Pages

Showing posts with label mysister. Show all posts
Showing posts with label mysister. Show all posts

Saturday, December 5, 2009

Malam Minggu

Sekitar pukul 19.30 tadi aku menerima telepon dari kakakku. Dia menelepon karena aku sebelumnya meneleponnya, tetapi dia tidak mengangkatnya. Kami lalu berbicara mengenai teleponnya yang tadi siang tidak aku angkat. Pembicaraan kami berlanjut dengan kepastian tentang aku pulang ke Medan atau tidak. Aku sih tidak ingin pulang ke Medan. Hanya saja kalau Mamak (nantinya) menginginkan aku pulang, aku harus pulang. Harus? Bisa juga sih tidak harus. Apalagi alasannya tiket belum dibeli hingga sekarang. Kalau beli sekarang tentu harganya sangat mahal. Ah, itu tidak ada dalam pembicaraan kami.

Yang mengejutkan buatku adalah pertanyaan kakakku ketika pembicaraan kami akan selesai.

"Eh, malam minggu ke mana?"
"Ke mana? Di rumah aja," jawabku seadanya.
"Nggak ke mana-mana?"
"Nggak."
"Bukannya udah ada?"
"Hah? Nggak ada..."

Kurang lebih begitulah akhir pembicaraan kami tadi. Hmm.. Aku menduga ini pasti ada hubungannya dengan status hubungan (relationship status) di Facebook. Status itu berubah menjadi In a Relationship setelah sebelumnya berstatus Married to Yulius Perdana Putra. Aku memilih untuk membuat statusku In a Relationship setelah perceraian sepihak dari Yulius karena aku pikir status seperti itu lebih baik. Tidak akan ada yang naksir lagi padaku.

Setelah pembicaraan itu, aku ditemani oleh Sergio pergi berbelanja ke Carrefour Express di Menteng Prada. Setelah berbelanja, aku makan malam berdua dengan Jeremia di RM Jatim. Setelah hari ini aku habiskan tanpa hal yang berguna, ternyata malam minggu ini setidaknya dapat aku lalui bersama teman-temanku.

Kapan ya aku bakal malam mingguan bersama seseorang yang 'spesial'? Kalau dari kalimat penutupku saat berbicara dengan kakakku sih, "tak 'kan ada."

Kontrakan Gak Jelas
5 Desember 2009
22:30

Friday, August 1, 2008

34 weeks to have Panogolan

FYI, panogolan is nephew or niece in Simalungunese language. Panogolan is someone who calls me with "tulang".

This morning my mom just told me that my sister is already pregnant.

Though my mom and my sister live together in Medan, I preferred to call her right to her phone. Then I called her, and I said congratulation. I asked her about how many weeks to go, she answered 34 weeks, which may near to her own birthday.

34 weeks to be an Uncle. Hahaha...

Congratulation, Kak. Sehat selalu ya sampai panogolan gue lahir...

Wednesday, June 20, 2007

Gue, Kakak Gue, dan Bounce Out di 20 Desember 2003

Level 18, times up, 234 balls to go, 1 move left, Panic had been used
Solution: Print Screen, MS Word, Paste, continue..



..and we did make through to the next level



this what a sister and brother can do when playing Bounce Out

Wednesday, April 11, 2007

My Sister's Blog

Akhirnya gue mengedit my sister's blog. Dia memang sudah meminta gue untuk mengeditnya sejak bulan lalu dia mampir ke Jakarta supaya tidak berpenampilan standar. Barusan, gue pun melakukan edit-an minor. Ganti theme, terus ganti header (pake yang gue buat juga sih). Lalu, gue kirim aja review dia yang dia tulis di review Friendsternya tentang film Nagabonar Jadi 2 supaya blognya gak kosong waktu dikunjungin ama orang. Ntar deh mungkin baru gue edit lagi tampilannya.

Setelah ini gue tinggal tunggu her writings here in multiply.. karena, menurutku, dia memang orang yang pandai sekali menulis yang menarik.

Love you Sis..

Thursday, October 5, 2006

Oktober 2006 Homepage Story

Foto yang
ada di halaman depan blog gue bulan ini adalah foto gue dan kakak gue.
Foto itu diambil di Waving Area Bandara Sukarno-Hatta Terminal 1A. Foto
itu gue ambil sendiri dengan menggunakan kamera milik teman sekampus
gue.



