Pages

Tuesday, March 4, 2008

Anti Porn

Entah mengapa, tiba-tiba internet di pepustakaan kampus gue sudah bisa diakses dari pagi. Biasanya akses internet diberikan setelah jam 4 sore hingga tutup jam 9 malam.

Akses internet memang sudah bisa dari pagi, tetapi masa buka alamat dalam situs Suara Pembaruan aja dianggap "inapropriate content"? Buka Inbox Multiply, buka Friendster, dan masih banyak alamat lain tidak bisa dilakukan. Yang muncul malah sebuah halaman dengan title di tab-nya "Anti-Porn." Isi halamannya diganti dengan gambar dan tulisan "Anti Porn. Inappropriate content. This page will be closed."

Kalau Friendster
dan Multiply sih menurut gue gak masalah. Akan tetapi kalau sampai alamat hasil pencarian di Google, hasil pencarian di situs berita, dan lainnya yang diperlukan untuk mencari informasi juga sampai tidak bisa dibuka, buat apa kami diberikan akses menggunakan internet? Apa cuma untuk check email? Cape deh...

Thursday, February 21, 2008

Khotbah Pertama I

Gue pengen tulis ini sejak Rabu dua minggu lalu. Hanya saja, karena kesibukan gak jelas, gue baru sempet sekarang menulisnya.

Ini cerita tentang pengalaman berkhotbah. Semester ini gue memang mengikuti mata kuliah Latihan Khotbah I. Mata kuliah ini diampu oleh Pak Wirakotan dan Pak Stephen Suleeman. Khotbah yang ingin disampaikan merupakan khotbah yang diambil dari Kitab Perjanjian Lama. Jenis khotbahnya adalah khotbah nas. Dua minggu setelah pertemuan pertama, satu per satu kami menyebut nomor antara 1-54 dan Pak Wirakotan menyebutkan perikop yang menjadi bahan khotbah setiap mahasiswa. Gue mendapat bagian I Raja-Raja 3:1-15.

Teks khotbah dipersiapkan selama satu minggu lalu diberikan kepada dosen sebanyak 3 rangkap. Lalu setiap orang akan berkhotbah sesuai dengan teks khotbahnya dengan jadwal yang tidak ditentukan. "Siapa yang mau minggu depan?" tanya Pak Wirakotan. Gue dan salah satu teman sekontrakan gue mengacungkan tangan. Jadilah gue mendapat bagian untuk khotbah tanggal 13 Februari yang lalu.

Malam sebelumnya, gue tidak terlalu mempersiapkan diri seperti teman sekontrakan gue. Pagi hari, gue bangun. Makan pagi, mandi, dan langsung berpakaian. Rapi bo.. Pake kemeja bokap yang abu-abu, plus celana panjang hitam, plus dasi milik teman gue. Sebelum berangkat, gue sempet memakai sepatu Converse coklat gue (menurut gue sih bagus). Akan tetapi karena katanya penampilan juga dinilai, gue mengganti sepatu gue dengan sepatu Buccheri coklat. Katanya sih seharusnya sepatu pantofel (apakah saya benar menuliskannya?), tetapi since I don't have one, gue pake aja sepatu Buccheri gue yang biasa gue pake ke gereja.

ahh.. ternyata masih panjang nih untuk diceritakan.. jadi, ini jadi bagian pertama aja ya.. nanti ditambahkan lagi di bagian II

tuvussr.dll sialan

Kemarin malam gue baru aja mendownload update antivirus gue. Sampai di rumah, gue langsung update antivirus gue. Eh, ternyata malah menimbulkan masalah. Begitu terupdate, sebuah window muncul. Window tersebut berasal dari program antivirus gue. Sebuah trojan ternyata telah menginfeksi komputer gue. Nama filenya adalah tuvussr.dll.

Dan ternyata file tersebut tidak bisa didelete karena berasosiasi dengan file sangat penting di Windows XP, yaitu winlogon.exe.

Setelah mencoba full-scan, ternyata file tersebut tidak bisa juga dihapus. Bisa jadi karena file tersebut masih dibuka oleh winlogon.exe. Menghentikan winlogon.exe? Itu sama saja membunuh komputernya.

Setelah beberapa kali gue restart, komputer gue ternyata malah jadi semakin sibuk. Hanya gara-gara proses winlogon.exe menjadi proses yang paling banyak memakan CPU time. Gara-gara proses ini, grafik proses CPU sudah persis alat grafik detak jantung di rumahsakit. Naik turun secara teratur.

Nah, ini gue lagi mencari tahu gimana caranya menghancurkan tuvussr.dll. Cari di Google (silahkan coba sendiri pake keyword tuvussr.dll), hasilnya hanya sedikit. Dari semua hasil search, ada satu yang menawarkan jawaban. Hanya saja terlalu panjang untuk diikuti. Ada pula software yang menawarkan bisa menghapus varian trojan tersebut. Hanya saja harus bayar.

