Pages

Showing posts with label sttjakarta. Show all posts
Showing posts with label sttjakarta. Show all posts

Friday, February 11, 2011

Today's Story

So, this is the story..

Hari ini aku sudah berjanji bertemu dengan Bang Binsar Pakpahan di Immanuel Cafe, di dalam Toko Buku Immanuel. Tidak hanya dengannya, tetapi juga (mungkin rencananya) dengan orang-orang yang dulu pernah berkumpul bersama di tempat itu pada tanggal 27 Juli 2010 yang lalu. (Entah kenapa struk pesanan dan pembayaran makanan di hari itu masih ada padaku. Dan sekarang berada tepat di sebelah keyboard aku mengetik tulisan ini.)

Aku bangun cukup cepat pagi ini, tetapi aku asyik berinternet ria dulu. Sebenarnya janji bertemu dipercepat menjadi pukul 09.30. Sayangnya aku baru akan mandi ketika jam di komputerku sudah menunjukkan waktu pukul 09.20an. Setelah mandi, aku berpakaian, lalu melihat handphoneku. Ternyata ada satu panggilan tak terjawab dari Aiko. Aku langsung berjalan ke arah TB Immanuel. Dan bodohnya, aku baru mengirimkan pesan pendek setelah aku mendekati tempat tujuan. Melihat mobil Aiko tak ada di depan tempat itu, aku langsung masuk ke RM Jatim, warung makan yang letaknya berseberangan dengan TB Immanuel. Aku memesan nasi dadar lalap. Lalu duduk. Beberapa saat duduk, aku mendapat pesan pendek balasan dari Aiko. "Di kantin stt."

Selesai makan, aku langsung berjalan menuju sekolahku. Di jalan, aku mendapat pesan pendek dari Aiko menanyakan keberadaanku dan menyampaikan kalau ada rencana ke Grand Indonesia. Mereka akhirnya menunggu.

Aku tiba di sekolah. Ternyata hanya ada Aiko dan Kak Lusiana selain Bang Binsar. Kak Tulusi, Bang Kinoi, dan Bang Marthin tidak ada. Kak Tulusi magang, Bang Kinoi kerja, Bang Marthin sepertinya belanja keperluan Bengkel PK.

Foodlouver Grand Indonesia. Setibanya di GI, kami langsung ke tempat itu. Kami, ditambah dengan pacar Bang Binsar, makan dan nongkrong di sana. Makanan yang kami makan tidak perlu dituliskan bukan? Lagipula aku sudah lupa apa saja. (Bukan karena banyak. Aku sebenarnya ingat, tetapi untuk keperluan tulisan ini aku sengaja melupakannya. Lho?)

Pukul 12.10 kami beranjak dari tempat itu. Setelah sempat berencana nongkrong di salah satu warung kopi di GI, kami akhirnya malah pergi ke Gramedia. Dalam perjalanan ke Gramedia, aku dipanggil Doan dan Meyer, temanku di STT Telkom dulu, yang melihatku berjalan melewati area Foodlouver. Aku nongkrong lah bersama mereka, dan satu adik PA-nya Doan. Tanpa bilang-bilang pula dengan teman-temanku yang sebelumnya bersamaku. Aku mengirimkan pesan pendek ke Aiko setelah cukup lama aku nongkrong dengan mereka. Dan ternyata mereka sudah sempat mencariku. Maap. Catatan untuk pembaca: Kalau mau menghilang dari rombongan, bilang-bilang dulu!

Aku kemudian menyusul Bang Binsar dan teman-teman ke Gramedia. Aku hampir selalu melihat bagian komputer kalau ke Gramedia Grand Indonesia. Dan tahu apa yang aku mau lihat? Aku hanya ingin memeriksa apakah buku "Mendesain Logo" dan  "Layout Dasar dan Penerapannya" yang ditulis oleh Surianto Rustan, dan juga buku "Tipografi dalam Desain Grafis" yang ditulis Danton Sihombing masih ada atau tidak. Padahal aku sudah memiliki ketiga buku tersebut, entah untuk apa! Dan sialnya, aku tadi menemukan sebuah buku lagi yang ditulis oleh Surianto Rustan. "Font dan TIPOGRAFI". (Tak tahu juga kenapa di bagian dalam buku ini TIPOGRAFI sebagai judul buku ini ditulisnya dalam huruf kapital semua, termasuk dalam bagian "Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Penerbitan.") Dan entah kenapa walau sudah berpikir berulangkali, aku tetap membelinya. Padahal harganya Rp95.000. (For the record, the last book about typography that I bought was Rp98.000. Mendesain Logo: Rp78.000-80ribuan; Layout Dasar: Rp86.000. These data proves that I'm idiot! )

Setelah membayar buku itu, aku berdiri di tempat buku baru dipajang. Ada buku "Mengapa Sri Mulyani? Menyibak Tabir Bank Century". Aku lupa siapa penulisnya. Kalau tidak salah: Steve Santoso. Aku membaca beberapa halaman penting. Dan aku semakin yakin dengan kesimpulanku selama ini: SMI-B adalah orang jujur yang menjadi korban keserakahan orang-orang serakah uang dan kuasa di negeri lelucon ini, Indonesia bapak! (Ini penilaian subyektifku. Dan penulis buku itu juga menyatakan kalau buku itu tidak terlepas dari subyektivitasnya sebagai orang yang cukup dekat juga dengan SMI.)

