Pages

Friday, July 20, 2007

Hidup dengan Coklat

hari ini gue hidup hanya dari sebatang coklat SilverQueen dan sebatang coklat ChunkyBar



siapa bilang manusia tidak bisa hidup dari beberapa batang coklat saja?

tapi perutku sekarang sakit...


Thursday, July 19, 2007

living like european

Now I'm living like European, especially the people who live in GMT +1.

Here in Indonesia, I start to sleep at about 5-6 am, and wake up at about 12-1 pm. Just in the same time with the European.

taksi mewah

Taksi berwarna hitam berjudul Silver Bird bukanlah taksi biasa. Bukan dari segi ongkos aja sih yang membedakan. Mobil yang dipakai untuk taksi Silver Bird rata-rata mobil mewah, paling tidak untuk ukuran saat mobil itu masih baru.

Melihat mobil yang dipakai taksi Silver Bird sekarang sih sepertinya tidak menunjukkan kemewahan lagi. Menurutku sih karena mobilnya yang sudah model lama.

Tadi siang, gue langsung tersenyum takjub sewaktu sebuah taksi berjudul Silver Bird lewat dari hadapanku. Bukan bermerk Toyota Crown atau Saloon, tetapi bermerk Mercedes Benz seri C230. Gitu dong kalau memang masih mau menunjukkan kemewahannya!

Sepertinya tinggal menunggu waktu mobil bermerk Jaguar atau Ferrari dijadikan taksi oleh pemilik Silver Bird! Atau, ada yang mau mendahului Silver Bird?

ingatan payah

gue lagi cepet hilang ingatan..
gue juga sering kehilangan barang karena cepetnya gue hilang ingatan..
barang-barang gue yang sering hilang adalah kacamata, dompet, kunci, dan flashdisk drive..
gue sampe memaki-maki diri gue sendiri karena hilangnya barang-barang itu..

diriku baru lega sewaktu akhirnya menemukan barang yang hilang itu..
walaupun kadang gue masih memaki diri karena ingatanku yang semakin payah..

apakah karena libur panjang gak jelas ini ya?
ah, sepertinya memang sudah kebiasaan dari dulu deh..
jangan cari-cari alasan deh!

Wednesday, July 18, 2007

Blitz Megaplex dan Studio XXI

Gue cuma tahu Blitz Megaplex ini dari tulisan-tulisan beberapa orang di jurnal mereka, lihat di websitenya, dan juga iklan di koran. Tak kusangka kalau hari Minggu lalu gue akhirnya ke sana.

Sewaktu naik bus 213 tanpa bayar dari Semanggi, gue memutuskan untuk mencari tahu tentang beli 1 tiket gratis 1 -promo dari kartu Debit Mandiri- di Studio XXI, Plaza eX. Gue pun turun di halte Tosari. Setelah berjalan sedikit, gue pun berubah pikiran untuk mencoba berbelok kiri ke arah gedung yang memiliki tulisan besar Seibu di sisi gedungnya. Tak ada salahnya kan mencoba keliling-keliling dulu, pikirku.

Berjalan sekitar ratusan meter, gue pun tiba di depan pintu masuk Grand Indonesia. Setelah diperiksa sedikit oleh security, gue pun masuk ke dalam berkeliling-keliling. Toko yang buka masih sedikit. Jika dilihat dari toko-toko yang ada, Grand Indonesia sepertinya ditujukan bagi kalangan atas dan tentunya juga bagi kalangan menengah ke atas yang ingin bergaya kalangan atas. Selain untuk cuma melihat-lihat, gue juga sebenarnya pengen ngeliat gimana sih Blitz Megaplex itu.

Setelah berkeliling dari ground sampai lantai paling atas dengan menggunakan eskalator, gue tidak menemukan tempat nonton yang namanya Blitz Megaplex. Gue hanya menemukan di setiap lantai itu ada Seibu*. Turun lagi sampai akhirnya gue memutuskan untuk nyoba liftnya. Eh, di liftnya ditulis kalau Blitz itu terletak di lantai 8. Pantesan gak kelihatan sewaktu berkeliling sampai lantai paling atas yang ada Seibu-nya.

Gue pun naik ke lantai 8 dengan menggunakan lift, bersama sepasang kekasih yang ingin ke Blitz juga.


to be continued..**


* :gue penasaran mengapa namanya Seibu. apakah yang punya seibu atau satu ibu?
** : gue gak menyelesaikan tulisannya sekarang, tetapi aku lampirkan gambar yang merepresentasikan judul tulisan ini..

