Pages

Wednesday, March 17, 2010

Today's Public Lecture

This note is made under the 'saung' in my school. I am sitting here by myself to keep Andre's laptop while he is going to Rumah Sakit Persahabatan to arrange the transfer for his father's treatment that had an accident last night. Why do I have to sit here? It's because the bad signal reception of my modem in the library.

So, what's this note about? I guess I want to write a note about today's public lecture that was held in my school's hall.

The public lecture is about church law. It was scheduled to be started at 9.00. In fact, the lecture was started at 9.30. It was a little late because the people that came to the lecture is still only a few. Eventually it was started with only about twenty participants. The lecture was opened with short foreword and introducing by Lazarus Purwanto.

The lecturer was brought by Prof. Leo J. Koffeman, a professor of church law and ecumenism. He brought his lecture by read all of the paper's content that was also given to each participants. It took about thirty minutes for the lecturer to read the whole paper.

Requirement for an Academic Approach of Church Law. It was the title of the paper. Koffeman gave a brief description about the position of church law in the churches and theological school. It's no wonder that the church law has a little amount of "peminat". (I'm the only one from the undergraduate program that was coming to the lecture.)

I'll go straight to the requirements needed, according Koffeman, so church law deserves a place at the theological faculty. The church law need to be critical in order to fight conservatism; ecumenical in order to fight confessional narrow-mindedness; missionary in order to fight introversion; contextual in order to fight uniformity; juridicial in order to fight legalism. That's the very short summary of Koffeman's paper.

I now will write down some questions and statements that raised by the participants:
Pak Kadarmanto:
conflicts often rooted by the lack of understanding of church law. So, we need more scholars in church law (?); Indonesia churches tend to be legalism; Koffeman's approaches enlightening.
Lia Wetangterah:
"why is there no biblical approach?"
Nurselli:
"saya termasuk orang yang frustrasi terhadap tata gereja"; gereja mencontoh hukum negara

Actually there's still another note that can be added here. Since it's already dark here under the "saung", this note will be added someday. (I guess it will never be added!)

Saung STT Jakarta
17 Maret 2010
18:15

Monday, March 15, 2010

Catur Berlari Jelek yang Tidak Menyenangkan

Sekarang sudah tanggal 16 Maret 2010. Waktu di sudut kanan bawah layar komputerku menunjukkan pukul 0:02. Sekarang hari Selasa. Kebetulan hari libur. Hari Raya Nyepi.

Aku sekarang ingin menuliskan apa saja yang terjadi kemarin, Senin, 15 Maret 2010.

Aku lupa jam berapa aku tidur, tetapi aku ingat kalau aku baru merebahkan tubuhku di atas kasur Bang Hendrik di kamarku dulu setelah memasuki hari Senin. Aku juga ingat kalau aku sebenarnya sudah sempat terbangun sebelum aku benar-benar bangun dari tempat tidur Bang Hendrik sekitar pukul 10.20, sepuluh menit sebelum jam pertama kuliah kemarin dimulai. Itulah yang aku ingat antara tidur dan bangunku.

10:20. Aku pikir itu sudah terlalu terlambat untuk pergi ke kampus. Aku bisa saja lari dan tiba di kelas, tetapi itu pasti sudah terlambat untuk dinyatakan hadir oleh Pak Aritonang. Lagipula, aku belum mandi sejak Jumat malam karena sakit. What?

10:30. Aku mengambil handukku dari kamarku lalu turun ke bawah hendak mandi. Aku memang sempat berniat untuk datang ke kampus dan menghabiskan waktu di perpustakaan. Sayangnya, aku malah beranjak ke ruang tamu. Di sana ada Andre yang menantangku bermain catur. Aku pun berubah pikiran, tidak jadi mandi. Aku bermain catur dengannya hingga empat kali permainan. Keempat permainan itu dimenangkan olehku karena memang Andre terlalu gegabah dalam melangkahkah bidak catur yang malang. Setelah permainan selesai, aku, Andre, dan Jeremia malah berbincang-bincang. Entah tentang apa saja, aku lupa. Hanya saja aku tiba-tiba berpikiran untuk melihat jam di dinding ruang tamu kontrakan kami. Waktu aku lihat, ternyata jam itu tanpa rasa bersalah menunjukkan jam 12 lewat 10. What?