Next destination: Bang Binsar dan Kak Okta ke Foodlouver; aku, Aiko, dan Kak Lusiana nongkrong di Fab Cafe di dalam Gramedia GI. Aiko dan Kak Lusiana membahas tentang suatu acara, dan aku memfoto-foto Bunderan HI memakai kamera Lia yang entah kenapa bulan ini sepertinya untuk sementara menjadi hak milikku. Lho? Mendekati pukul 15.00, kami pulang. Sebelum pulang aku dan Kak Lusiana membeli ice cream cone di Burger King. Ternyata enak! Apalagi aku dibayarin.

Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Aku langsung menuju Bengkel PK. Entah untuk apa. Di sana aku bertemu dengan Diana, Irmanda, Merlin, dan Ana. Masuk ke dalam lagi, ternyata ada Isabella Sinulingga a.k.a Icha dan Desi Rosalin Purba a.k.a Siro. (Kenapa harus lengkap ya namanya?) Di tempat Siro, Siro dan Icha ternyata sedang menyortir kartu ucapan yang telah dimasukkan ke dalam Kotak Cinta di depan Bengkel PK dalam rangka Valentine's Day. Kartu-kartu yang telah dimasukkan itu akan disampaikan kepada orang-orang yang ditujukan di kartu-kartu itu pada hari Senin ini, 14 Februari 2011, tepat pada hari Valentine. (Just in case you don't know that February 14 is Valentine's Day.)  Entah kenapa, aku malah bertanya kepada Siro, "untuk gue dari Icha doang kan?" (I had already knew that Icha had put a card for me into the box because I was there when she made the card and told me that the card was for me. "Nanti tanggal 14 ya dibacanya, Kak," Icha said to me that day.) Dan aku terperangah sewaktu Siro bilang, "nggak kok, Kak. Banyak untuk kakak." Wadoooh.. Kok aku jadi serasa artis? (Pada bagian ini, pembaca boleh, bahkan dianjurkan untuk, muntah!) Akan tetapi, aku memang tak berniat sama sekali untuk melihatnya sebelum waktunya. Hanya saja sudah terdengar suara menggelegar dari ruang depan Bengkel PK, "heh, Vontho. Lo nggak boleh di situ!" Coba tebak suara siapa? Ya, Anda benar! (Memang siapa?)

Aku pun keluar dari ruangan Siro. Aku duduk di ruangan depan Bengkel PK. Dan duduk memerhatikan mereka yang ada di ruangan itu. Lalu sesekali mengambil foto mereka yang sedang membuat kartu. Mendengar cerita lucu tentang "kabar buruk" yang diterima oleh Irma tadi pagi dari Jere. "Kabar buruk" itu adalah "Mubarak tidak mau turun." (I thought Irma has to write down the story.) Cukup lama aku hanya duduk nongkrong di ruangan itu sementara yang lain sibuk membuat kartu ucapan dan membuat kreativitas. Aku kemudian terpikir untuk membuat amplop dari kertas A4 bekas. Seperti yang diajarkan oleh Diana kepadaku, Irma, dan Icha di hari Icha menuliskan kartu ucapannya kepadaku. Selesai membuat amplop, Diana menyodorkan kertas yang harus aku gunting untuk menyelesaikan kreativitas yang dibuatnya. Selesai menggunting, aku malah membuat sebuah kartu ucapan juga buat Icha. Dan memasukkannya ke dalam amplop oranye yang aku buat sebelumnya.

Aku juga sempat menggunting-gunting dan menghasilkan sebuah kartu berbentuk talk-cloud dan di tengahnya aku tempel sebuah kertas warna merah bertuliskan I dan sebuah kertas merah lainnya berbentuk hati. "Untuk siapa tuh?" tanya Siro.

Irma dan Diana berencana ke Gramedia. Aku ikut dengan mereka. Sewaktu mau berangkat, seorang tukang bajaj mengucapkan kata "anjing!" setelah kami tidak jadi naik bajaj-nya. (Pakai tanda seru dong, masa pakai tanda tanya?) Itu insiden kecil lah. Kami akhirnya naik bajaj berwarna hijau yang di pintunya tertulis tulisan Jakarta Selatan. Tak heran dia lebih manusiawi dari tukang bajaj lainnya yang telah kami stop dan telah melakukan tawar-menawar dengan kami.

Gramedia Matraman. Apa tujuan kami? Ini rahasia. Kenapa jadi kami? Karena aku diikutsertakan (dan mengikutsertakan diri) untuk tujuan rahasia ini.

Mendekati pukul 20.00 aku sudah tiba lagi di kamarku. Aku menghidupkan komputerku. Buka halaman ini. Dan menuliskan ini sejak sekitar pukul 20.03.

So, that's the story for today.

Kamarku, (Sepertinya Masih) Kontrakan Gak Jelas
11 Februari 2011
22:16

PS: I guess this is the first time I write a day's story (in a long story like this) again since I don't know when was my last time writing something like this. It's too random, right?

Thursday, October 21, 2010

Ocehan Tak Jelas

Ini adalah ocehan tak jelas tentang beberapa hal yang menurutku perlu aku tuliskan.

Sial.. baru saja aku akan menuliskan tulisan ini, tetapi sudah ada barrier dari dalam diri sendiri bahwa tulisan ini tidak penting untuk dituliskan. Berarti tulisan ini hanya akan sampai di sini saja.

