"Epilepsi" dibuat oleh Panitia Malam Gembira Dies Natalis 75 STT Jakarta untuk ditayangkan sebagai iklan di acara Malam Gembira tanggal 30 Oktober 2009
Friday, November 6, 2009
Iklan "Epilepsi"
"Epilepsi" dibuat oleh Panitia Malam Gembira Dies Natalis 75 STT Jakarta untuk ditayangkan sebagai iklan di acara Malam Gembira tanggal 30 Oktober 2009
Tuesday, November 3, 2009
Aku Makan II
(aku melanjutkan tulisan ini setelah menyantap makanan gratisan, sisa makanan di acara Sertifikasi Guru-guru Agama yang diselenggarakan di Aula STT Jakarta)
...lanjutan dari tulisan sebelumnya.
Makan saat sakit tentunya menjadi masalah buat kebanyakan orang. Dari masalah tidak selera, atau bahkan karena masalah perut yang menolak makanan. Saat sariawan atau ada gangguan di mulut pun kebanyakan orang akan terganggu dalam menyantap makanan. Hal itu tidak atau kurang berlaku padaku. Ini mungkin karena memang sudah sejak kecil aku tidak boleh tidak makan (kecuali dianjurkan demikian, misalnya pada waktu aku baru mengalami kecelakaan pada tanggal 26 Mei 1999) walaupun sedang sakit. Memuntahkan makanan pun sepertinya bukan pilihan buatku, karena aku harus makan lagi (bukan yang aku muntahkan tentunya) supaya perut jangan sampai kosong. Begitulah adanya sehingga dalam keadaan sakit seperti apapun aku pasti bisa menghabiskan makanan yang sudah menjadi jatahku. Sariawan, penyakit yang pernah aku tuliskan di blog ini sebagai penyakit bulananku, pun tidak pernah menghalangiku untuk makan dengan normal.
Soal sakit dan makan, aku punya cerita bodoh. Aku termasuk orang yang tidak terlalu mau merepotkan orang lain. Suatu waktu di tahun 2006, aku sakit demam biasa. Sepertinya begitu. Walaupun tubuhku sudah lemas, aku membeli sendiri makananku dengan berjalan cukup jauh ke warteg atau warung penjual makanan terdekat. Sakit tidak sembuh, aku malah menjadi tambah sakit karena kurang terawat. Aku bahkan sampai divonis gejala tifus karena sakitku yang akhirnya cukup lama sembuh itu. Sejak itu, aku mulai tidak ragu untuk merepotkan orang lain untuk membelikanku makanan bila aku sakit.
Ah, aku mentok. Aku hanya bisa menulis seri "Aku Makan" ini hanya sampai di sini.


Perpustakaan STT Jakarta, Meja 2
3 November 2009
19:40
...lanjutan dari tulisan sebelumnya.
Makan saat sakit tentunya menjadi masalah buat kebanyakan orang. Dari masalah tidak selera, atau bahkan karena masalah perut yang menolak makanan. Saat sariawan atau ada gangguan di mulut pun kebanyakan orang akan terganggu dalam menyantap makanan. Hal itu tidak atau kurang berlaku padaku. Ini mungkin karena memang sudah sejak kecil aku tidak boleh tidak makan (kecuali dianjurkan demikian, misalnya pada waktu aku baru mengalami kecelakaan pada tanggal 26 Mei 1999) walaupun sedang sakit. Memuntahkan makanan pun sepertinya bukan pilihan buatku, karena aku harus makan lagi (bukan yang aku muntahkan tentunya) supaya perut jangan sampai kosong. Begitulah adanya sehingga dalam keadaan sakit seperti apapun aku pasti bisa menghabiskan makanan yang sudah menjadi jatahku. Sariawan, penyakit yang pernah aku tuliskan di blog ini sebagai penyakit bulananku, pun tidak pernah menghalangiku untuk makan dengan normal.
Soal sakit dan makan, aku punya cerita bodoh. Aku termasuk orang yang tidak terlalu mau merepotkan orang lain. Suatu waktu di tahun 2006, aku sakit demam biasa. Sepertinya begitu. Walaupun tubuhku sudah lemas, aku membeli sendiri makananku dengan berjalan cukup jauh ke warteg atau warung penjual makanan terdekat. Sakit tidak sembuh, aku malah menjadi tambah sakit karena kurang terawat. Aku bahkan sampai divonis gejala tifus karena sakitku yang akhirnya cukup lama sembuh itu. Sejak itu, aku mulai tidak ragu untuk merepotkan orang lain untuk membelikanku makanan bila aku sakit.
Ah, aku mentok. Aku hanya bisa menulis seri "Aku Makan" ini hanya sampai di sini.
Perpustakaan STT Jakarta, Meja 2
3 November 2009
19:40
Cinta Adalah...
