Pages

Showing posts with label firsttime. Show all posts
Showing posts with label firsttime. Show all posts

Thursday, February 18, 2010

Menonton Teater Koma

Hari ini aku tidak berniat pergi ke mana-mana. Siapa yang mengira aku malah menonton pertunjukan Teater Koma untuk pertama kalinya di TIM. Malahan kedatanganku ke TIM ini adalah kunjungan pertamaku ke dalam kompleks TIM.

Aku tadi sebenarnya baru pulang menggandakan kunci kontrakan di depan Giant Megaria. Sewaktu aku menyeberang dari Megaria, Daniel meneleponku. Dia bertanya aku sedang di mana, dan lalu menawarkan tiket nonton pertunjukan Teater Koma di TIM. Awalnya aku menolak karena aku sama sekali tidak sedang tertarik ke mana-mana. Hanya saja karena Daniel mempersuasiku dengan mengatakan tiketnya berharga Rp50.000 dan temannya yang punya tiket tidak bisa datang karena sakit, aku akhirnya mengiyakan. Aku langsung menyeberang ke Halte Megaria dan naik 502.

Singkatnya, aku tadi menonton pertunjukan Teater Koma "Sie Jin Kwie".

TIM, sambil menunggu hujan reda
19 Februari 2010
01:28

Monday, January 4, 2010

It's Now or Never: 12 PM Avatar 3D

Tadi pagi aku tiba di perpustakaan sekolahku pada pukul 09.21. Aku langsung mengambil koran Kompas hari ini yang ada di rak koran. Aku memeriksa beberapa iklan menarik dan pada akhirnya memerhatikan dengan seksama jadwal tayang film di halaman terakhir. Aku mencari tahu jadwal tayang film Avatar dan juga Sherlock Holmes. Aku memang lebih tertarik untuk menonton Avatar. Masa Mamak yang datang jauh-jauh dari Medan sudah menonton bersama kakak dan kakak iparku Sabtu lalu dan aku belum? (Aku pikir film Avatar yang Mamak tonton di Bintaro 21 Sabtu lalu adalah film pertama yang Mamak tonton di bioskop setelah tahun 1970an. Ini hanya perkiraanku.)

Setelah memeriksa beberapa jadwal tayang, aku memutuskan untuk menonton Avatar 3D di Blitzmegaplex. Aku memilih untuk menonton Avatar 3D di Blitzmegaplex karena aku pikir di sana ada sub-title-nya. Yang membuat aku berpikir demikian adalah posisi Blitz-3D GI di jadwal film yang ada di Kompas. Blitz-3D tidak digolongkan di dalam film Avatar 3D tanpa subtitle.

It's now or never, pikirku. Aku berpikir demikian karena hari ini kesempatan terakhirku untuk menonton film itu. Dalam bayanganku ada banyak kegiatan dalam minggu dan yang paling tepat untuk menonton film itu hanyalah menonton Avatar 3D jam tayang pukul 12 di Blitz Grand Indonesia hari ini. Aku sebenarnya sudah sempat berpikir untuk tidak menonton film itu sama sekali. Ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan dan dikerjakan. Aku bahkan sudah sempat pulang ke rumah pada pukul 11. Hanya karena ada sesuatu hal yang menggangguku (yang membuatku berpikir kalau aku tidak akan bisa melakukan apapun dalam hal seperti itu), aku langsung memutuskan untuk kembali ke kampus. Dengan kecepatan tinggi aku mengayuh sepedaku ke kampus dan 11.30 aku sudah di kampus lagi. Aku melihat kembali jadwal film di Kompas yang ada di perpustakaan sambil bercanda sebentar dengan beberapa anak Artemis. 11.40 aku sudah berada di bus P67 yang menuju ke arah Blok-M, 11.50 di Tosari, dan 11.55 (menurut jam di tiket) aku sudah membeli tiket nonton dan langsung masuk ke Audi 9.

This is my first time watching 3D movie. And actually there was no subtitle (seperti yang aku pikirkan), but it's OK with me. The movie? Aku tercengang. I really love the movie, the graphics, the story, but a little bit merasa aneh dengan soundnya.

Setelah menonton film 3D pertamaku tadi, aku pun punya pertanyaan. Apa ya perbedaan antara 3D di Blitzmegaplex dengan 3D di jaringan bioskop 21/XXI?

Abednego Residence
4 Januari 2009
21:40

PS: Aku sebenarnya sedang agak merasa ketakutan sebelum menulis ini. Namun aku kemudian berpikir, It's now or never. Kalau tidak sekarang, aku tidak akan pernah menulis ini.

 I see you..


(photo: my first 3D movie ticket. LOL.)

Sunday, January 3, 2010

First Time?

So, this is the story. I was about to buy Attack at KFC Grand Indonesia. I already stood in front of the KFC. Two people in front of me fortunately was doing the same thing. But unfortunately the cashier said that the Attack still fifteen minutes ahead. I was also intending to buy Cream Soup KFC so I didn't go right away waiting the time would come. I then ordered Cream Soup. While waiting, I saw two girls was walking and then one of them said, "wah ada yang murah tuh," pointing to KFC and walk toward me. IMHO, it was the first time for them to be here at Foodlouver Grand Indonesia.

My order was served. I took a seat, took the picture of my Cream Soup, ate them, and not for long The Attack begun. I took the picture of the queue, and then made this on Notes.

Foodlouver Grand Indonesia
4 Januari 2010
15:25

Perjalanan ke Ragunan (1)

Perjalanan kemarin bermula dari sebuah pesan pendek dari Jeremia Hutajulu pada sekitar pukul 7 pagi mengucapkan, "Selamat natal dan tahun baru. Gbu." Aku jadi teringat rencana seminggu lalu sepulang dari kunjungan ke rumah salah satu dosen kami. Kami berencana untuk jalan-jalan juga setelah Tahun Baru. Aku bertanya pada Jere perihal itu dan ternyata dia dan Irma serta Nike dan Stephen berencana untuk pergi ke Ragunan. Aku tahu kalau pergi ke Kebun Binatang Ragunan merupakan salah satu keinginan Jere yang sudah lama terungkap tetapi belum pernah bisa terlaksana.

Berhubung yang tahu rencana jalan itu hanya sedikit, aku mengirimkan pesan pendek ke semua temanku angkatan Abednego (yang nomor handphonenya ada padaku). Isinya: "Dear Abednego,Siang ini bbrp dr kita berencana pergi k Kebun Binatang Ragunan.Just for fun.Jika tmn2 ada yg ingin ikut,silahkan datang k KGJ.Kita brgkt brsama dr sana jam 11.Confirm k gw atau Jere ya!Regards,vontho." Dari puluhan pesan pendek yang terkirim, hanya Yosev, Rita, Toar, Armand, Sondang, dan Yosafat yang membalas. Yosev berharap bisa menyusul dari Sibolga, Rita sedang pindahan, Toar ke tempat keluarga di Bekasi, Armand "ok! berangkat", Sondang ke tempat keluarga di Depok, dan Yosafat ada reunian SMPnya. Oh iya, Hendrik sempat bertanya siapa saja yang ikut.