Topik yang seharusnya bisa dibahas di dalam ocehan tak jelas ini adalah: tentang sistem perpustakaan yang sedikit bermasalah, tentang paduan suara Filipina dihubungkan dengan kegiatan PRPG bulan Agustus lalu, tentang minat membaca di sekolahku, dan tentang menulis.

Apakah topik itu akan aku tulis nanti? Kita lihat saja nanti di blog ini.

Komputer Perpustakaan STT Jakarta
21 Oktober 2010
16:01

Wednesday, September 29, 2010

Komputer Perpustakaan

Ini tentang komputer perpustakaan, tempat aku sekarang mengetik tulisan ini.

Aku masuk sekolah ini tahun 2005. Aku masih ingat kalau dulu akses internet di sini sangat terbatas. Eh, tidak. Dulu ada warnet di depan, di ruangan PPWG sekarang. Hanya saja akses internet gratis hanya ada di perpustakaan. Itu pun terbatas untuk 30 menit satu orang. Salah satu pengguna aktif internet di komputer perpustakaan waktu itu sepertinya memang diriku. Tulisan pertamaku setelah masuk STT Jakarta pun sepertinya ditulis dan dikirim melalui komputer perpustakaan yang saat itu terletak di dekat kantor pegawai perpustakaan.

Sewaktu Friendster semakin dikenal waktu itu, ada banyak orang yang ingin menggunakan akses internet di komputer perpustakaan. Sampai-sampai pada akhirnya Friendster di-block menggunakan sebuah program. (Kalau tidak salah, aku ada menuliskan tentang itu di blog ini.)

Lalu Facebook mulai dikenal. Aku masih ingat kalau dulu aku masih sempat mengakses Facebook di meja komputer tempat aku berada sekarang. Entah bagaimana ceritanya, akses ke komputer di perpustakaan ini akhirnya tidak ada sama sekali. Itu karena waktu itu wi-fi sudah beroperasi. Cerita tentang wi-fi beroperasi di sekolah ini memang merupakan cerita lain juga yang di dalam cerita tersebut tidak akan bisa dilepaskan dengan pemblokiran Facebook dari wi-fi.

Sekarang, akses internet di komputer ini sangat menyenangkan. Tidak ada timer lagi seperti dulu. (Timer itu pun pada akhirnya "jebol" juga dengan baris command di Run.) Facebook dapat diakses, walaupun Facebook bukanlah tujuan utamaku lagi kalau mengakses internet. Yang membuat akses komputer ini menyenangkan buatku adalah (mungkin untuk sementara) aku tidak perlu lagi meminjam laptop orang untuk mengakses internet di sekolah.

Tulisan ini didedikasikan kepada para mantan pengguna setia komputer perpustakaan ini, kepada para mantan perusak timer. Dan kepada yang mengurus perpustakaan, terima kasih.

Komputer Perpustakaan, Perpustakaan STT Jakarta
30 September 2010
12:04

Monday, September 27, 2010

27 September 2010

27 September sebenarnya merupakan tanggal yang spesial untuk STT Jakarta, kampusku. Hanya saja dalam dua tahun ini tidak menjadi spesial karena tahun lalu jatuh pada hari Minggu, dan tahun ini tidak ada orasi. Tahun ini tanggal 27 September 2010 menjadi tanggal pelaksanaan Ibadah Syukur.

Aku menulis ini bukanlah dalam rangka Dies Natalis STT Jakarta. Aku menulis ini hanyalah sebagai catatan harianku tanggal 27 September 2010 kemarin.

Aku bangun pagi dan langsung teringat sebuah tugas. Kak Ester dari BAA pun mengingatkanku lewat SMS kalau bahan yang diperlukan untuk penyelesaian tugas itu sudah ada di dia. Aku mengatakan kepadanya lewat SMS kalau aku akan datang ke kampus 30 menit setelah SMS itu aku kirim.

30 menit kemudian aku sudah ada di kampus dan mengambil bahan tugas itu ke BAA, pulang ke rumah, mengerjakannya, dan lalu mengirimkannya. Tugas selesai.

Aku ke kampus lagi. Bertemu dengan Aiko yang bertanya di mana plastik name-tag. Lalu aku kemudian melakukan tugas yang lain, tugas yang belum terselesaikan sejak hari Jumat. Senangnya bisa mengerjakan tugas itu bersama Mas Yudi yang sebenarnya bukan orang yang bertugas menyelesaikan tugas itu. Tugas itu selesai, dan aku menyerahkan hasil tugas itu kepada Mas Bambang yang akan melanjutkan proses selanjutnya.

Aku kemudian masuk ke Bengkel PK. Bertemu dengan Siro, Ribka, dan Ella. Berbicara mengenai tugas lain dengan Siro, aku menyadari kalau aku melakukan kesalahan. Karena kesalahan ada untuk diperbaiki, aku menanamkan dalam kepalaku kalau tidak boleh melakukan kesalahan yang sama lagi. Berbicara dengan Ella yang masih belum mengembalikan buku yang dia pinjam di perpustakaan atas namaku, aku membuat janji ke Ella kalau aku akan mengunjunginya ke asrama. Hanya untuk mengambil buku itu. Dan berpura-pura menggantikan peran Sosam untuk sementara. Lho?