Mungkin tidak ada yang spesial jika foto itu hanyalah foto antara dua
kakak beradik. Foto itu menjadi spesial karena kesempatan gue dan kakak
gue untuk bersama-sama dan berfoto bareng lagi seperti di foto itu
tidak banyak lagi. Kenapa? Hari Sabtu, 30 September 2006 kemarin adalah
hari kakak gue meninggalkan Jakarta setelah sejak September 2000 datang
ke Jakarta untuk kuliah di STAN. Dia meninggalkan Jakarta karena dia
juga telah memutuskan untuk ditempatkan di Medan. Karena dia akan
bekerja di Medan, berarti gue dan dia gak akan bisa bertemu dengan
mudah seperti jika dia tetap di Jakarta, bukan?



I'll miss you, Kak Wit.



vontho



Oktober 2006

Saturday, August 12, 2006

Kalau saja..

Gue barusan menangis. Hanya karena baca tulisan kakak gue di blog Friendsternya. Sebelumnya gue memang udah sempat lihat blognya, tetapi gue gak "notice" kalau ada tulisan itu. Gue baru "notice" setelah blog kakak kandung gue satu-satunya itu gue simpan ke flashdisk dan gue baca di komputer gue.


Tulisannya seperti sebuah surat untuk almarhum Bapak gue. "If only I could have the chance to meet and talk to you personally… then this is what I would say:..." Tulisannya dimulai dengan kalimat ini.


Isi tulisannya mengingatkanku kembali kepada banyak hal yang telah terjadi setelah kepergian Bapak. Dan gue pun harus menangis. Bagaimana mungkin gue gak menangis?


Dan tulisannya memang hanya bisa diakhiri dengan "Kalau saja.."


Kalau saja..


Kalasan Dalam 44B, Jakarta
12:38
13 Agustus 2006
DAY-8139

Tuesday, June 27, 2006

Situasi Kamar Gue

Sejauh mata memandang, seluruh kamar gue sudah diisi oleh barang-barang gue. Hanya saja kata yang paling tepat untuk menggambarkan kamar gue adalah "berantakan".

Gue sendiri bingung gimana caranya gue akan membereskan kamar gue ini. Baiklah gue mulai menggambarkan keadaan kamar gue -- sepandai yang gue bisa.

Jika loe berkesempatan berkunjung ke kontrakan kami, maka kamar gue adalah kamar yang terletak di lantai dua, tepat dekat dengan tangga. Begitu tiba di lantai dua, loe udah bisa ngeliat kamar gue terbuka. Gue memang membiarkan kamar gue terus terbuka karena gak akan ada yang minat masuk ke kamar gue selain gue sendiri.

Belum tiba di pintu kamar gue, loe udah ngeliat sebuah radio terletak tepat dekat pintu. Kalo tertarik untuk melihat kamar gue, loe akan terkejut melihat mouse komputer gue terletak next after the radio. Loe akan disambut oleh sebuah komputer Pentium 4 milik gue begitu loe menginjakkan kaki di dekat pintu kamar. Sekarang ini aja gue lagi ngetik tepat di dekat pintu dan menghalangi orang masuk ke kamar gue. Alasan gue naro komputer gue dekat pintu adalah supaya gue bisa ngetik atau ngerjain sesuatu di komputer gue sementara pertandingan Piala Dunia 2006 bisa gue tonton langsung dari tempat gue duduk sekarang.

Nah, sekarang gambaran mengenai kamar gue akan gue lanjutkan dengan gambaran dari posisi gue duduk di depan komputer gue, sambil mendengarkan lagu dari Winamp 5.11 gue.

Kabel-kabel berseliweran dekat komputer gue. Kabel mouse, kabel USB, kabel keyboard, kabel power untuk radio, kabel speaker, kabel printer, dan juga kabel charger.

Plastik-plastik terletak di sini dan di sana. Plastik-plastiknya ada yang gak berisi apapun dan ada juga yang berisi. Di depan pandangan gue, ada plastik berisi sepasang sepatu berwarna coklat, plastik berisi kaos kaki kotor --masih tetap di dalam plastik itu sejak pindah awal Juni lalu dari asrama, dan plastik berisi obat-obatan. Di arah jam sembilan gue duduk sekarang, ada sebuah plastik berisi sampah. Di arah jam sebelas, ada dua buah plastik berisi barang-barang pindahan dari asrama yang juga belum gue sentuh isinya.