Aku yang masih di tempat kakakku di Bintaro berangkat ke KGJ pada pukul 09.08 ke Stasiun Pondok Ranji untuk naik keretaku jam 09.20. Pukul 10.50 aku sudah mandi di alam terbuka di KGJ karena aku masalah air dan hanya aku sendiri yang ada di KGJ pada saat itu.

Aku dan Jere memang sudah sepakat untuk menyebutkan jam berangkat jam 11, dengan harapan mentok-mentok paling lama berangkat jam 12. Jam 11.10 aku sudah membuat diriku duduk di tempat tidur di ruang tamu KGJ. Armand mengirimkan pesan pendek yang mengatakan dirinya sudah di Sudirman dalam perjalanan menuju KGJ. Irma mengirim pesan pendek mengatakan Jere belum datang dan Oinike serta Stephen tidak jadi ikut. Pukul 11.40 Jere tiba dengan sebuah cerita tentang kamera. 11.50 Armand tiba dan dia langsung menyatakan Eed telah hilang. (28 Desember 2009 sewaktu aku hendak ke bandara, aku masih melihat Eed sehat walafiat.)

Kami bertiga lalu ke RM Jatim. Irma sudah di sana hendak sarapan. Tiba di RM Jatim, aku, Jere, dan Armand hanya memesan makanan untuk dibungkus sebagai makan siang di Ragunan. Kami yang pulang ke rumah keluarga dalam masa liburan ini sudah sarapan sebelum berangkat dari rumah keluarga kami masing-masing.

Sekitar pukul 12.30, Hendrik bergabung dengan kami.

(berlanjut?)

ITC Kuningan
3 Januari 2010
16:45

Wednesday, December 30, 2009

Cream Soup KFC

Aku sebenarnya ingin membuat review ini di bagain Review, tetapi tidak ada kategori yang tepat untuk review yang akan aku buat ini. Review ini adalah tentang Cream Soup KFC.

Pertama sekali aku merasakan Cream Soup KFC adalah ketika seorang teman yang berulang tahun awal Desember lalu mentraktir beberapa dari kami di KFC Cikini. Cream Soup yang hanya berharga Rp5.500 itu dibeli oleh seorang teman sebagai dessert. Aku diberi kesempatan untuk merasakan sedikit.

Kedua kalinya aku menikmati seporsi (atau lebih) Cream Soup KFC adalah di KFC Pondok Indah Mall 1. Waktu itu kami hendak ke rumah seorang dosen kami dan mampir di PIM1 untuk menunggu teman kami yang membawa mobil.

Ketiga kalinya aku menikmati Cream Soup KFC adalah di KFC Plaza Senayan ketika beberapa hari yang lalu rombongan Eydro berjalan-jalan ke sana. Kali ini aku memang sengaja membeli Cream Soup itu untuk membandingkan rasanya dengan Cream Soup di dua tempat sebelumnya.

Waktu makan Cream Soup di KFC PIM1, Daniel (teman yang Cream Soup-nya aku cicipi di KFC Cikini) mengatakan kalau rasa Cream Soup di PIM1 lebih enak dari Cream Soup di KFC CIkini. "Kalau yang di Cikini lebih encer," ujarnya. Aku juga berpendapat demikian. Rasa penyedap rasa di Cream Soup KFC Cikini juga sangat terasa. Waktu itu aku dan Daniel berpendapat Cream Soup KFC PIM1 lebih enak. "Kalau mau makan Cream Soup KFC, sebaiknya di KFC PIM1," ucap kami bercanda. Niat banget gak sih mau makan Cream Soup  KFC yang harganya 5500 rupiah harus ke PIM dulu?

Cream Soup KFC Plaza Senayan, menurut lidahku yang tidak pernah terlalu mempermasalahkan rasa, memiliki rasa yang kurang lebih sama dengan Cream Soup KFC PIM1. Sekental yang di PIM1, tetapi rasa penyedap rasanya cukup terasa juga seperti di KFC Cikini.

Pertanyaannya: memang beda ya rasanya di setiap KFC? Dari pengalamanku makan Cream Soup di 3 KFC berbeda sih jawabannya sepertinya iya. Bagaimana menurut Anda?

Eydro's Residence
31 Desember 2009
13:34

(foto: Cream Soup KFC Plaza Senayan)

Friday, December 18, 2009

My First Time in MOI

Aku sangat mengantuk. Ini karena aku kurang tidur kemarin malam. Entah kenapa aku malah susah tidur setelah semua tugas selesai (setidaknya untuk yang benar-benar harus dikumpulkan dalam minggu UAS kemarin).

Sekarang aku masih di Mall of Indonesia (MOI) Kelapa Gading. Ini pertama kalinya aku datang ke sini. Hanya saja aku ke sini bukan dalam rangka jalan-jalan. Aku diminta untuk mendokumentasikan penampilan KMK STT Jakarta dalam perlombaan paduan suara yang diselenggarakan oleh Jaya Suprana School of Arts. Perlombaannya sudah selesai dan KMK mendapat posisi juara Harapan II dari peserta yang hanya berjumlah 9 kelompok paduan suara. FYI, IMHO jurinya bukanlah juri yang biasa untuk menilai penampilan paduan suara. KMK memberikan partiturnya, tetapi sama sekali tidak dipakai oleh ketiga jurinya. Memang salah satu jurinya adalah salah satu personil Penta Boyz, tetapi dari cara mereka menilai (juara 1 yang mereka pilih adalah paduan suara yang melakukan kesalahan fatal di awal mereka bernyanyi) terlihat bahwa mereka tidak cocok menjadi juri lomba paduan suara.

Mengenai penyelenggaraan, panitia sangat tidak siap. Kurang memperhatikan buku Joining Together dalam mata kuliah Proses Kelompok. (Nah, lho?) Pokoknya sangat terlihat ketidak-profesionalannya dalam menyelenggarakan lomba paduan suara.

Di awal aku mengetik tulisan ini di hapeku, aku memang mengantuk. Akan tetapi, sekarang aku sudah tidak mengantuk lagi. Aku duduk di atas panggung yang entah untuk apa ada di depan Centro MOI ini sambil menunggu Yosafat dan Daniel mencari-cari apa yang hendak mereka beli.

Aku beralih ke topik lain. Hari ini aku melihat sepasang kekasih yang masih baru jadian berjalan bergandengan tangan di MOI. Hmmm... Aku senang melihatnya, sekaligus cemburu.

Aku sudah capek mengetik ini lebih dari 15 menit lamanya. Aku pikir aku sebaiknya berhenti saja. Aku sudahi tulisanku ini dengan sebuah ucapan, "sampai jumpa."