Makan siang, aku bertemu dengan Abdiel. Dia mengajakku ke GKI Kayu Putih. Aku menyanggupi karena aku memang sedang tidak ada tugas lain. Pada akhirnya ada aku, Yesie, dan Abdiel yang berangkat ke GKI Kayu Putih menggunakan kendaraan milik kampus yang dikendarai Pak Supangat. Tujuan ke sana adalah membuat dekorasi. Dekorasi yang dibutuhkan memang sangat sederhana. Hanya menambahkan kain dengan beberapa warna ke salib yang terletak di bagian depan dalam ruang ibadah. Hasilnya menurutku sederhana dan menarik.

Kami pulang. Tiba di sekolah, aku masuk ke Bengkel PK lagi. Berbincang sejenak dengan Siro, Sergio, dan Aiko. Siro dan Aiko pulang, aku dan Sergio ke kantin. Di kantin aku bertemu Mas Bagus, alumnus STT Jakarta yang merupakan pendeta di Gereja Protestan Bali yang sedang studi S2 di STT Jakarta. Aku memang sudah sering bertemu dengannya, tetapi baru kemarin aku bertanya kepadanya tentang Bali. Wedding as business dan tentang kerukunan di sana. Tak lama, aku dan Sergio pulang ke kontrakan. Sebentar saja di kontrakan, aku ke kampus lagi. Ada bus yang harus diurus.

Tiba di kampus, aku bertemu dengan Kak Feri. Singkat cerita, tugasku untuk Ibadah Syukur ternyata bukan hanya dikerjakan olehku. Itulah sebabnya aku menyanggupi untuk menunggu bus yang masih belum datang. Bus jam 17.00 akhirnya berangkat pukul 17.00. Tepat waktu. Satu bus terakhir, akhirnya berangkat pukul 17.30. Tiba di GKI Kayu Putih 18.10, tepat saat prosesi masuk para petugas ibadah. Aku langsung ke tempatku bertugas. Ternyata memang ada untungnya bukan diriku saja yang bertugas di tempat itu.

Saat kata sambutan dari Ketua Panitia Dies Natalis dan Wisuda, aku baru menyadari kalau ada kesalahan informasi yang diterima jemaat GKI Kayu Putih tentang jam pelaksanaan Ibadah Syukur. Aku tak tahu apakah itu merupakan salahku. Tak penting juga sebenarnya untuk ditelusuri.

Saat turun dari ruang ibadah untuk makan malam, ada beberapa orang yang menanyakan hal yang sama. Kenapa tidak memegang kamera seperti biasanya. Ada tugas lain, kataku dalam hati. Lho?

Pelajaran penting hari kemarin buatku adalah aku tidak boleh sok sibuk. Harus tenang! Karena sok sibuk, aku melupakan handphoneku yang aku letakkan di atas kotak tempat persembahan. Untunglah aku menyadari kalau aku meninggalkan handphoneku ketika rombongan bus yang kembali ke kampus baru bergerak sejauh kurang lebih 250 meter dari gereja.

27 September 2010. Dies Natalis ke-76 STT Jakarta. Aku pikir aku tak mencintai STT Jakarta ini. (Kenapa kalimat penutupnya tidak nyambung begini?)

Kalasan Dalam 44B
28 September 2010
08:01

Saturday, May 15, 2010

lusindo tobing


http://lusindotobing.blogspot.com/
ini adalah sebuah blog menarik dari salah seorang alumni Sekolah Tinggi Teologi Jakarta yang saat ini menjadi pendeta di Gereja Kristen Jawa Nehemia, Pondok Indah. isinya, sejauh pengamatan saya, adalah refleksi setiap minggunya yang saya juga belum tahu berdasarkan apa. saya tadi membacanya sekilas, dan saya cukup tertarik dengan bahasanya yang sederhana.

Wednesday, March 17, 2010

Today's Public Lecture

This note is made under the 'saung' in my school. I am sitting here by myself to keep Andre's laptop while he is going to Rumah Sakit Persahabatan to arrange the transfer for his father's treatment that had an accident last night. Why do I have to sit here? It's because the bad signal reception of my modem in the library.

So, what's this note about? I guess I want to write a note about today's public lecture that was held in my school's hall.

The public lecture is about church law. It was scheduled to be started at 9.00. In fact, the lecture was started at 9.30. It was a little late because the people that came to the lecture is still only a few. Eventually it was started with only about twenty participants. The lecture was opened with short foreword and introducing by Lazarus Purwanto.

The lecturer was brought by Prof. Leo J. Koffeman, a professor of church law and ecumenism. He brought his lecture by read all of the paper's content that was also given to each participants. It took about thirty minutes for the lecturer to read the whole paper.

Requirement for an Academic Approach of Church Law. It was the title of the paper. Koffeman gave a brief description about the position of church law in the churches and theological school. It's no wonder that the church law has a little amount of "peminat". (I'm the only one from the undergraduate program that was coming to the lecture.)

I'll go straight to the requirements needed, according Koffeman, so church law deserves a place at the theological faculty. The church law need to be critical in order to fight conservatism; ecumenical in order to fight confessional narrow-mindedness; missionary in order to fight introversion; contextual in order to fight uniformity; juridicial in order to fight legalism. That's the very short summary of Koffeman's paper.

