Pages

Thursday, October 21, 2010

Ocehan Tak Jelas

Ini adalah ocehan tak jelas tentang beberapa hal yang menurutku perlu aku tuliskan.

Sial.. baru saja aku akan menuliskan tulisan ini, tetapi sudah ada barrier dari dalam diri sendiri bahwa tulisan ini tidak penting untuk dituliskan. Berarti tulisan ini hanya akan sampai di sini saja.

Topik yang seharusnya bisa dibahas di dalam ocehan tak jelas ini adalah: tentang sistem perpustakaan yang sedikit bermasalah, tentang paduan suara Filipina dihubungkan dengan kegiatan PRPG bulan Agustus lalu, tentang minat membaca di sekolahku, dan tentang menulis.

Apakah topik itu akan aku tulis nanti? Kita lihat saja nanti di blog ini.

Komputer Perpustakaan STT Jakarta
21 Oktober 2010
16:01

Tuesday, October 12, 2010

Sabtu-Rabu

Dalam beberapa hari terakhir ini, ada berbagai hal yang terjadi yang sebenarnya menarik buatku untuk ditulis. Karena sudah terlalu lama dibiarkan tidak ditulis, aku pikir sebaiknya semua hal itu aku gabung saja menjadi satu dalam tulisan ini, dalam bentuk kata-kata:

Sabtu: Ragunan, taksi, BTJ, Grand Indonesia, sms, tidak jadi pulang, nonton fountain show pukul 17.00, keliling-keliling tak jelas, pulang pukul 18.00, nge-pack tas berisi pakaian kotor, jalan kaki ke Stasiun Manggarai pukul 20.00, kereta ternyata tidak beroperasi, makan bihun goreng di Dempo, pulang dan tidur.

Minggu: bangun pagi, jalan kaki berangkat ke Stasiun Manggarai pukul 07.10, kereta pukul 07.20 ternyata tidak beroperasi juga, jalan kaki kembali ke Jalan Proklamasi, naik 502, tiba di Stasiun Tanah Abang pukul 8 lewat, menunggu kereta KRL Ekonomi tujuan Serpong hingga pukul 08.45, aku naik ketika kereta tiba. Hal penting untuk diperhatikan: lebih baik naik KRL daripada naik KRD, karcis KRL lebih murah: Rp1.500 banding Rp3.500. Kereta berjalan, aku memperhatikan seorang bapak tua berambut putih berumur kurang lebih 60an. Dia membaca Koran Jakarta sambil bibirnya bergerak. Tulisan di dalam zipper bag transparan yang dibawanya membuatku mengeluarkan handphoneku untuk mengetik tulisan itu: Deutch vor kindern sicher auebe wahren. Entah apa artinya. Dia turun di Stasiun Pondok Ranji juga sepertiku.

Senin: aku pulang naik KRL Ekonomi tujuan Manggarai pukul 13.53 menurut jadwal, tetapi 14.20 kenyataannya. Aku pulang berniat untuk mengerjakan tugas yang sudah lama terbengkalai. Orang yang berhubungan dengan tugas itu tidak membalas telepon dan smsku hingga aku turun di Stasiun Sudirman dan memutuskan untuk berjalan ke Grand Indonesia untuk menonton film Korea dalam Festival Film Korea yang diselenggarakan di Blitzmegaplex. Pukul 15.30 aku sudah mengambil tiket gratis La Grand Chef 2: Kimchi Battle. Pukul 17.00 aku melakukan sesuatu yang gila yang belum dapat disebutkan di sini. 17.15 aku masuk studio 8 Bitz GI dan menonton. Filmnya sepertinya dibuat untuk mengingatkan generasi muda Korea akan pentingnya menjaga warisan kebudayaan Korea. Seperti biasa, film Korea yang satu ini bisa membuat penontonnya tertawa dan juga menangis. Dan ceritanya menarik.
Setelah menonton, aku tidak langsung pulang. Aku nongkrong di East Mall GI. Hingga akhirnya aku melihat Mas Bagus, Kak Vero, dan Ike berjalan hendak melewati tempat aku duduk. Aku mengikuti mereka dan akhirnya kami mengitari Gramedia GI untuk mencari buku yang hendak dipakai Mas Bagus untuk laporan buku dari dosen, lalu makan mie tarik di area Food Louver setelah pencarian terhadap buku itu dihentikan karena tidak ada. Kami pulang sekitar pukul 22.00.