MOI
18 Desember 2009
18:14

Thursday, October 15, 2009

Catatan Pemandu Hari Ini

Hari ini aku bangun jam 06.00. Tepatnya di lantai ruang tamu rumah kontrakan temanku. Aku bangun, lalu tidur lagi. Aku baru meninggalkan rumah kontrakan temanku jam 06.30. Aku sudah sempat tidak ingin masuk kuliah karena aku merasa tubuhku agak demam. "Whatever," pikirku. Aku jadinya malah mandi. Kalau akhirnya jadi tambah sakit, aku pun tidak peduli.

Aku hendak berangkat ke sekolah sewaktu Wilson juga hendak berangkat menaiki sepeda Hans. "Gue yang pake dong," pintaku yang terkesan memerintah sebenarnya. "Mengalahlah sama orang yang lebih tua dan sedang sakit," ucapku untuk membenarkan permintaanku.

Aku lalu mengikuti kuliah Memimpin Ibadah. Aku senang mengikuti kuliah ini karena setiap mengikuti kuliah yang diajar Pak Rasid Rachman ini aku merasa ada sesuatu yang menarik dari apa yang diucapkan oleh Pak Rasid. Sayangnya, perkataan-perkataan Pak Rasid itu seperti benih yang tumbuh di tanah yang berbatu saja. Aku gembira mendengarnya, tetapi tak lama kemudian aku akan lupa apa yang pernah dikatakannya.

Selesai kuliah, aku sarapan. Dan entah kenapa, aku malah jadi ikut lagi menemani para turis dari Filipina jalan-jalan. Kalau kemarin mereka jalan-jalan ke Sarinah di Jalan Thamrin, tadi siang mereka jalan-jalan ke ITC Mangga Dua. Pengalaman pertama juga buatku untuk jalan-jalan ke ITC Mangga Dua. Yang berbeda dari hari ini dengan yang kemarin adalah: mereka tidak terlalu banyak berfoto-foto karena sudah diingatkan untuk berhati-hati.

Entah apa yang ada di dalam pikiranku sewaktu aku mengiyakan akan menemani seorang di antara turis itu untuk ke Atrium Senen lagi. Yang pasti, tadi siang aku jadinya menemani dua di antara 15 turis Filipina itu untuk membeli Batik di Matahari Atrium Senen. Pengalaman menarik: Gladys (entah begitu tulisannya aku tak tahu), meninggalkan tas kecil barang belanjaannya di fitting room. Aku jadinya harus berlari ke tempat fitting room dan meminta kasir tempat kami membayar tadi mengambil barang yang tertinggal itu. (Sekarang aku malah berpikir, kenapa aku harus minta tolong pada kasir itu ya? Bukankah fitting room biasanya untuk siapa saja, tidak ada perbedaan antara fitting room untuk laki-laki dan perempuan?)

Aku sebenarnya masih ingin menulis lebih panjang dari ini, tetapi aku harus melakukan tugasku yang lain: membuat gambar untuk cover CD. Sepertinya aku harus menyimpulkan sesuatu untuk tulisanku ini. Hari ini: menarik. Thanks to friends that involved in my life today.

KGJ
15 November 2009
23:50

Thursday, June 14, 2007

My First "Tabrak Lari"

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Dalam hal mengendarai sepeda, pepatah itu akhirnya benar adanya bagi gue. Kemarin, setelah setahun gue menjadi pemakai paling banyak sepeda bermerk Polygon milik teman sekontrakan gue, akhirnya gue nabrak juga.

Gue memang dapat digolongkan ke dalam pengendara kurang sopan di jalanan. Walaupun hanya mengendarai sepeda, gue bisa membuat pengendara lainnya yang ada di jalanan harus hati-hati atas pergerakanku. Gue sih gak punya rasa takut bakal ditabrak. Paling jatuh.. Gue pun punya perasaan kalau gue gak bakalan menabrak apapun di jalan. Gue percaya aja dengan kemampuan gue bersepeda dan kemampuan sepeda gue.

Tetapi tidak kemarin. Agak sore, sepertinya sudah jam pulang kantor, gue langsung ngebut aja di daerah Pasar Rumput. Gue kurang menyadari kalau rem sepeda yang gue kendarai sudah kurang memadai untuk berhenti dari kecepatan 40 km/jam (memang nyampe gitu kecepatannya segitu?) menjadi 0 km/jam dalam waktu kurang dari 2 detik, atau hanya butuh sekitar 5 meter untuk berhenti total. (Halah, istilahmu itu lho, Nak..) Kalau dalam pelajaran Fisika di SMU dulu, itu berarti nilai perlambatannya yang disimbolkan dengan a (acceleration bukan ya? nilainya harus minus dong! kan perlambatan) masih kurang besar. Intinya, gue nabrak. Brakk.. Ban depan sepeda gue menabrak bemper mobil Suzuki Baleno berwarna biru (platnya gak gue catat.. kok malah gue yang butuh plat mobilnya, ya??) Ban belakang sepeda gue sampai naik karena ban depan sepeda gue berhenti dan masih ada kecepatan di ban belakang sepeda gue sewaktu menabrak mobil itu.

Gue langsung membenarkan posisi sepeda gue. Gue lihat yang punya mobil melihat ke arah spion yang terletak di dalam mobil, sepertinya mencari-cari siapa yang nabrak mobilnya. Gue gak mau ngambil resiko nunggu di belakang mobilnya sampai dia sadar kalau yang nabrak mobil dia itu adalah gue dan sepeda gue. Gue langsung kabur aja dengan kecepatan tinggi (secepat apa sih kecepatan sepeda?) dari sisi kanan mobil itu, menembus sela-sela mobil yang merayap, masih dengan rasa kuatir akan nabrak lagi karena remnya udah gak beres.

Finally, I can escape from my first "tabrak lari." Gue gak tahu apakah pengendara mobil itu akhirnya sadar atau tidak kalau gue yang nabrak mobilnya. Kalaupun dia sadar, sayang sekali dia gak bisa mencatat plat sepeda gue. (For that, gue harus bersyukur sepeda gak pake plat nomor kendaraan!) Terus, dia juga gak bisa bermanuver seperti sepeda gue untuk mengejar gue di tengah kemacetan di daerah Pasar Rumput. (For that, gue juga harus bersyukur yang gue tabrak adalah mobil, bukan motor.)

Tak lama kemudian, gue parkir sepeda gue di depan Ultra di Jalan Sahardjo, tempat yang gue tuju kemarin sore. Gue pun meminjam 6 film dan pulang dengan cara berkendara yang sedikit lebih sopan.

Buat pengendara Suzuki Baleno berwarna biru yang merasa ditabrak oleh sesuatu di Jalan Sultan Agung, pada hari Rabu, 14 Juni 2007, pada sekitar pukul 17-18, saya minta maaf telah membuat Anda menjadi korban tabrak lari pertama saya. (Wait a minute, memang akan ada korban tabrak lari berikutnya?)

Wednesday, January 31, 2007

Jangan Rese. OK?!