I now will write down some questions and statements that raised by the participants:
Pak Kadarmanto:
conflicts often rooted by the lack of understanding of church law. So, we need more scholars in church law (?); Indonesia churches tend to be legalism; Koffeman's approaches enlightening.
Lia Wetangterah:
"why is there no biblical approach?"
Nurselli:
"saya termasuk orang yang frustrasi terhadap tata gereja"; gereja mencontoh hukum negara

Actually there's still another note that can be added here. Since it's already dark here under the "saung", this note will be added someday. (I guess it will never be added!)

Saung STT Jakarta
17 Maret 2010
18:15

Wednesday, February 10, 2010

Kay Poh

Pagi ini setelah selesai makan pagi seusai kuliah pagi, aku tanpa alasan yang jelas nimbrung  dengan Pak Syahri, Pak Mul, dan Pak Udin. Mereka sedang sibuk mengurus loker yang tadi pagi sedang akan dibersihkan. Untuk membersihkan loker-loker itu, mereka harus membuka setiap loker dengan kumpulan kunci yang ada pada mereka. Seharusnya pekerjaan membuka setiap loker dan membersihkannya merupakan pekerjaan yang mudah. Hanya saja ada kesemrawutan yang luar biasa untuk permalahan loker di kampusku.

Pertama, letak loker yang tidak teratur dengan nomor loker juga tidak ada yang berurutan. Sebagai contoh, di barisan loker yang paling dekat dengan kantin kampusku ada sekitar sepuluh loker yang nomornya sangat acak. Setelah nomor 35, langsung nomor 40, dan langsung nomor 108, dst. Kedua, kunci loker yang ada terkumpul dengan kategori yang terlalu luas. Satu lemari loker terdiri dari tiga pintu. A, B, dan C dan terdapat 110an loker di kampusku. Kunci-kunci itu dikumpul malah hanya dalam tiga kategori: kunci yang nomor pintunya berakhiran A, B, dan C. Jadi, kalau mau mencari 77A (nomor lokerku), aku harus mencari di kumpulan kunci berakhiran A yang terdiri dari 110an kunci.

Mau tahu apa yang Pak Syahri, Pak Mul, dan Pak Udin lakukan tadi? Pak Mul mengambil satu per satu kunci di dalam kotak kunci A, membacakan nomornya, sedangkan Pak Syahri dan Pak Udin memerhatikan apakah nomor yang disebutkan Pak Mul merupakan salah satu dari 10an loker yang ada di dekat kantin. Melihat mereka melakukan itu, aku membayangkan mereka akan butuh waktu yang sangat lama hanya untuk membuka setiap loker yang nomor pintunya berakhiran A. Belum yang berakhiran B. Belum yang berakhiran C.

Setelah mereka selesai membuka pintu loker dengan nomor pintu berakhiran A yang di dekat kantin dan hendak melanjutkan ke bagian lain, aku tanpa tahu malu meminta kotak kunci yang dipegang Pak Mul. Tanpa menjelaskan apa yang akan aku lakukan, aku langsung mengambil satu per satu kunci dari kotak kunci itu dan meletakkannya di atas meja tenis meja berdasarkan nomor puluhan dari kunci itu. Aku membaginya ke 10 kategori: kunci dari nomor 1 hingga nomor belasan, kunci dengan nomor duapuluhan, kunci dengan nomor tigapuluhan, dan seterusnya hingga kunci dengan nomor di atas seratus. Dengan melakukan itu, mereka akhirnya lebih mudah untuk mencari kunci untuk loker tertentu. Karena mereka, ditambah Mas Trisno, sibuk membuka dan mengeluarkan isi loker (bila masih berisi), aku akhirnya memutuskan untuk melakukan hal yang sama untuk kotak kunci pintu loker berakhiran B dan C. It took about 40 minute to do so. Setelah aku menyelesaikan pekerjaanku, aku ke perpustakaan.

Apa yang aku dapat dari kejadian tadi pagi ini? Aku tahu kalau ada yang meninggalkan bra di lokernya, ada pula yang meninggalkan makanan di dalam kotak. Aku juga melihat sendiri kalau banyak kunci loker yang hilang, entah itu belum dipulangkan oleh yang memakai, atau Bagian Umum tidak menjaga dengan baik keberadaan setiap kunci. Bukankah seharusnya setiap loker memiliki minimal satu kunci serap? Yang paling penting: pengkategorian itu penting. Sama seperti yang tadi pagi dipelajari di kuliah pagi ini, kategori pendekatan di dalam pendidikan religius memudahkan kita untuk mengidentifikasi pendidikan religius macam apa yang kita lakukan.

Nah, kekuranganku di dalam tulisan ini: kay poh. Aku pikir menulis tulisan ini pun sebenarnya tidak perlu. Bukankah tangan kananku tidak boleh tahu apa yang dilakukan oleh tangan kiriku?

Kamarku, Abednego Residence
10 Februari 2010
23:00

photo: the C keys

Friday, October 23, 2009

Abednego: Gokil

Abednego. Nama itu ditetapkan beberapa hari sebelum Jalan Salib di Parigi dalam rangkaian acara OSMABA 2005 (Agustus 2005). Saya sendiri tidak tahu siapa yang menetapkan nama itu menjadi nama angkatan kami. Singkat cerita, nama itu tetap menjadi nama angkatan kami, mahasiswa S1 STT Jakarta angkatan 2005, hingga saat ini.