Kotak-kotak juga memenuhi kamar gue. Baru aja gue mengangkat kotak berisi kertas-kertas penting dan gak penting milik gue dan meletakkannya di belakang monitor komputer gue ngetik ini. Ada juga kotak berisi buku-buku gue. Nah, ini dia kotak gue yang isinya cukup mahal kalau dihitung nilainya. Kotak ini berisi majalah-majalah yang gue beli selama setahun ini. Mungkin satu saat akan aku hitung berapa pengeluaran gue untuk majalah-majalah gak penting itu. Oiya, di sebelah gue juga ada kotak yang tadi baru gue buka. Isinya handuk-handuk kotor gue, sprei kotor, dan celana-celana pendek gue yang sekarang udah gue rendam untuk dicuci besok pagi.

Kasur gue sebenarnya belum ada. Teman gue aja yang berbaik hati memberikan kasurnya ke gue untuk tempat gue meletakkan badan gue setiap malam. Nah, kasur tipis itu sekarang dipenuhi oleh pakaian-pakaian gue yang baru gue cuci Sabtu lalu, juga ada buku-buku gak penting yang sering gue bawa beberapa waktu lalu di tas gue, dan dua bungkus Indomie di dalam plastik belanjaan dari Giant.

Ada enam tas terletak di lantai di kamar gue. Dua tas besar tempat pakaian-pakaian dan kain-kain gue waktu pindahan -- dua-duanya masih berisi karena lemari gue belum ada, satu tas ransel yang Minggu lalu gue pake untuk tempat barang belanjaan gue dari Giant di Plaza Semanggi, satu tas ransel rusak tempat barang-barang kecil gue waktu pindahan, satu tas sandang yang hari ini gue pake ke kampus -- baru saja dibalikin teman gue setelah 3 minggu keluar dari asrama, satu tas sandang bercorak militer --hadiah dari majalah Cosmopolitan Men, dan satu tas sandang yang dikasi kakak gue --hadiah dari Maybelline (?).

Gue juga punya dua tempat pakaian. Itu lho, tempat pakaian yang sering dijual di bus-bus itu. Gue buat yang satu untuk tempat pakaian bersih dan satunya lagi untuk tempat pakaian kotor. Fortunately, isi pakaian di tempat pakaian bersih gue lebih banyak dibanding  di tempat pakaian kotor gue. Hanya saja pakaian bersih itu tidak layak langsung pakai. Belum disetrika, euy.

Sektor paling parah di kamar gue adalah sektor yang berada di arah jam sebelas gue duduk ngetik ini sekarang. Banyak sekali barang-barang dan benda-benda (apa bedanya barang ama benda?) kecil yang jumlahnya ratusan. Berapa banyak? Ratusan. Lebih... Karena banyaknya gak akan semuanya bisa disebutkan ataupun dituliskan di sini. Tetapi mari gue coba membuat daftarnya: tempat kacamata gue, kotak tempat tinta stamp-pad; dua kotak tempat celana dalam berisi struk-struk belanja, struk atm, dan struk-struk lainnya; pembolong kertas; dua gulungan benang, hitam dan putih; gunting, panjang dan pendek; tempat pulpen; kartu telepon SingTel, nemu di jalan; kartu Joker, punya teman gue; beberapa notebook, di antaranya notebook dari Plaza Semanggi dan dari majalah M2; buku-buku Saat Teduh; Energen Cereal rasa Kacang Hijau; starter=kit Telkomsel simpati; kartu ucapan selamat ulang tahun; cutter; dua earphone milik gue; tissue Tessa yang masih belum gue buka; dua lembar uang seribu rupiah; double-tape yang masih di dalam plastiknya; botol Aqua 1,5 liter; kamus, Hasta dan oxford; tumbler dari Hoka-hoka Bento; Reader's Digest Indonesia edisi Agustus 2005-April 2006, Reader's Digest Asia, Reader's Digest (USA) edisi tahun 1984; buku tahunan SMUNSA 2002 milik temang gue Marettha, gue gak tahu kapan akan gue balikin ke dia; lipgloss, gak tahu milik siapa, ada di gue setelah malam gembira Dies Natalis kampus gue tahun lalu; Redoxon; Gilette Vector; lem; CD buku English for Theology milik Rael yang belum gue balikin;stamp-pad; tempat stationery berisi uang receh; and so on.