Gue gak ingat kapan pertama kalinya gue ketombean. Tetapi seingat gue waktu SMP kelas 1 gue udah ketombean. Bahkan pernah waktu itu gue menggaruk kulit kepala gue, ketombe yang berjatuhan seperti salju yang turun di kota Medan.


The fact is sekarang ini gue punya masalah besar dengan benda gak penting di kepala gue yang bernama ketombe ini. Bukan yang pertama kalinya sih. Dulu udah pernah agak berkurang karena gue pake shampoo anti-ketombe Selsun Gold (mahal,euy). Terus, karena perasaan gue bilang udah berkurang, gue ganti ke shampoo yang biasa aja. Para ketombe pun muncul kembali. Lalu, Desember lalu sewaktu pulang ke Medan, gue beli shampoo anti-ketombe produk keluaran Nerill (mahal juga sih, malah lebih mahal dari Selsun Gold). Dan ternyata efeknya tidak sedrastis sewaktu memakai Selsun Gold. Bahkan cenderung mempermainkanku. Terkadang ketombe gue jadi sedikit, dan lebih sering ketombe gue malah seperi berkata "gak ngaruh kalee.."


And guess what? Dua orang teman sekontrakanku pun sekarang mengalami hal yang sama. Ketombean dengan kondisi cukup akut kayak gue. Air yang kami pakai di kontrakan pun sempat kami jadikan kambing hitam ketombe semakin rame aja di kepala. Gak tahu juga sih apa memang benar air di kontrakan mempengaruhi jumlah ketombe di kepala kami.


I guess we need some solution. Kalau gue sih berencana untuk memakai Selsun Gold lagi walaupun efek sampingnya rambut bakalan jadi keras (kalau pakai Nerill rambut gue malah jadi lembut). Dan kalau tetap tidak berkurang, the last solution adalah memplontos kepala. Sayangnya solusi ini juga kurang mengenakkan. Kalo kepala gue gue plontos sewaktu ketombe gue banyak, pastilah kepala gue terlihat banyak putih-putihnya. Dan ini malah menimbulkan masalah baru.


Don't know lagi lah mau buat apa ama ketombe gue. Mungkin gue hanya bisa bilang ama para ketombe gue, "Baik-baik ya, Ketombes! Loe pade boleh deh tinggal di kepale gue. Tapi jangan terlalu rame dan jangan rese. OK?!"

Monday, January 15, 2007

Surat Cinta Pertama

Tadi gue dapat surat cinta..
Ini bukan dari seorang cewek..
Dari BAA..
Parahnya ada tembusan ke rumah..
Ah.. Semoga menjadi surat cinta terakhir untukku..


Semangat!

Tuesday, December 5, 2006

Donor Darah Pertama Gue

Tanggal 1 Desember 2006 yang lalu, di kampus saya terdapat kegiatan donor darah. Kegiatan ini merupakan bagian dari bakti sosial yang diadakan menyambut perayaan Advent yang dilaksanakan kampus kami tanggal 9 Desember mendatang.


Saya merupakan salah satu orang yang sebelumnya belum pernah melaksanakan donor darah. Dulu memang pernah ada kesempatan untuk ikut donor darah di kampus saya yang lama di Dayeuhkolot, Bandung. Tetapi karena saya tidak tahu menahu apa saja syarat yang diperlukan untuk mendonorkan darah saya, saya sama sekali tidak pernah ikut. Dan tanggal 1 Desember kemarin saya menggunakan kesempatan yang ada untuk mencoba mendonorkan darah saya. Saya memilih untuk ikut sebenarnya sekalian supaya mudah mengingat kapan pertama kali saya ikut donor darah. Hari AIDS Sedunia tahun 2006.


Sebelum melaksanakan donor darah, setiap calon donor diminta untuk mengisi formulir berwarna merah. Beberapa hal penting yang diisi di dalam formulir adalah data pribadi, riwayat penyakit yang pernah dimiliki, sedang sehat atau tidak, dan apakah dalam seminggu ada mengkonsumsi obat.


Saya sendiri tidak begitu mengerti, bahkan sampai sekarang, sebenarnya syarat penting yang harus dimiliki calon donor itu apa. Saya hanya mendengar pembicaraan dari mulut ke mulut kalau orang yang memiliki berat badan di bawah 50, orang yang masih berusia 20 tahun ke bawah, orang memiliki penyakit darah rendah ataupun darah tinggi, orang yang baru saja mendonorkan darahnya, wanita yang sedang haid, orang yang baru saja sakit tidak boleh mendonorkan darahnya. Entah apa yang menjadi dasar ilmiah dari setiap orang-orang tersebut tidak boleh mendonorkan darahnya, saya masih tidak tahu.


Yang pasti, tanggal 1 Desember kemarin saya telah mendonorkan darah saya yang bergolongan A sebanyak 250 cc. Sebanyak 5-10 cc darah saya juga telah diambil untuk dites oleh PMI untuk mengetahui darah saya layak ditransfusikan kepada orang yang membutuhkan. Jika ternyata darah saya tidak layak, atau saya tidak boleh lagi mendonorkan darah saya, entah karena ternyata saya memiliki penyakit tertentu dari hasil tes tersebut, maka PMI akan mengirimkan surat pemberitahuan ke alamat saya. Kalau pernyataan "orang yang mendonorkan darahnya akan semakin sehat" benar, maka selain saya makin sehat, bagi saya hikmah mengikuti donor darah di hari AIDS Sedunia 2006 adalah bisa memberikan darah saya untuk dites (katanya sih termasuk tes HIV). Dan kalau darah saya baik-baik saja, maka saya telah turut membantu orang yang membutuhkan darah bergolongan sama dengan saya.


Saya pikir di kemudian hari saya akan tetap mendonorkan darah saya.


'Darah anda berarti bagi sesama'


My Room, 6 Desember 2006
12:24AM

Thursday, October 5, 2006

Install Ulang Windows

Hari ini gue terpaksa menginstall ulang Windows XP Professional yang terpasang di komputer gue. Mengapa terpaksa?



Tadi pagi, di layar komputer gue ada tulisan yang bilang salah satu
file system di folder WINDOWS/system corrupt atau missing sewaktu gue
coba booting ulang komputer gue. Di layar itu juga disertakan
rekomendasi untuk memperbaiki masalah booting komputer gue yang gagal.
Rekomendasinya adalah booting ulang komputer gue dengan CD Windows XP
Professional di dalam CD-ROM dan tekan "r" ketika jendela Setup Windows
XP Professionalnya muncul untuk mencoba repair.



Permasalahannya gue gak punya CD Windows XP Professional yang bootable.
Gue aja baru tahu kemarin malam di mana CD WinXP -gak bootable- gue
yang selama ini gue cari. Ternyata selama ini ada sama teman gue.
(Padahal sebelumnya dia udah pernah deh gue tanya, dan waktu itu dia
bilang gak ada.) Gue baru minta dia untuk mengembalikan CD itu
secepatnya setelah terdapat pesan yang gak gue inginkan itu muncul di
layar komputer gue.