Cinta adalah
Cinta adalah
Cinta adalah
Cinta adalah
Cinta adalah
Cinta adalah
Cinta adalah
Cinta adalah
Susan Polis Schutz
dikutip dari Bettie B Youngs, More Taste Berries for Teens: Koleksi Kedua, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), 221-222.
Aku mengutip tulisan di atas atas saran Yonea Sabatiari. Menurutku tulisan di atas adalah tulisan yang bagus.
Berbahagia untuk orang lainCinta adalah sumber kekuatan
Saat mereka bahagia
Sedih untuk orang itu saat mereka sedih
Bersama di kala senang
Dan bersama di kala sedih
Cinta adalah
Bersikap jujur kepada diri sendiri sepanjang waktuCinta adalah
Bersikap jujur kepada dia sepanjang waktu
Bercerita, mendengar, menghargai kebenaran
Dan tak pernah berpura-pura
Pemahaman yang begitu lengkap sehinggaCinta adalah sumber kesatuan
Kita merasa seolah kita bagian darinya
Menerima dia sebagaimana dia adanya
Dan tak mencoba mengubahnya menjadi orang lain
Cinta adalah
Kebebasan mengikuti hasratmu sendiriCinta adalah sumber keberhasilan
Sekaligus berbagi pengalaman dengannya
Pertumbuhan satu individu di samping
Dan bersamaan dengan pertumbuhan individu lain
Cinta adalah
Kegairahan merencanakan bersamaCinta adalah sumber masa depan
Kegairahan melakukan bersama
Cinta adalah
Amukan badaiCinta adalah sumber renjana
Ketenangan pelangi
Cinta adalah
Memberi dan menerima dalam situasi sehari-hariCinta adalah sumber berbagi
Bersikap sabar dengan kebutuhan dan hasrat pasangan
Cinta adalah
Mengetahui bahwa si diaCinta adalah sumber keamanan
Akan selalu bersamamu apa pun yang terjadi
Merindukan dia saat dia pergi
Tetapi tetap dekat di hati sepanjang waktu
Cinta adalah
Sumber kehidupan
Susan Polis Schutz
dikutip dari Bettie B Youngs, More Taste Berries for Teens: Koleksi Kedua, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), 221-222.
Aku mengutip tulisan di atas atas saran Yonea Sabatiari. Menurutku tulisan di atas adalah tulisan yang bagus.
Monday, November 2, 2009
Aku Makan
Aku baru saja makan siang di kantin sekolahku. Aku hanya makan nasi putih dengan lauk sayur capcay dan telor dadar. Itu sudah cukup untuk membuat perutku kenyang.
Makan. Itu bukanlah aktivitas yang terlalu spesial buatku. Buktinya aku sering melewatkan makan pagi atau makan siang atau makan malamku. Aku juga tidak pernah terlalu memilih-milih makanan apa yang akan aku makan.
Aku sering melewatkan salah satu waktu makanku bukan karena penghematan, tetapi lebih ke arah malas. Atau, karena aku sering menunda-nunda, salah satu penyakitku. Walaupun begitu, aku jarang (kalau dibilang tidak pernah sepertinya berlebihan) merasakan maagku sakit.
Berbicara tentang maag, aku jadi ingat kapan pertama kali aku kena penyakit maag. 27 Juni 1999. Itu adalah hari di saat Bapak akan diantar ke pemakaman. Waktu itu makan siang, dan menunya adalah nasi, rendang, dan sayuran. Sewaktu makanan sudah kutelan, aku merasakan sakit di lambungku. Besoknya aku dan Mamak langsung memeriksakan diriku ke Rumah Sakit St.Elizabeth. Just in case ada luka di dalam perutku akibat kecelakaan yang mengakibatkan Bapakku dirawat di RS Vita Insani Siantar sebelum akhirnya dia meninggal. Dua hari berikutnya aku di-rontgen. Ternyata tidak ada keanehan di perutku. Dokter hanya menvonis kalau aku sakit maag. "Karena banyak pikiran," kata dokter. Aku bertanya dalam hati, "apa? Banyak pikiran?" Vonis dokter aku terkena penyakit maag membuatku selama 3 tahun duduk di SMU Negeri 1 Medan selalu harus membawa bekal a.k.a bontot ke sekolah. Itulah pula yang menyebabkan diriku diberi julukan Dewa Bontot di Buku Tahunan SMUNSA 2002.
Makan di fastfood restaurant sebenarnya bukan pilihan buatku ketika aku baru menginjakkan kakiku di Bandung. Setiap kali jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza sepulang mengikuti kebaktian di GII Dago, aku tak pernah terpikir untuk makan di McDonald. Bukan kelasku, pikirku saat itu. Cara berpikir seperti itu berubah ketika kakakku datang mengunjungiku. Dengan dialah aku pertama kali makan di McD BIP. Aku tidak ingat kapan tepatnya itu terjadi, tetapi setelah itu aku jadi tidak sungkan-sungkan lagi untuk makan di McD BIP dan rumah makan cepat saji sejenisnya.