Terus ada dua printer di kamar gue. Satu adalah milik Daniel Manalu, senior gue: Canon S1000SP. Satu lagi milik Hans: HP PSC1410.

Gimana? Apakah gue berhasil memberi gambaran betapa berantakannya kamar gue? Menurut gue sih kurang berhasil, atau bahkan tidak berhasil. Sama seperti gue gak berhasil membereskan kamar gue.

Kata Putri, teman gue yang udah pernah ngeliat betapa berantakannya kamar gue -- walau sekarang lebih berantakan dari waktu dia ngeliat kamar gue--, gue butuh seorang cewek, untuk memperhatikan gue dan juga untuk membereskan kamar gue. Nah, pertanyaannya adalah apa ada cewek yang mau ama gue apalagi melihat betapa berantakannya kamar gue. Memangnya dia mau jadi pembantu untuk beresin kamar gue.

Nah, kakak gue Sabtu lalu nelepon dan bilang ke gue kalau dia disuruh oleh bos dari Medan -- selain orang Medan silahkan gak ngerti maksudnya-- untuk melihat kamar gue dan membereskannya kalau berantakan. Gue ngeles deh kalau gue mau ke tempat dosen gue untuk ngejaga rumahnya selama seminggu dan dia gue suruh untuk datang Sabtu ini aja. Memang sih gue seharusnya sudah bersama teman gue saat ini di rumah dosen Teori Musik Dasar gue itu yang sekeluarga pergi berlibur. Tetapi karena maksud kedatangan kakak gue Sabtu ini, selama seminggu ini gue mau mencoba membereskan kamar gue semampu gue. Sayangnya hasilnya malah tambah berantakan.

Gue butuh pegangan nih. (Gue bingung gimana mo ngeberesin kamar gue.)

Kalasan Dalam 44B, Jakarta
21:26
27 Juni 2006
DAY-8092

Monday, June 26, 2006

(Also) My Mourning Day

Membaca tulisan kakak gue berjudul June 26, 1999 -- My mourning day.. di blognya di Friendster -gue post di sini juga- sebenarnya cukup untuk membuat gue menangis. Tetapi gue gak menangis. Hanya saja mata gue bisa basah kalau baca ulang tulisan itu lagi.

Tulisannya memang sederhana, seperti puisi. Hanya saja, kalau Anda -yang mungkin membaca ini- adalah saudara kandung kakak gue juga, Anda pasti merasakan yang sama dengan gue dan juga kakak gue.

26 Juni 1999. Hari itu.. Gue masih ingat gue gak nangis waktu Bapak gue gak bernyawa lagi. Dia dibawa keluar dari ruang ICU dengan kain putih menutupi tubuhnya. Yang gue tahu, dia gak akan pernah kembali.

Kakakku? Dia masih di jalan sewaktu Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Gue sendiri sebenarnya gak melihat Bapak gue melakukan hembusan nafas terakhirnya. Tapi, hari itu memang merupakan hari yang sangat mendukakan hati bagi kakak gue. Lebih berduka dari gue...........

*!@)(#*)$*(*&$*&@^#&$%&@#^%$(*&%?":}{\= (gue susah ceritainnya... tapi gue kangen banget ama Bapak gue)



It's been 7 years. But, we still miss you, Dad.

Proklamasi, Jakarta
17:15
26 Mei 2006
DAY-8091

"My Mourning Day" by My Sister


June 26, 1999 -- My mourning day...





It was the date that I've ever hate for...
It was the date that I've ever regret for...
It was the date that I've ever missing for...
It was the date that I've ever dying for...

My mind still picture every seconds count what happened then...
My heart still suffer every pieces of hurts...
My eyes still sense each tears falls down...
My lips still feel the last kiss on your hair...

Saturday, June 26, 1999
my mourning day...
my grieve...
"I love you, Pa and I'll miss you..."

Monday, June 26, 2006
still in this mourning and grieving...
"I still love and miss you, Pa..."
I always will...

-your one and only daughter-
WITHRI SARAGIH


Withri Saragih is my only sister. She is now working as an apprentice in Public Accountant Office in Kuningan.
taken from http://withrisaragih.blogs.friendster.com/my_blog/2006/06/june_26_1999_my.html