Gue pun mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk mengembalikan
keadaan komputer gue bisa menjadi seperti semula lagi, yaitu bisa
digunakan.



Singkat cerita, inilah hal-hal yang gue lakukan tadi:


  • pergi ke PKM untuk tanya Mas Chandra apakah dia punya CD Windows
    XP. Hasil: Ada, tetapi sedang dipakai. Itu juga WinXP Service Pack 2.
    Gue butuhnya yang Service Pack 1, karena gue pengen coba repair aja.

  • pulang ke rumah

  • pergi ke kampus lagi dengan membawa CD-RW yang berisi, disket
    putih dari kamar Armand. Tujuan: membuat disket Startup Windows 98 dan
    lalu membuat CD bootable dengan isinya adalah Startup Disk Windows 98.

  • mencari orang yang memakai Windows 98. Hasil: Miss Susanne gak
    bawa floppy drive laptopnya. Komputer perpustakaan untuk mencari buku
    memakai Windows 98 dan bisa dipakai untuk membuat Startup Disk. Hanya,
    disket putih yang gue bawa ternyata rusak.

  • pinjam disket bagus ke Armand. Hasil: Dikasih pinjam dong. Sekontrakan, gitu. Tetapi datanya harus dipindahkan.

  • pergi ke PKM lagi. Tujuan: Memindahkan data dari disket Armand ke
    flashdisk gue dan juga mencoba Windows 98 yang ada di PKM apakah bisa
    membuat Startup Disk Windows 98 atau tidak. Data berhasil dipindahkan.
    Tetapi, Windows 98 nya tidak bisa membuat Startup Disk Windows 98.

  • pergi ke perpustakaan lagi. Tujuan: Membuat Startup Disk Windows
    98 di komputer tempat mencari buku. Hasil: Berhasil. Berhasil. Hore..

  • pergi ke PKM lagi (tempat Mas Chandra). Tujuan: Membuat CD
    bootable dengan isinya adalah Startup Disk Windows 98. Hasil: Mas
    Chandra jadinya mengkopi CD Windows 98 bootable ke CD-RW gue. (Oiya,
    gue berusaha untuk membuat Startup Disk Windows 98 ke dalam bentuk CD
    karena floppy drive gue memang bermasalah.)

  • ke Dempo. Tujuan: memompa ban sepeda Hans. Hasil: Gue harus bayar
    1000 untuk mengisi angin kedua ban sepeda teman sekontrakan gue yang
    sepertinya orang yang paling sering memakainya adalah gue.

  • ke kostan Stephen. Tujuan: meminta CD Windows XP gue. Hasil:
    Orangnya ada di rumah. CDnya juga ada. Tetapi sepertinya kalau aku
    menunggu sampai dia yang mengantar ke rumah kami, sekarang belum tentu
    gue bisa mengetik tulisan ini.

  • balik ke rumah.

  • hidupin komputer.

  • masukin CD Windows 98 bootable. Berhasil..

  • masukin CD Windows XP gue. Jalanin winnt.exe di folder I386.
    Setup Windows XP gak berhasil dibuka. Soale gue pake file system NTFS
    di C: gue. Jadi, there was no space for swap file.

  • dengan berat hati, gue jalanin fdisk.

  • delete primary partition.

  • create new primary partition. Use all available space for the partition.

  • gue coba format. Kok gak berhasil, ya? Mungkin di CD Windows 98
    bootable itu tidak dilengkapi FORMAT.COM. Bahkan sepertinya komputer
    gue gak ngerti perintah "restart". Padahal biasanya, kalau pakai disket
    Startup Windows 98, bisa.

  • gue pun mencoba disket Startup Windows 98 di floppy drive gue yang bermasalah. Hasil: Berhasil.. Berhasil.. Horeee..

  • format c:<ENTER>

  • Y<ENTER>

  • Formatting...100%

  • GIVENDRA<ENTER>

  • d:<ENTER>

  • cd i386<ENTER>

  • winnt<ENTER>

  • F3

  • gue keluarin CD Windows XP gue, lalu gue masukin CD Windows 98 gue.

  • cd..<ENTER>

  • cd win98<ENTER>

  • smartdrv<ENTER>

  • smartdrv<ENTER>

  • gue keluarin CD Windows 98 gue, lalu gue masukin CD Windows XP gue.

  • cd..<ENTER>

  • cd i386<ENTER>

  • winnt<ENTER>


Proses pengkopian file memakan waktu cukup lama karena CD Windows XP
gue sudah rusak berat. Bahkan banyak file yang gue Skip atau Ignore
karena tidak berhasil dikopi.



Pada akhirnya proses install ulang Windows gue selesai sekitar pukul
18.00 setelah tadi dimulai sekitar pukul 15.00. Lama banget nih.
Padahal biasanya, kalau hanya untuk install ulang Windowsnya doang,
cuma butuh waktu kurang lebih 1 jam.



Setelah Windowsnya, driver-driver dan software-software pendukung pun
harus diinstall. Setelah menginstall driver sound dan VGA card, gue
menginstall software-software penting untuk kehidupan gue berkomputer.
Karena mentahan semua software penting udah ada di harddisk gue, proses
install Norton Antivirus 2005, Microsoft Office 2003, Macromedia
Dreamweaver dan Fireworks MX, Winamp 5.11, dan browser Opera hanya
butuh waktu kurang dari 1 jam. Jam 20.00 lewat aja gue udah
mindah-mindahin file-file yang gue tulis beberapa hari sebelumnya ke
flashdisk gue untuk gue posting di multiply.



Yah, begitulah cerita mengenai install ulang Windows gue hari ini,
install ulang Windows pertama yang gue lakukan setelah Mei 2005.



Tulisan ini mulai gue tulis tadi pada
pukul 23:30 tanggal 4 Oktober 2006, dan baru selesai pada pukul 00:40
tanggal 5 Oktober 2006.




Kalasan Dalam 44B, Jakarta

00:40

5 Oktober 2006

DAY-8192



Thursday, September 21, 2006

Magnum Pertama Gue


Kemarin, gue baru makan siang sekitar jam 3 sore. Ternyata makanan yang gue makan cukup pedas untuk membuat perut gue terasa sakit. Lalu gue pun memutuskan untuk membeli es-krim di Toko Kongsi di Jalan Talang.

Gue ke Kongsi naik sepeda. Nyampe di sana gue langsung ngeliat es krim apa aja yang ada di dalam lemari pendingin milik Walls. Nah, gue sebenarnya hanya pengen beli yang murah-murah aja. Tetapi, apa daya.. Gue gak biasa beli es-krim Walls. Jadi, gue sebenarnya gak ngerti mau beli apa (dan tentunya gue gak tahu yang murah yang mana). Jenis es-krim Walls yang gue tahu juga cuma Conello, Paddle Pop, dan Magnum.