Monday, July 16, 2007

Die Hard 4.0

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Menurut saya, film Die Hard 4.0 ini merupakan satu-satunya film action paling menarik dari semua film yang pernah aku tonton di theater. Maklum aja, film yang gue tonton di bioskop itu baru 5 buah. 4 buah film sebelumnya adalah Garasi, World Trade Center, Kala, Ocean's Thirteen. Now, you know why it is the best action movie I ever watched in theaters?!

Gue gak akan buat resensinya di sini, karena sudah ada dua orang di daftar Contacts gue yang buat reviewnya juga. Check review buatan Tasya or review buatan Kang Bayu. Gue cuma mau tulis beberapa komentar tentang film ini dan terjemahannya yang agak kacau.

DOS atau Denial Of Service setahu gue (correct me if I'm wrong!) memang serangan hacker yang melumpuhkan komputer yang diserang sehingga tidak berfungsi lagi. Tetapi kok malah diartikan lain. Gue lupa euy dibuat apa artinya ama penerjemah film ini, tetapi gue agak risih aja waktu lihat terjemahannya. Anybody who remember what the translator of this movie translate "denial of service" is?

Gue pernah tulis di blog gue kalau gue suka film "based on true story" cs karena kisahnya yang mendekati kenyataan, tak terlalu mengada-ada seperti film yang ada di film Die Hard 4.0 ini. Tetapi memang cerita yang mengada-ada itulah yang dijual film action seperti Die Hard 4.0 ini bukan? Berikut adalah beberapa hal yang menurut gue mengada-ada:

Pertama, ledakan di rumah hacker yang ditunjukkan pertama kali bisa sampai menghancurkan seluruh rumah. Nah, mengapa ledakan di apartemennya si Matt Farrel tidak bisa merobohkan dinding dekat tempat Farrel dan McClane berlindung, padahal jaraknya tidak begitu jauh dari sumber ledakan? Oiya, cara meledakknya aja berlebihan. Mesti gitu nunggu hackernya tekan tombol Delete baru bomnya meledak? Bukankah ada cara yang lebih ampuh?

Kedua, kekacauan yang dihasilkan terlalu berlebihan dan bohong banget. Entah mengapa, menurut rasio gue kekacauan seperti itu tidak akan mungkin terjadi di tengah kota. Kecepatan mobil di tengah kota kan dibatasi. Lagipula, secara otomatis walaupun lampu sudah menunjukkan hijau, tetap aja setiap orang pasti melihat ke arah kiri maupun kanan apakah tidak ada mobil yang menerobos traffic light. (Ah, ini hanya perasaan gue aja kali ya karena tinggal di Indonesia.)

Ketiga, lots of action that's not gonna happen in real life. Helikopter terbang rendah di atas jalan raya di antara gedung-gedung. McClane menjatuhkan diri dari mobil tanpa patah tulang, lalu disambung dengan mobilnya bisa melayang tinggi setelah menabrak loket tiket tol(?). Penjahatnya jatuh dari helikopter juga fine-fine aja, padahal kan itu manusia biasa, bukan sejenis werewolf seperti di film Underworld. Ledakan di pembangkit listrik di Wayland(?) terlalu kecil. I mean, all the gases explode there and the explosion still can remain Farrel dan McClane's life and also the helicopter? Lalu ada serangan jet tempur yang mengenai hanya satu tiang penyangga, tetapi merubuhkan lebih dari 3 tiang dan jalan layang di depannya. Oiya, McClane menembak dada kirinya, tetapi tembus ke dada kanan si Thomas Gabriel, tepat di jantung. Ah, masih banyak lagi..

Namun demikian, bagi gue film ini layak mendapat empat bintang. Ceritanya gak jelek, aksi-aksi yang ditampilkan juga menegangkan, dan ada lucu-lucunya juga. Lagipula gue nontonnya di bioskop bagus sih..

Sunday, July 15, 2007

Pandora didn't think outside the box

Gue sekarang lagi ada di XL Center Plaza Semanggi.

Sehabis ngisi ulang pulsa sebesar Rp25000 (seharusnya 15 ribu doang, tetapi karena mereka bilang cuma punya kembalian 25ribu, terpaksa ngisi 25ribu), gue pake deh fasilitas internet gratis -yang gak bisa buka website selain Yahoo! dan XL- di dalam XL Center ini.

Dan sesuatu yang ingin aku tuliskan di sini sebenarnya keberadaan beberapa orang asing -orang Pakistan mungkin- yang sedang ada di dalam XL Center ini juga. They speak in their own language. Don't have any idea what they do here.

Sekian laporan saya, langsung dari XL Center Plaza Semanggi.
 
(Subject created by pushing the button "Subject" in Yahoo! Mail Beta. It doesn't have any relation with the content, right?)