Abednego sendiri seingatku merupakan singkatan dari Angkatan Bandel, Nekad, dan Gokil. Namanya memang Alkitabiah karena Abednego merupakan salah satu tokoh di dalam kitab Daniel. Begitu tahu singkatannya, sepertinya orang tahu kalau itu tidak Alkitabiah sama sekali. Kembali ke kepanjangan dari Abednego, saya belakangan menyadari kalau kepanjangan Abednego lebih cocok Anak-anak Bandel, Nekad, dan Gokil. Sehingga bila disebutkan angkatan Abednego, tidak terjadi perulangan kata 'angkatan'. Nice, I thought.

Hari ini kelas kami menjadi kelas yang mengkoodinir ibadah Jumat siang di Kapel STT Jakarta. Salah satu ciri kelas kami terlihat dalam proses persiapan ibadah tadi: gokil. Walau saya tidak mengikuti secara keseluruhan prosesnya, saya tahu letak kegokilan teman-teman sekelasku dalam mempersiapkan ibadah tadi siang. Tata liturgi disiapkan oleh Yosafat. Itu sih biasa. Yang gokil, kami tidak menunjuk siapapun untuk menjadi pengkhotbah hingga kemarin. Saya yakin penentuan bahwa tidak ada yang khotbah untuk ibadah tadi siang baru dilakukan kemarin siang. Pengganti khotbah ditampilkan semacam refleksi dalam pertunjukan drama yang menurut teman saya mengacu pada Metode Bercerita dalam kuliah Metode Mengajar. Yang gokil dari pertunjukan drama itu: skrip disiapkan oleh Jeremia Hutajulu bersama Stepanus Bungaran dalam waktu semalaman saja. Latihan untuk melakukan pertunjukan tadi pun baru dilakukan paling cepat setelah jam 9.30. (Saya tahu itu karena Jeremia dan Stepanus masih di KGJ sewaktu saya pulang untuk mandi ke KGJ setelah kuliah jam pertama.)

Saya tidak tahu penilaian orang lain terhadap jalannya "pertunjukan" di ibadah tadi siang. Pendapat saya, naskah drama yang disiapkan oleh Jeremia dan Stepanus cukup mengena dengan teks Alkitab yang menjadi bahan khotbah, yaitu dari Matius 11:25-30. Dan jalannya ibadah, walau di banyak bagian saya akui kurang menunjukkan bahwa teman-teman saya sudah lulus kuliah Memimpin Ibadah, berjalan cukup baik.

Mau tahu pendapat beberapa di antara kami tentang ibadah tadi siang? "Pasti hasilnya lebih buruk kalau ini dipersiapkan dari seminggu yang lalu!"

Well done, Abednego. We are gokil.

KGJ di KGJ
23 Oktober 2009
20:08

tulisan ini adalah pendapat pribadi. *halah, penting gak sih?*

Tuesday, October 13, 2009

My Simposium


captured by Obaja Takain

foto-foto dari Simposium 75 Tahun STT Jakarta

Monday, September 8, 2008

Th van den End, Apulman Saragih, dan Givendra Saragih

Ada yang tahu siapa Th van den End? Dia adalah penulis beberapa buku sejarah gereja atau kekristenan di Indonesia. Antara lain bukunya adalah Harta dalam Bejana, Ragi Carita 1 dan Ragi Carita 2. Beliau pernah mengajar mata kuliah historika di STT Jakarta pada tahun 1970an.

Ada yang tahu siapa Apulman Saragih? Dia adalah mahasiswa STT Jakarta pada tahun 1974-1979. Dia menulis skripsi tentang Sinalsal, sebuah majalah yang diterbitkan di Simalungun pada tahun 1930an oleh JW Saragih (?). Dia menulis skripsi dengan dosen pembimbing Pak Th van den End. Lingkup penulisan skripsi Apulman Saragih memang berhubungan dengan sejarah gereja khususnya sejarah GKPS.

Ada yang tahu Givendra Saragih? Itu saya. Tak perlu penjelasan panjang.

Nah, tadi saya berkesempatan berbicara dengan Th van den End. Saya sedang menggunakan internet di komputer perpustakaan ketika beliau mengucapkan salam "selamat malam" kepada saya. Beliau juga ingin menggunakan komputer di perpustakaan untuk mengakses internet.

"Lambat sekali internetnya. Apa punya Anda juga seperti itu?" tanyanya kepada saya karena melihat website MSN yang terbuka di Internet Explorernya cukup lama ter-loaded.
"Hampir sama saja, Pak" saya menjawab seadanya.

Beliau kemudian membuka website berbahasa Belanda. Saya pun memberanikan bertanya pada beliau. "Pak, Bapak masih mengingat mahasiswa-mahasiswa Bapak selama di sini?"
"Ya?" tanyanya. Saya mengulang kembali pertanyaan saya karena sepertinya beliau kurang mendengar pertanyaan saya.
"Sebagian besar, ya. Tapi tidak semua. Kenapa?"
"Bapak masih ingat mahasiswa Bapak yang menulis skripsi tentang Sinalsal?"
"Apulman Saragih?"
"Iya, Pak."
"Anda anaknya?"
"Iya, Pak."
"Senang sekali bisa bertemu dengan anaknya Saragih. Saya dengar dia sudah meninggal ya? Karena kecelakaan?"
"Iya, Pak."

Beliau kemudian bercerita mengenai keinginannya yang sudah lama untuk menjadikan skripsi Saragih sebuah buku. Mengenai ini dulu saya juga sudah pernah dengar di rumah. Akan tetapi, tidak pernah terealisasi karena alasan yang saya juga tidak tahu.