Gue pun langsung aja asal minta. "Magnumnya, Pak. Satu." Tak tahunya harganya 8ribu perak. Rencana gue beli yang murah pun gagal. Gue minta Magnum karena gue memang belum pernah ngerasain es-krim Walls yang judulnya Magnum, juga karena gue sebenarnya kurang suka dan kurang ngerti makan es-krim Conello. Kalau Paddle Pop kebetulan gak ada.

Gue gak gitu ingat apakah sebelumnya gue udah pernah makan Magnum. Tetapi perasaan gue bilang, Magnum kemarin adalah Magnum pertama gue.

Gue gak langsung pulang ke rumah gue. Kenapa? Sedang banyak orang di rumah. Gak enak dan gak etis rasanya makan Magnum sendiri. Jadi kuputuskan untuk menikmati Magnum pertama gue sambil naik sepeda saja. Mau tahu Magnumnya tahan sampai berapa jauh?

Gue mulai menikmati Magnum gue begitu di depan toko Kongsi gue pikir gue lebih baik makan Magnum itu sambil jalan-jalan saja. Toko Kongsi itu berada di Jalan Talang. Magnum gue baru habis ketika sepeda gue mendekati Patung Diponegoro yang terletak di dekat Taman Suropati dan GPIB Paulus.

Nah, ini edannya gue. Setelah gue menghabiskan Magnum pertama gue itu, sticknya gak langsung gue buang. Gue memegang stick Magnum gue itu selama perjalanan gue naik sepeda mengitari kawasan Menteng -selama hampir satu jam- sampai kembali ke rumah gue. Sesampainya di rumah, sticknya gue cuci, keringkan, dan akhirnya gue scan pake HP PSC 1410.

Begitulah cerita tentang Magnum pertama gue.

Kalasan Dalam 44B, Jakarta
11:40
22 September 2006
DAY-8179



Monday, May 30, 2005

30 Mei 2005: Helene Le Touzey

Old City, May 30, 2005
11:18 pm


Dear PLC.4 MIE HAED,


    Banyak cerita yang terjadi dalam satu hari. Kemarin saja sebenarnya aku punya rencana untuk menyempatkan diriku untuk bercerita tentang apa saja yang terjadi selama seharian dengan cara yang berbeda. Yaitu dengan hanya menuliskan kata-kata kunci untuk setiap kejadian yang aku alami. Rencananya mau aku buat judul "A Day in Words" atau kalau dalam versi bahasa Indonesia (judulnya aja) "Satu Hari dalam Kata-kata". Tapi karena kemarin aku gak jadi buat, makanya hari ini aku baru mau buat dan tetap menceritakan yang terjadi kemarin aja.


    Kalau sekarang yang aku mau ceritakan adalah cerita tentang apa yang terjadi hari ini aja. Cerita hari ini dimulai dengan tadi pagi aku tidak bisa tidur. Biasanya sih kalau tidak bisa tidur aku menonton acara yang gak jelas atau berlama-lama di depan komputer mengerjakan yang gak jelas juga. Dan kemarin, aku hanya menonton. Aku menonton acara di TV yang sekarang aku sendiri sudah lupa acara apa saja yang aku tonton. Tapi yang paling aku ingat adalah aku ada menonton acara Kick Off Bundesliga dan Highlights Sepakbola Nasional di Metro TV. Di dalam acara itulah aku melihat siapa aja klub Liga Serie A Italia yang terdegradasi. Yang sudah pasti terdegradasi adalah Brescia dan Atalanta, sedangkan Bologna dan Parma harus melakukan pertandingan play-off lagi untuk menentukan siapa yang bisa tinggal di Seri A musim 2005-2006. Aku baru balik ke kamarku sekitar pukul 4 dan mungkin baru bisa tertidur dalam waktu setengah jam.


    Aku bangun dari tidurku baru pukul 2 lewat di siang hari. Aku lalu sedikit membereskan kamarku yang berantakan. Lalu aku mandi dan berpakaian kuliah. Aku lalu pergi ke kantin untuk sarapan atau lebih tepatnya makan siang. Tiba di kantin aku bertemu dengan beberapa teman sekelasku yang makan di kantin yang sepi pengunjungnya. Mereka memanggilku dan Martin memberikan form yang mereka minta isi. Mereka berencana untuk membuat buku kelas. Aku memang sudah lama tidak pernah sekelas dengan mereka karena aku sudah banyak ketinggalan mata kuliah dari mereka. Tapi aku mengiyakan akan mengisi form itu.


    Selesai makan capcay kuah, aku ke perpustakaan kampusku. Aku memang anak kuliah termalas yang pernah aku lihat. Aku bukannya kuliah, tapi malah hanya masuk ke perpustakaan dan baca-baca di sana. Di ruang jurnal dan referensi terdapat majalah dan koran. Di sanalah aku membaca majalah dan koran cukup lama. Dari majalah Tempo yang sudah out of date (edisi 29 Maret 2005) aku membaca mengenai seorang wanita bernama Helene Le Touzey. Seorang wanita asal Perancis yang sekarang tinggal di Bali untuk anaknya yang bernama Michael Loic Blanc yang saat ini (mungkin) masih di dalam bui di sebuah penjara di Kerobokan, Bali. Cerita mengenai Helene Le Touzey dan juga Michael Loic Blanc ini sebenarnya cukup diekspose di Perancis. Aku gak tahu apakah sebenarnya cerita ini (pernah) juga diekspose di Indonesia. Tapi merupakan cerita menarik yang rencananya akan aku fotokopi sebagai kliping. Beberapa hal yang menarik adalah Helene mendapatkan julukan Ibu Para Napi, dan sebuah badan ada dibentuk di kampung halamannya dan pada saat pasca tsunami yang lalu badan itu ikut menyumbang atas nama Michael Loic Blanc, si napi seumur hidup. Nanti deh setelah aku punya copy-an cerita dari majalah Tempo itu baru aku tulis lagi di sini.


    Hari ini aku jadi pengen membuat cerita tentang "pertama" untuk beberapa kejadian yang baru pertama kali aku lakukan atau aku dapat. Pengen buat seperti itu karena kemarin aku baru pertama kali ngelihat uang 20ribuan yang baru. Terus tadi aku ketemu ama Kak Eji, cewek pertama (selain orang yang berhubungan keluarga denganku) yang pernah menggandeng tanganku. Memang ini hanya rencanaku untuk membuat tulisan mengenai "pertama" seperti yang aku maksud. Gak tahu deh apakah aku akan merealisasikannya. We'll see.


    Now is 12 am. I guess aku harus tidur. See you tomorrow.