Makan saat sakit tentunya...
bersambung
Makan. Itu bukanlah aktivitas yang terlalu spesial buatku. Buktinya aku sering melewatkan makan pagi atau makan siang atau makan malamku. Aku juga tidak pernah terlalu memilih-milih makanan apa yang akan aku makan.
Aku sering melewatkan salah satu waktu makanku bukan karena penghematan, tetapi lebih ke arah malas. Atau, karena aku sering menunda-nunda, salah satu penyakitku. Walaupun begitu, aku jarang (kalau dibilang tidak pernah sepertinya berlebihan) merasakan maagku sakit.
Berbicara tentang maag, aku jadi ingat kapan pertama kali aku kena penyakit maag. 27 Juni 1999. Itu adalah hari di saat Bapak akan diantar ke pemakaman. Waktu itu makan siang, dan menunya adalah nasi, rendang, dan sayuran. Sewaktu makanan sudah kutelan, aku merasakan sakit di lambungku. Besoknya aku dan Mamak langsung memeriksakan diriku ke Rumah Sakit St.Elizabeth. Just in case ada luka di dalam perutku akibat kecelakaan yang mengakibatkan Bapakku dirawat di RS Vita Insani Siantar sebelum akhirnya dia meninggal. Dua hari berikutnya aku di-rontgen. Ternyata tidak ada keanehan di perutku. Dokter hanya menvonis kalau aku sakit maag. "Karena banyak pikiran," kata dokter. Aku bertanya dalam hati, "apa? Banyak pikiran?" Vonis dokter aku terkena penyakit maag membuatku selama 3 tahun duduk di SMU Negeri 1 Medan selalu harus membawa bekal a.k.a bontot ke sekolah. Itulah pula yang menyebabkan diriku diberi julukan Dewa Bontot di Buku Tahunan SMUNSA 2002.
Makan di fastfood restaurant sebenarnya bukan pilihan buatku ketika aku baru menginjakkan kakiku di Bandung. Setiap kali jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza sepulang mengikuti kebaktian di GII Dago, aku tak pernah terpikir untuk makan di McDonald. Bukan kelasku, pikirku saat itu. Cara berpikir seperti itu berubah ketika kakakku datang mengunjungiku. Dengan dialah aku pertama kali makan di McD BIP. Aku tidak ingat kapan tepatnya itu terjadi, tetapi setelah itu aku jadi tidak sungkan-sungkan lagi untuk makan di McD BIP dan rumah makan cepat saji sejenisnya.
Makan saat sakit tentunya...
bersambung
Isi Kepalaku?
Halaman tempat aku menulis ini telah terbuka sejak pukul 09.04. Aku baru bisa mengetik tulisan ini setelah jam di komputerku menunjukkan 10.34. Waktu terbuang begitu saja. Dalam waktu satu setengah jam, aku hanya bernyanyi untuk menyenangkan hatiku sendiri. Aku bernyanyi lagu Jamie Cullum, Michael Buble, dan Rod Stewart. Semua lagu yang kunyanyikan memang dapat menghiburku. Beberapa waktu setelah lagu selesai dinyanyikan, aku merasa kuatir lagi.
Yah, aku kuatir. Aku takut. Banyak hal yang aku takutkan dalam hidupku. Aku pernah membuat tulisan di blog-ku ini tentang Si Penakut dan Nila Setitik. Aku waktu itu menyebut diriku si penakut dan nila setitik. Penakut karena memang aku takut menghadapi masa depanku yang dari mataku memandang memang terlihat sama sekali tidak jelas, bahkan hingga saat ini ketika aku telah berumur seperempat abad lebih. Nila setitik? Aku lupa kenapa aku menyebut diriku nila setitik.
Aku sudah tak tahu mau menulis apa. Isi kepalaku sebenarnya penuh, tetapi aku pikir tidak mungkin menumpahkan semua isi kepalaku di sini.
Yah, aku kuatir. Aku takut. Banyak hal yang aku takutkan dalam hidupku. Aku pernah membuat tulisan di blog-ku ini tentang Si Penakut dan Nila Setitik. Aku waktu itu menyebut diriku si penakut dan nila setitik. Penakut karena memang aku takut menghadapi masa depanku yang dari mataku memandang memang terlihat sama sekali tidak jelas, bahkan hingga saat ini ketika aku telah berumur seperempat abad lebih. Nila setitik? Aku lupa kenapa aku menyebut diriku nila setitik.
Aku sudah tak tahu mau menulis apa. Isi kepalaku sebenarnya penuh, tetapi aku pikir tidak mungkin menumpahkan semua isi kepalaku di sini.
KGJ
3 November 2009
10:40
Subscribe to:
Posts (Atom)