Selasa: aku datang ke kampus berpikir kalau aku akan mengerjakan pekerjaan yang terbengkalai itu di kampus, ternyata tidak. Aku hanya belajar Bahasa Ibrani II, Makan siang di RM Kito, Nongkrong dengan Debbie dan Yonea di ruang diskusi perpustakaan. Dan aku pergi ke Grand Indonesia. Menonton film Korea lagi: Running Turtle. Film aksi yang mampu menampilkan realita masyarakat kelas bawah; ada unsur menegangkan, humor, dan haru di akhir film.

Rabu: aku sekarang di kampus. Tadi pagi aku minta izin untuk tidak hadir di kelas pagi ini karena badan serasa sangat lemas dan sepertinya akan demam kalau tidak diistirahatkan lebih lama.

Demikian. Sekian.

Perpustakaan STT Jakarta
13 Oktober 2010
13:38

Wednesday, October 6, 2010

Payung

Aku punya seekor payung. Seekor? Aku menyebutnya demikian karena di tangkainya ada tali untuk menentengnya sambil mengayun-ayunkan payung itu. Dan juga ada label mereknya yang tidak aku lepas. Payung itu aku baru saja beli tadi di Giant Megaria. Payung yang lama sudah tidak memadai lagi untuk menahan agar tubuhku tidak basah kuyup ketika hujan deras menjatuhkan diri dari langit.

Payung itu berwarna coklat. Menarik bukan? Payung itu, sama seperti payung-payung yang pernah kumiliki, akan selalu ada di dalam tasku. Sedia payung sebelum hujan, kata pepatah.

Berbicara tentang payung, aku tadi tiba-tiba bertanya-tanya. Kenapa tidak ada produsen yang berani memberikan garansi? Pertanyaan itu kemudian berlanjut dengan pertanyaan, kenapa payungku selalu rusak setelah aku meminjamkan payung itu ke orang lain? Kedua pertanyaan itu ternyata pertanyaan yang tak perlu dijawab.

FYI, harga payung yang aku beli tadi Rp29.900. Murah atau mahal?

Kalasan Dalam 44B
6 Oktober 2010
19:12

Thursday, September 30, 2010

Siantar-Sibuntuon

Pulang dari KFC Cikini menumpang motor Daniel mengingatkanku atas perjalanan naik motor yang dulu pernah keluargaku lakukan. Lebih dari 20 tahun yang lalu.

Aku tadi sangat mengantuk. Aku menyenderkan kepalaku di punggung Daniel sementara motornya bergerak ke arah Talang. Aku memang langsung teringat kepada kenangan masa di Sibuntuon, sebuah desa di Kabupaten Simalungun, sebelum keluarga kami pindah ke Medan tahun 1990. Bapak, Mamak, kakak, dan aku pergi ke Pematang Siantar sepertinya cukup jarang. Kami pergi ke sana hanya dalam rangka membeli baju baru menjelang Natal atau hari ulang tahunku dan kakakku. Menaiki "kereta" GL-100 yang dimiliki Bapakku sejak di Situnggaling (sebuah desa di dekat tempat pariwisata Sipiso-piso).

Kenangan tentang naik "kereta" dari Siantar ke Sibuntuon muncul karena aku teringat kalau aku sering sudah mengantuk dalam perjalanan pulang kami. Masih kuingat kalau aku naik di atas kap tempat bensin di depan Bapakku. Aku memakai helm, jaket, dan sepertinya juga memakai kacamata. Maklum, seingatku sering ada sejenis kunang-kunang yang berterbangan di atas jalan yang kami lalui yang tentu akan menyakitkan kalau mengenai mata.

Mengingat kenangan itu, aku jadi sangat iri dengan Bapakku.

Cukup...