Beliau menyarankan agar ada yang mengetik ulang skripsi Saragih dan mengeditnya.
"Anda tentu punya skripsinya bukan?" Saya menjelaskan bahwa skripsi Saragih hilang di Batam. Beliau kemudian mengatakan kalau dia masih memiliki skripsi-skripsi yang penulisnya beliau bimbing dan juga yang berhubungan dengan sejarah gereja.

Yang mengejutkan adalah beliau bertanya kepada saya bagaimana kalau saya melanjutkan pekerjaan Saragih. Waduh, Pak. Saya kurang berminat belajar Sejarah Gereja. Beliau kemudian bercerita tentang skripsi Saragih yang secara deskriptif bagus, "tetapi seperti kebanyakan mahasiswa di sini analisis teologisnya masih kurang." Nilai lebih dari skripsi Saragih menurut beliau adalah kemampuan Saragih mengerti bahasa daerah, yaitu Simalungun, yang merupakan bahasa yang dipakai dalam Sinalsal. "Sepandai-pandainya kami (orang asing) berbahasa Indonesia, tentu orang Indonesia yang lebih mengerti bahasanya. Begitu juga dengan Sinalsal."

Saya bercerita kepada beliau kalau saya pernah membaca buku harian Saragih yang berisi tentang Saragih bertemu dengan van den End untuk membahas terjemahan dari Sinalsal. "Oh, dia punya catatan harian?" Selain membahas skripsi dengan End, dalam catatan harian itu Saragih juga menuliskan mengikuti kuliah khotbah yang diajar oleh End.

Saya juga diberikan alamat emailnya agar saya dapat mengingatkannya untuk mengcopy dan membawa skripsi Saragih dari Belanda pada kunjungannya yang berikut.

"Saya beruntung bisa bertemu Anda. Kalau tahun depan mungkin saya sudah tidak ada lagi" ucapnya di akhir-akhir perbincangan kami.

Yah, kurang lebih begitulah cerita perjumpaan saya, Givendra Saragih, dengan Th van den End, dosen pembimbing skripsi Apulman Saragih, almarhum Bapak saya.

Pertanyaannya: akankah saya menjadi penerus Apulman Saragih?

Kamar Gak Jelas, Kontrakan Gak Jelas, Kalasan Dalam 44B, Jakarta
8 September 2008
23:59

Saturday, November 24, 2007

Kesan Seorang Dosen II

Entahlah.. Gue sepertinya lagi senang aja membuat kesan dosen gue terhadap kami, mahasiswanya, tetapi dari sudut pandang gue sendiri.

Kali ini, kesan dosen yang ingin gue tulis di sini adalah kesan Bu Ruth Kadarmanto, dosen yang mengajar kami mata kuliah Psikologi Pendidikan Kristiani semester ini.

Kesannya adalah: "Mahasiswa suka terlambat. Sampai-sampai saya harus menyampaikan bahwa suami saya tidak suka mahasiswa terlambat sewaktu suami saya hendak mengajar mengenai Multiple Intelligence beberapa waktu lalu. Saat suami saya mengajar waktu itu, tidak ada yang terlambat, tetapi setelah itu mereka suka terlambat lagi. Jumat kemarin, beberapa mahasiswa malah masuk kelas setelah saya sudah mulai mengajar. Ini menjengkelkan."

Thursday, August 23, 2007

gue dan sekolahku

Gue sekarang kuliah di sebuah sekolah yang umurnya 73 tahun pada bulan September nanti. Orang tahunya kalau sekolah gue adalah sekolah pendeta, which is not (or I may say not anymore). Karena kebanyakan orang tahunya sekolah gue adalah sekolah pendeta, people's expectation from us, the students, hampir seragam. People expect us as angels. People also think that we just learn about how to preach and so on.

If you read this blog entry, would you please tell me what do you think about my school - Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Gue pengen tahu aja gimana sih pandangan orang tentang sekolah gue...

(foto adalah foto dosen tetap dan wisudawan sewaktu acara Wisuda STT Jakarta 2007)

Wednesday, January 24, 2007

Foto untuk Brosur Kampus




Kemarin gue disuruh untuk mengambil foto untuk brosur kampus gue. Gue memang belum menyanggupinya. Gue malah hanya bilang kalau gue punya beberapa foto gedung kampus gue. Jadi, foto-foto inilah foto gedung kampus gue yang pernah gue foto -isengly-. Gak tahu deh yang mana yang paling bagus. Menurut Anda, yang mana yang paling bagus untuk dijadikan foto di brosur kampus gue?

Tuesday, January 23, 2007

Need Opinion: Foto untuk Brosur Kampus

Gue memang bukan seorang fotografer -hanya tukang foto yang tak punya kamera. Tetapi, BAA kampus gue minta tolong gue untuk mengambil beberapa foto untuk dijadikan bagian brosur untuk pendaftaran mahasiswa baru kampus gue.


Yang menjadi pertanyaan gue: bagian apa saja yang seharusnya gue foto? Terus, gedung kampus gue -gedung yang paling bagus- bertingkat 5. Anglenya yang bagus dari mana ya?

Tuesday, December 5, 2006

Donor Darah Pertama Gue

Tanggal 1 Desember 2006 yang lalu, di kampus saya terdapat kegiatan donor darah. Kegiatan ini merupakan bagian dari bakti sosial yang diadakan menyambut perayaan Advent yang dilaksanakan kampus kami tanggal 9 Desember mendatang.


