue, di DC gue insomnia tidak kurang dari dua kali. Di Jakarta, ini bukan yang pertama kalinya.

Setiap kali gue gak bisa atau susah tidur di jam normal orang tidur, dalam jangka waktu lebih dari 1-2 hari, bukan karena sengaja mau bergadang, gue kategorikan hal tersebut sebagai insomnia.

Nah, insomnia kali ini malah muncul di saat liburan paling menyebalkan buat gue.

Semalam sewaktu jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, gue sebenarnya sudah berniat tidur supaya jam tidur gue normal kembali. (Sudah tiga hari ini gue susah tidur tepat waktu.) Gue berbaring di atas kasur tipis di kamar yang ditinggal pergi teman gue yang PKL di Toraja. Gue tutup mata gue dengan pikiran gue bakal bisa langsung tidur (.... ternyata tidak berhasil karena kepala gue gak bisa berhenti berpikir).

Teori yang mengatakan bahwa orang bisa terkena insomnia karena sedang punya banyak pikiran ternyata benar. Walau gue berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran itu dari kepala gue, sesaat sebelum kepala gue berhenti berpikir sudah datang pikiran baru. Yang ada di dalam pikiran gue di saat-saat seperti itu sebenarnya hanyalah khayalan-khayalan ataupun rencana-rencana. Gue pun mengambil kesimpulan kalau gue gak akan bisa tidur dengan KEPALA GUE YANG GAK BISA DIAJAK KERJASAMA ini.

Akhirnya gue memosisikan tubuh gue di depan televisi, menonton film gak tahu judulnya (mirip film Phone Booth). Sesaat kemudian burn DVD di DVD-writer yang baru dibeli Sabtu lalu. Kemudian berusaha lagi untuk tidur. Di kamar, di sofa, di depan televisi, tak satupun berhasil karena kepala gue tak berhenti berpikir plus diganggu nyamuk. Sampai jam menunjukkan pukul 5 lewat gue belum bisa tidur. Gue putuskan untuk menonton pertandingan Ekuador vs Meksiko. Jam 6 lewat gue beli makanan dan makan.

... baru setelah pertandingan Ekuador vs Meksiko yang berakhir dengan kemenangan Meksiko 2-0 gue baru bisa SANGAT NGANTUK dan akhirnya tertidur.

Dasar insomnia keparat. I'll hate you till death do us apart.