Kalasan Dalam 44B
30 September 2010
23:39

Wednesday, September 29, 2010

Komputer Perpustakaan

Ini tentang komputer perpustakaan, tempat aku sekarang mengetik tulisan ini.

Aku masuk sekolah ini tahun 2005. Aku masih ingat kalau dulu akses internet di sini sangat terbatas. Eh, tidak. Dulu ada warnet di depan, di ruangan PPWG sekarang. Hanya saja akses internet gratis hanya ada di perpustakaan. Itu pun terbatas untuk 30 menit satu orang. Salah satu pengguna aktif internet di komputer perpustakaan waktu itu sepertinya memang diriku. Tulisan pertamaku setelah masuk STT Jakarta pun sepertinya ditulis dan dikirim melalui komputer perpustakaan yang saat itu terletak di dekat kantor pegawai perpustakaan.

Sewaktu Friendster semakin dikenal waktu itu, ada banyak orang yang ingin menggunakan akses internet di komputer perpustakaan. Sampai-sampai pada akhirnya Friendster di-block menggunakan sebuah program. (Kalau tidak salah, aku ada menuliskan tentang itu di blog ini.)

Lalu Facebook mulai dikenal. Aku masih ingat kalau dulu aku masih sempat mengakses Facebook di meja komputer tempat aku berada sekarang. Entah bagaimana ceritanya, akses ke komputer di perpustakaan ini akhirnya tidak ada sama sekali. Itu karena waktu itu wi-fi sudah beroperasi. Cerita tentang wi-fi beroperasi di sekolah ini memang merupakan cerita lain juga yang di dalam cerita tersebut tidak akan bisa dilepaskan dengan pemblokiran Facebook dari wi-fi.

Sekarang, akses internet di komputer ini sangat menyenangkan. Tidak ada timer lagi seperti dulu. (Timer itu pun pada akhirnya "jebol" juga dengan baris command di Run.) Facebook dapat diakses, walaupun Facebook bukanlah tujuan utamaku lagi kalau mengakses internet. Yang membuat akses komputer ini menyenangkan buatku adalah (mungkin untuk sementara) aku tidak perlu lagi meminjam laptop orang untuk mengakses internet di sekolah.

Tulisan ini didedikasikan kepada para mantan pengguna setia komputer perpustakaan ini, kepada para mantan perusak timer. Dan kepada yang mengurus perpustakaan, terima kasih.

Komputer Perpustakaan, Perpustakaan STT Jakarta
30 September 2010
12:04

Monday, September 27, 2010

Ibadah Raya dan Malam Gembira tahun kemarin selalu menjadi kenangan buruk buatku. Hanya saja itu menjadi kenangan buruk karena cara berpikirku yang salah. Move on, Vontho!

27 September 2010

27 September sebenarnya merupakan tanggal yang spesial untuk STT Jakarta, kampusku. Hanya saja dalam dua tahun ini tidak menjadi spesial karena tahun lalu jatuh pada hari Minggu, dan tahun ini tidak ada orasi. Tahun ini tanggal 27 September 2010 menjadi tanggal pelaksanaan Ibadah Syukur.

Aku menulis ini bukanlah dalam rangka Dies Natalis STT Jakarta. Aku menulis ini hanyalah sebagai catatan harianku tanggal 27 September 2010 kemarin.

Aku bangun pagi dan langsung teringat sebuah tugas. Kak Ester dari BAA pun mengingatkanku lewat SMS kalau bahan yang diperlukan untuk penyelesaian tugas itu sudah ada di dia. Aku mengatakan kepadanya lewat SMS kalau aku akan datang ke kampus 30 menit setelah SMS itu aku kirim.

30 menit kemudian aku sudah ada di kampus dan mengambil bahan tugas itu ke BAA, pulang ke rumah, mengerjakannya, dan lalu mengirimkannya. Tugas selesai.

Aku ke kampus lagi. Bertemu dengan Aiko yang bertanya di mana plastik name-tag. Lalu aku kemudian melakukan tugas yang lain, tugas yang belum terselesaikan sejak hari Jumat. Senangnya bisa mengerjakan tugas itu bersama Mas Yudi yang sebenarnya bukan orang yang bertugas menyelesaikan tugas itu. Tugas itu selesai, dan aku menyerahkan hasil tugas itu kepada Mas Bambang yang akan melanjutkan proses selanjutnya.