Saya merupakan salah satu orang yang sebelumnya belum pernah melaksanakan donor darah. Dulu memang pernah ada kesempatan untuk ikut donor darah di kampus saya yang lama di Dayeuhkolot, Bandung. Tetapi karena saya tidak tahu menahu apa saja syarat yang diperlukan untuk mendonorkan darah saya, saya sama sekali tidak pernah ikut. Dan tanggal 1 Desember kemarin saya menggunakan kesempatan yang ada untuk mencoba mendonorkan darah saya. Saya memilih untuk ikut sebenarnya sekalian supaya mudah mengingat kapan pertama kali saya ikut donor darah. Hari AIDS Sedunia tahun 2006.


Sebelum melaksanakan donor darah, setiap calon donor diminta untuk mengisi formulir berwarna merah. Beberapa hal penting yang diisi di dalam formulir adalah data pribadi, riwayat penyakit yang pernah dimiliki, sedang sehat atau tidak, dan apakah dalam seminggu ada mengkonsumsi obat.


Saya sendiri tidak begitu mengerti, bahkan sampai sekarang, sebenarnya syarat penting yang harus dimiliki calon donor itu apa. Saya hanya mendengar pembicaraan dari mulut ke mulut kalau orang yang memiliki berat badan di bawah 50, orang yang masih berusia 20 tahun ke bawah, orang memiliki penyakit darah rendah ataupun darah tinggi, orang yang baru saja mendonorkan darahnya, wanita yang sedang haid, orang yang baru saja sakit tidak boleh mendonorkan darahnya. Entah apa yang menjadi dasar ilmiah dari setiap orang-orang tersebut tidak boleh mendonorkan darahnya, saya masih tidak tahu.


Yang pasti, tanggal 1 Desember kemarin saya telah mendonorkan darah saya yang bergolongan A sebanyak 250 cc. Sebanyak 5-10 cc darah saya juga telah diambil untuk dites oleh PMI untuk mengetahui darah saya layak ditransfusikan kepada orang yang membutuhkan. Jika ternyata darah saya tidak layak, atau saya tidak boleh lagi mendonorkan darah saya, entah karena ternyata saya memiliki penyakit tertentu dari hasil tes tersebut, maka PMI akan mengirimkan surat pemberitahuan ke alamat saya. Kalau pernyataan "orang yang mendonorkan darahnya akan semakin sehat" benar, maka selain saya makin sehat, bagi saya hikmah mengikuti donor darah di hari AIDS Sedunia 2006 adalah bisa memberikan darah saya untuk dites (katanya sih termasuk tes HIV). Dan kalau darah saya baik-baik saja, maka saya telah turut membantu orang yang membutuhkan darah bergolongan sama dengan saya.


Saya pikir di kemudian hari saya akan tetap mendonorkan darah saya.


'Darah anda berarti bagi sesama'


My Room, 6 Desember 2006
12:24AM

Monday, July 17, 2006

Mesin Absensi Berpikir Positif

Tadi pagi setelah gue selesai course pertama Intensive English Course hari ini, gue langsung ke PKM. Gue langsung nanya Mbak Trie, pegawai PKM, "Kak, tadi pagi mesin absensinya bisa dipake gak?"

"Bisa. Kenapa? Memang kalian apain?"

"Gak, kemarin gue sempet buat nyangkut kertas." Syukurlah, pikirku.

"OK deh Kak. Thanks ya, Kak," ucapku sambil langsung pergi.

See?!

Hari ini pikiran-pikiran gue dinyatakan bersalah lagi oleh kenyataan hidup. Kemarin gue pikir 44 karyawan kampus gue bakalan dirugikan karena perbuatan bodoh gue Sabtu malam yang lalu, yaitu membuat sebuah kertas nyangkut di dalam mesin itu. Ternyata, pikiran-pikiran gue hanya disangkal dengan sebuah jawaban enteng dari Mbak Trie.

Ah, gue kok susah banget ya berubah? Gue susah banget untuk berpikiran positif seperti sesuatu yang baik akan walaupun gue telah berbuat yang salah. Just name it! Udah sering banget kenyataan selalu berbeda dengan pikiran-pikiran negatif gue. Gue pikir gue bakalan dapat E karena gue gak ngumpulin mini-skripsi gue di semester lalu, kenyataannya gue malah dapat B. How come, gue juga gak ngerti. Gue pikir gue bakalan DO dari kampus gue yang lama, sampai saat ini sepertinya gue masih berstatus mahasiswa di sana. Gue pikir gue bakalan DO semester lalu hanya gara-gara gue pikir Bahasa Indonesia gue bakal dapat E, ternyata gue gak DO. Sering juga gue pikir teman gue bakal marah karena perbuatan gue, ternyata mereka biasa aja.

Untuk menutup tulisan gak penting ini, gue hanya bisa bersyukur mesin absensi karyawan STT Jakarta yang gue buat rusak ternyata gak perlu sampai diganti seperti yang ada juga di pikiran gue. Gue juga harus meminta kepada diri gue untuk mulai POSITIVE THINKING.

That's all now, PENAKUT & NILA SETITIK.


Kalasan Dalam 44B, Jakarta
15:23
17 Juli 2006
DAY-8112