Sekarang, apa yang bisa aku lakukan? Ada yang bisa bantu saya? Ada yang punya ide? Ada yang punya saran? Gue dan seisi rumah kami butuh komputer gue kembali normal.

Friday, February 8, 2008

Kalau Gereja Ditutup

Apakah yang Anda lakukan bila gereja Anda ditutup?
Apakah yang harus saya lakukan bila gereja saya ditutup?
Apa pendapat Anda bila gereja teman Anda ditutup?

FYI, gereja ditutup/dirusak pada zaman SBY-JK (2004-2006) melebihi total jumlah gereja yang ditutup/dirusak dari ORBA hingga Megawati.

Wednesday, February 6, 2008

Gosip

Senin kemarin aku membuka Inbox handphone temanku, tentunya dengan izin yang terpaksa. Di dalamnya terdapat beberapa SMS dari orang yang sama. Orang itu juga teman sekelasku di kampus.

Dua dari puluhan SMS dari orang yang sama tersebut, ada dua SMS yang menyertakan namaku. Dua SMS itu pun membuatku senyum-senyum sendiri.

SMS yang pertama isinya "pantesan aja anak-anak heboh waktu aku duduk bareng vontho di kantin." Isi SMS itu membuatku mengambil kesimpulan bahwa ada yang berpikir kalau aku suka sama si pengirim SMS itu.

SMS yang kedua isinya "si vontho kan suka sama si X." Waduh, kok bisa sampai pada kesimpulan ini?

Nah, SMS yang pertama sepertinya merupakan tanggapan dari si pengirim atas SMS temanku yang menyampaikan gosip yang sampai di telinganya. Kalau SMS yang kedua, mungkin merupakan asumsi yang beredar di kalangan teman si pengirim yang memang dekat juga dengan oknum X.

Ah, gosip..

Saturday, January 26, 2008

Eyang Meninggal

Kapan dan dari siapa pertama kali mendengar kabar Suharto meninggal dunia hari ini?

Gue tadi sedang berada 3Store di Plaza Semanggi. Sewaktu menunggu kembalian, seorang karyawan 3Store datang sambil ngomong, "eyang meninggal." Gue masih gak ngerti siapa yang dimaksud dengan "eyang" oleh orang itu. Gue baru ngerti setelah seorang karyawan yang lain bilang "pasti nanti di televisi lagu ini banyak diputar." Karyawan itu kemudian menyanyikan sebuah lagu yang gue udah lupa liriknya.

Setelah dari 3Store, gue ke Giant di UG Plaza Semanggi. Tayangan di televisi yang dipajang di rak supermarket itu tidak lain tidak bukan adalah berita meninggalnya Suharto. Sewaktu mendengar di berita ternyata ada dua ambulans yang berada di RSPP, gue teringat iring-iringan ambulans berplat militer yang dikawal Polisi Militer. Oh, ternyata ambulans yang tadi lewat Jalan Sudirman sewaktu gue jalan dari Halte Bendungan Hilir ke Plaza Semanggi adalah ambulan untuk jenazah Suharto.. (kirain ada pejabat penting militer yang meninggal).

Nah, Suharto, mantan presiden negara kita yang tercinta ini, sudah meninggal dunia. Just like my cousin says in his blog, all we have to do now is salute him. Soal hukum, nanti saja setelah masa berkabung sudah lewat...

Gue sih pengen melayat ke Cendana. Sayang, sepeda gue(?) rusak sejak Agustus 2007. Lagian kalau gak rusak, memangnya mau ditaro di mana sepedanya?  (Wah, sudah out of topic. Gue akhiri saja tulisan ini sampai di sini.)

Good bye Indonesian Rose..  (Elton John)

Thursday, January 24, 2008

Penonton Lebih Tahu

Pernah melihat orang main catur? Pernah perhatiin orang yang nonton orang lagi main catur? Pemandangan kedua keadaan tersebut sekarang bisa dilihat di kontrakan gue setelah gue membeli sebuah papan catur ukuran besar di Alfa Cikini beberapa hari yang lalu.

Apa yang menarik dari pemandangan tersebut? Penonton merasa lebih tahu apa yang harus dilakukan oleh orang yang sedang bermain. Dan pada kenyataannya memang begitu. Orang yang menonton mengetahui lebih banyak kemungkinan-kemungkinan langkah yang bisa diambil dibanding dengan orang yang sedang main.

Pernah menonton Liga Indonesia di televisi, terutama beberapa hari belakangan ada delapan besar Liga Djarum ditayangkan di televisi? Komentar-komentar yang diucapkan para komentator sering salah. "Wasit memberikan pelanggaran kepada PSMS." (Goblok banget gak sih komentarnya?) "Pelanggaran di kotak penalti.... Ternyata wasit memberikan tendangan bebas kepada Arema." (Pada kenyataannya di tayangan televisi sudah jelas memang terjadi pelanggaran oleh penyerang lawan.)

Nah, kesimpulannya? Penonton lebih tahu. Coba deh jadi pemain catur, atau jadi komentator di televisi, penonton yang berubah peran pun pasti jadi orang yang tak tahu apa-apa juga.