Aku kemudian masuk ke Bengkel PK. Bertemu dengan Siro, Ribka, dan Ella. Berbicara mengenai tugas lain dengan Siro, aku menyadari kalau aku melakukan kesalahan. Karena kesalahan ada untuk diperbaiki, aku menanamkan dalam kepalaku kalau tidak boleh melakukan kesalahan yang sama lagi. Berbicara dengan Ella yang masih belum mengembalikan buku yang dia pinjam di perpustakaan atas namaku, aku membuat janji ke Ella kalau aku akan mengunjunginya ke asrama. Hanya untuk mengambil buku itu. Dan berpura-pura menggantikan peran Sosam untuk sementara. Lho?

Makan siang, aku bertemu dengan Abdiel. Dia mengajakku ke GKI Kayu Putih. Aku menyanggupi karena aku memang sedang tidak ada tugas lain. Pada akhirnya ada aku, Yesie, dan Abdiel yang berangkat ke GKI Kayu Putih menggunakan kendaraan milik kampus yang dikendarai Pak Supangat. Tujuan ke sana adalah membuat dekorasi. Dekorasi yang dibutuhkan memang sangat sederhana. Hanya menambahkan kain dengan beberapa warna ke salib yang terletak di bagian depan dalam ruang ibadah. Hasilnya menurutku sederhana dan menarik.

Kami pulang. Tiba di sekolah, aku masuk ke Bengkel PK lagi. Berbincang sejenak dengan Siro, Sergio, dan Aiko. Siro dan Aiko pulang, aku dan Sergio ke kantin. Di kantin aku bertemu Mas Bagus, alumnus STT Jakarta yang merupakan pendeta di Gereja Protestan Bali yang sedang studi S2 di STT Jakarta. Aku memang sudah sering bertemu dengannya, tetapi baru kemarin aku bertanya kepadanya tentang Bali. Wedding as business dan tentang kerukunan di sana. Tak lama, aku dan Sergio pulang ke kontrakan. Sebentar saja di kontrakan, aku ke kampus lagi. Ada bus yang harus diurus.

Tiba di kampus, aku bertemu dengan Kak Feri. Singkat cerita, tugasku untuk Ibadah Syukur ternyata bukan hanya dikerjakan olehku. Itulah sebabnya aku menyanggupi untuk menunggu bus yang masih belum datang. Bus jam 17.00 akhirnya berangkat pukul 17.00. Tepat waktu. Satu bus terakhir, akhirnya berangkat pukul 17.30. Tiba di GKI Kayu Putih 18.10, tepat saat prosesi masuk para petugas ibadah. Aku langsung ke tempatku bertugas. Ternyata memang ada untungnya bukan diriku saja yang bertugas di tempat itu.

Saat kata sambutan dari Ketua Panitia Dies Natalis dan Wisuda, aku baru menyadari kalau ada kesalahan informasi yang diterima jemaat GKI Kayu Putih tentang jam pelaksanaan Ibadah Syukur. Aku tak tahu apakah itu merupakan salahku. Tak penting juga sebenarnya untuk ditelusuri.

Saat turun dari ruang ibadah untuk makan malam, ada beberapa orang yang menanyakan hal yang sama. Kenapa tidak memegang kamera seperti biasanya. Ada tugas lain, kataku dalam hati. Lho?

Pelajaran penting hari kemarin buatku adalah aku tidak boleh sok sibuk. Harus tenang! Karena sok sibuk, aku melupakan handphoneku yang aku letakkan di atas kotak tempat persembahan. Untunglah aku menyadari kalau aku meninggalkan handphoneku ketika rombongan bus yang kembali ke kampus baru bergerak sejauh kurang lebih 250 meter dari gereja.

27 September 2010. Dies Natalis ke-76 STT Jakarta. Aku pikir aku tak mencintai STT Jakarta ini. (Kenapa kalimat penutupnya tidak nyambung begini?)

Kalasan Dalam 44B
28 September 2010
08:01