Saturday, March 26, 2005

Middle of Nowhere

Aku sudah pernah bilang ke kakak kalau aku belum pernah naik pesawat terbang. Dan memang untuk pertama kalinya lah aku merasakan terbang di atas awan ketika liburanku yang durasinya tidak panjang, hanya 2 minggu. Libur kami sebenarnya dari tanggal 8-20 November 2004. Tapi karena aku sudah tidak punya UTS yang perlu diikuti lagi, tanggal 5 ato hari Jumat aku berangkat ke Jakarta dengan menaiki kereta. Memang sudah agak sore aku ke stasiun kereta di Bandung sehingga aku dapat tiket yang berangkatnya jam 16.20. Berangkatnya jam segitu ya baru tiba di Gambir sekitar jam 19.20 an gitu. Nunggu di halte di depan Gambir cukup lama. Karena bus –yang nomor trayeknya aku sekarang aja uda lupa tapi tahu jurusannya jurusan Pulogadung-Kalideres dan ada kata AC di depan nomor trayeknya– yang harus aku ambil itu nunggunya aga lama, aku baru bisa nyampe di rumah Inang Tongah ku sekitar jam 9 lewat. Yang kuingat waktu menunggu di halte itu sedang turun rintik-rintik dan kadang hujan tapi gak begitu deras. Aku sudah sering menunggu di halte itu waktu aku bolak-balik Jakarta-Bandung. Dan baru waktu itu aku sangat memperhatikan seseorang yang sepertinya tiap hari berada di halte itu. Orangnya tidak bisa bicara. Atau kalau bicara juga sangat tidak jelas. Setiap ada bus yang berhenti sebentar di halte itu, kerjaannya seperti memberikan isyarat dengan tangannya kalo tidak kepada supir, kepada kondekturnya. Aku gak gitu mengerti maksud isyarat itu. Tapi sepertinya memberitahukan kepada si supir atau si kondektur mengenai bus dengan nomor trayek yang sama sudah lewat dari halte itu dalam jangka waktu beberapa waktu sebelumnya. Untuk itu biasanya dia mendapat sekeping uang logam yang dalam asumsiku waktu itu uang 500 rupiah. Aku senyum-senyum sendiri sambil tetap menunggu bus, menghitung-hitung berapa pendapatan yang bisa dia terima setiap harinya. Aku gak tau apa setiap bus yang lewat dari tempat itu selalu memberikan dia uang yang dapat dikategorikan semacam uang tip itu. Atau apakah kondektur bus yang aku lihat malam itu memberikan dia sekeping 500an, sebelumnya dalam hari itu atau setiap dia lewat dari tempat itu, memberikan hal yang sama.



Orang bilang Jakarta tidak bersahabat bagi pendatang. Dan dari dulu kalau aku datang ke Jakarta, kakakku selalu berpesan untuk hati-hati. Penjahat bisa dimana aja. Dan sampai sekarang memang aku belum pernah merasakan aku kehilangan apa-apa dalam perjalanan aku entah di manapun itu di Jakarta. Naik bus, naik transjakarta, atau naik apapun. Aku memang kadang terlalu santai dalam membawa barang bawaanku (tas atau apapun yang aku pegang) karena memang aku belum pernah merasakan kecopetan di Jakarta. Tapi untuk berjaga-jaga aku selalu ingat pesan kakakku untuk make tas punggung di dada, bukan di punggung. Waktu aku nunggu, ada yang tanya waktu itu uda jam berapa ke aku karena melihat di tanganku ada jam tangan. Jadi malu. Aku minta maaf ama dia dan bilang kalau jam yang aku pake adalah jam mati. Dan aku segera meraih HPku yang ada di saku bagian dalam jaket yang sedang aku pake. Jam 20.10, kataku. Wah gak perlu repot-repot, ucapnya karena melihat aku yang dengan repot-repot merogoh kantongku hanya untuk mengambil HPku. Dan setelah hampir satu jam menunggu lah baru bus yang aku tunggu datang dengan penumpang yang sudah cukup sesak. Tapi finally bisa duduk juga setelah mendekati Cengkareng. Lumayanlah daripada diri terus.


Tiba di rumah Inang Tongah, Bapa Tongah ku iseng nanya. “Di mananya Bandung, vonto?” tanyanya. Dia tanya begitu karena khawatir aku gak jadi datang ke Jakarta dan berarti aku tidak jadi ke Medan padahal tiket uda ada di tangannya. “Di Jawa Barat, Pa Tongah”, jawabku. Ngomong-ngomong sebentar dengan Inang Tongah ku, setelah dia tahu aku belum pernah naik pesawat dia ngasi sedikit pengarahan gimana nantinya di bandara.


Dan besok paginya, aku berangkat ke bandara sekitar sebelum jam 5.30 karena check in sebelum jam 6.00 diantar oleh Bapa Tongah ku dengan motor. Setelah mengantarku ke terminal 1C, Bapa Tongahku langsung cabut. Dan memang mau naik pesawat terbang itu tidak ribet. Aku berangkat naik Mandala Airlines dan berangkatnya aku gak tau tepatnya jam berapa karena aku termasuk orang yang taat. Sebelum masuk pesawat aja HP ku uda mati. Dan tanpa diminta jam tanganku uda mati sangat jauh sebelumnya.
Jangan terpana melihat pramugarinya, Kak? Wah, aku gak terpana kok. Paling cuma curi-curi pandang. Nggak ding, boong. Memang rata-rata cantik sih, Kak. Kalo gak cantik kayaknya gak bisa deh jadi pramugari. Aku lah contohnya. (Apa coba?) Waktu itu kan masih lagi puasa. Makanya rata-rata makanan yang disediakan banyak yang bawa pulang. Aku juga ikut-ikutan minta plastik untuk tempat makanan itu biar bisa dibawa pulang. Tapi bedanya dengan yang lain, aku minta minum juga. Selama penerbangan aku gak bisa dan gak mau tidur. Dan gak ada terasa pusing seperti yang kakakku perkirakan akan terjadi padaku. Malah aku bilang ke kakakku kalo pesawatnya kayaknya kurang enak kalo gak goyang. Habis uda biasa sih naik kendaraan yang aga goyang sepanjang perjalanan –kereta api maksudku–. Dan aku terus berusaha untuk menutup telingaku karena posisi tempat dudukku tepat berada di dekat jendela dan di samping sayap.


Nyampe di Medan jam 9.05. Eh, ternyata yang janjinya ngejemput (naik angkot padahal) masih ada di rumah. Mamakku cerita kalau kakakku masih mau mandi waktu dia ngeliat pesawat Mandala lewat dari depan rumah kami. Rumah kami memang bukan dekat bandara, tapi umumnya pesawat yang mau mendarat di Polonia dapat terlihat dari depan rumah kami. Alhasil aku menunggu hampir selama 40 menit lebih sambil melihat-lihat apa aja yang udah berubah di lampu merah dekat bandara itu dan di Medan umumnya selama 2 tahun 3 bulan 1 hari sejak aku tinggalkan. NgeSMSin teman kalau aku uda nyampe di Medan.


Sampe di rumah, aku ngeliat banyak hal yang berubah di pekarangan rumah kami. Dulu rumput yang ada di pekarangan rumah ada dua jenis. Rumput yang sejenis dengan makanan kambing dan rumput yang kayaknya orang bilang rumput cina. Waktu aku tinggalkan, rumput cina tuh hanya menutupi gak nyampe 1/5 bagian pekarang rumah kami. Dan waktu aku balik, semuanya udah jadi rumput cina. Kata mamakku hampir setiap kalau ada waktu mamakku mencabuti rumput kambing (gak tau namanya sih) dan membiarkan rumput cinanya bisa semakin menjalar. Tapi ada satu hal yang membuat aku cukup terkejut. Ada pohon pepaya di samping rumah kami yang ditanam waktu Bapakku masih ada. Dan waktu Bapakku meninggal, buahnya uda cukup banyak tapi belum pernah masak. Dan aku ingat aku jatuh ke tanah, tanganku hampir patah, waktu bermaksud mau memotong ujung tuh pepaya karena tumbuhnya tinggi dan sepertinya mau menembus asbes. Kejadian itu hari Kamis, sedang Bapak baru saja dikubur hari Minggu. Hal yang cukup membuat mamakku shock. Kejadian aku jatuh itu sudah 5 tahun yang lalu. Dan sampai sekarang, tuh papaya masih ada dan masih berbuah dengan bentuk yang bukan seperti pohon papaya umumnya. Batangnya sudah dengan kemiringan lebih kecil dari 45 derajat. Aku sempat berpikir mau tanya anak pertanian atau anak biologi, berapa lama sih sebenarnya paling lama umur pepaya dan masa berbuahnya. Kayaknya foto tuh papaya bisa dimasukin ke rubrik seperti rubrik simpang rana di majalah Bobo dulu.


Kayaknya langsung aja deh ke cerita in the middle of no where nya. Hari Rabu tanggal 10 November aku dan kakakku berangkat ke kampung. Kampung ompung dari mamak dan dari bapak. Dalam rencana perjalanan kami, kami memang hanya sebentar aja di kampungnya mamak. Kami hanya singgah sebentar untuk ziarah ke makam ompung kami terutama ompung cewek (my mom’s mother) yang baru meninggal September lalu dan satupun kami (aku dan kakakku) tidak ada yang bisa datang. Singkatnya kami melanjutkan perjalanan kami hari itu juga ke kampungnya bapak. Sewaktu aku mau berangkat ke Bandung dulu, aku diharuskan juga ketemu ama tua kami –tua adalah panggilan untuk my dad’s mother–.


Kampung Bapakku itu lah yang aku maksud dengan middle of no where. Karena untuk sampai di tempat itu harus ditempuh murni dengan berjalan kaki sejauh 4-5 km dari jalan besar. Memang sih ada jalan selebar 5 meter. Tapi tidak ada kendaraan umum yang masuk ke sana, karena jalannya yang tidak bagus. Dan kendaraan yang sering keluar masuk ke kampung itu hanyalah truk yang semakin memperparah rusaknya jalan dan menyebarkan becek secara merata di jalan yang harus dilewati (kalau lagi musim hujan). Di jarak yang sepanjang itu, terdapat sebuah seperti sebuah lembah. Jadi lengkaplah kalau ke kampung Bapak itu seperti hiking aja. Karena ada menuruni dan mendaki bukit. Kalau waktu aku mau ke Bandung dulu dan harus ke kampung itu, cuacanya bukan musim hujan. Jadi jalannya cukup kering dan tidak perlu kuatir akan becek. Dan untuk pertama kalinya untukku dan juga kakakku ke tempat itu lagi, terdapat perubahan yang cukup membuat kakakku tertawa sepanjang perjalanan. Dari jalan besar tempat kami turun dari bus, sudah ada sejenis becak yang dapat membawa kami sampai mendekati lembah yang aku bilang tadi. Suatu perubahan yang terasa cukup besar bila mengingat kalau dulu ya harus dilewati dengan jalan kaki. Dan turun dari becak, kami sudah langsung menuruni bukit lalu mendaki lagi. Dan setelah itu masih melewati beberapa rintangan alias becek/kubangan lumpur karena saat itu memang katanya hujan sudah sering turun di daerah itu. Tapi memang sudah gak begitu terasa lagi jauhnya karena dilewati dengan tawa mengingat masa yang lalu melewati jalan itu. Kakakku kebetulan memakai HP pake kamera. Aku menyuruhnya mengambil foto tempat dia pernah jatuh (waktu dia SMP) karena terpeleset di lumpur. Sambil menirukan suara jatuhnya kami tertawa sambil terus melanjutkan perjalanan kami.


Tiba di kampung bapakku, nobody at home. Aku check HP ku. Ada sinyal atau tidak. Dan seperti orang yang gak pernah dapat sinyal sebelumnya (di kampung ompung dari mamak aku gak bisa dapat sinyal, kakakku yang pake Mentari bisa tapi kalo di makam ompung kami) aku nunjukin HP ku ke kakakku dan bilang “eh, dapat sinyal” (this moment captured by her phone camera). Karena riangnya, kapan lagi pikirku nelepon dari middle of no where ke dunia yang lebih dijangkau peradaban seperti rumah kami di Medan. Aku langsung menelepon mamakku untuk bilang kalau kami sudah tiba di kampung bapak kami. Itu juga yang membuat aku malam itu ngirim SMS yang kayaknya gak penting banget kan Kak ke kakak bilang kalau aku lagi in the middle of no where. Walau tidak terjangkau oleh kendaraan umum, paling tidak kampung bapakku yang seperti in the middle of no where itu sudah terjangkau sinyal XL yang sebenarnya bukan provider dengan sinyal lebih bisa ditemukan dimana-mana seperti sinyalnya Telkomsel.


Besok paginya kami langsung pulang, dan untunglah kemarin malamnya tidak turun hujan. Sebenarnya sepanjang perjalanan kami pulang kampung cukup banyak foto yang kakakku dan aku ambil. Ada foto rumah (wlo cuma kami foto sambil lalu dari kendaraan kami pulang) tempat pertama kali Bapakku ditugaskan sebagai pendeta dan of course tempat aku pertama kali dibesarkan, foto waktu kami mau pulang dari rumah tua kami, foto waktu kami ke ladang untuk ngejemput tua (karena waktu kami nyampe kan gada orang di rumah), dan banyak lagi foto-foto dengan momen-momen yang sebenarnya gak perlu difoto. Tapi semuanya masih dalam bentuk file di HP kakakku. Sedang aku pulang duluan ke Jakarta daripada dia. Jadi aku gak punya sama sekali deh file nya. Tapi ntar deh mungkin kalo aku ke Jakarta aku minta.


--deleted--


GBU, Sis


-vontho-


this entry sebenarnya isi emailku ke seorang teman untuk ceritain liburanku di bulan November 2004 lalu, beberapa bagian sudah dihapus pada bagian --deleted--
some pictures about this entry can be seen @
Feels Like Home