12:10. Aku langsung masuk ke  kamar mandi. Mandi secepat mungkin. 12:23 aku sudah selesai berpakaian dan siap berangkat. Aku turun dari kamarku. Sempat berpikiran untuk menyisir rambutku, tetapi aku pikir berantakan lebih baik. Aku lalu langsung mengambil sandal Yongki Komaladi-ku, dan berlari meninggalkan kontrakan setelah sempat mengatakan "cabut ke kampus" kepada Andre dan Jeremia yang ada di ruang tamu. 12:25 aku sudah ada di dekat rumah almarhum Ali Sadikin. Aku berjalan sejenak untuk mengambil nafas, lalu berlari lagi. Aku tiba di depan di pintu kelas saat Pak Yongki sudah berdiri di dekat mimbar dosen. Aku mengetok pintu, dan langsung masuk. Aku sempat berpikir kalau absensi sudah selesai. Sewaktu aku mengambil paper yang diletakkan di kursi bagian depan, Pak Yongki berkata, "kita isi daftar hadir dulu." Kalimat yang terucap dari mulut Pak Yongki itu bagaikan "euangelion" buatku. (Halah, berlebihan deh!) Aku langsung mengambil tempat duduk di baris kedua, di belakang barisan mahasiswa M.Div, tempat aku memang biasanya duduk dalam dua semester terakhir.

Apa sih tujuanku masuk kelas Teologi Biblika kemarin siang? Aku dengan jujur mengatakan kalau aku hadir di kelas Teologi Biblika kemarin hanya untuk mengisi daftar hadir. Dan setidaknya aku mendapatkan paper kelompok yang presentasi. Dan juga menambah bingung diri sendiri dengan tambahan pengetahuan yang tidak terlalu menempel juga di kepalaku.

FYI, aku sering tertawa di beberapa kelas yang aku ikuti semester ini. Tertawanya pun lebih sering tertawa sendiri. Itu karena ada orang yang rada-rada gila (ini pujian, bukan hinaan) seperti Yonea yang duduk tidak jauh dari tempat aku duduk. Pasti ada saja hal gila yang aku dan dia lakukan di kelas. Aku lupa apa saja kegilaan kami berdua di kelas tadi, tetapi ada satu pernyataannya -yang tidak termasuk pernyataan gila- yang aku catat di kertas paper kelompok yang presentasi milikku.

"Lo kok jelek banget sih, Kak?" Yonea 15 Maret 2010 12:48

Selesai kelas, aku langsung menyalam Martin Gultom yang duduk di depan kelas karena dia adalah salah satu dari tiga orang anggota kelompok yang presentasi kemarin. Aku mengucapkan selamat ulang tahun dan menanyakan kapan akan mentraktir. "Entar lah ya, kalau uang bulanan sudah dikirim. Orang rumah sepertinya sudah lupa kalau punya anak di Jakarta," ucapnya sambil tersenyum. Aku lalu meninggalkan kelas dan pergi ke kantin. Berlari. Padahal tidak ada yang terlalu penting aku kejar selain makan. Maklum, aku belum sarapan hingga kuliah Teologi Biblika selesai sekitar jam 14:05.

Kelas Teologi Bencana. Miss Young dan Miss Carenen datang ke ruang multimedia, kelas tempat kami kuliah setiap minggunya, dengan pintu ruangan masih terkunci. Aku dengan sukarela (?) berlari turun ke Bagian Umum untuk mengambil kunci. Naiknya pun berlari. Padahal tidak ada yang terlalu penting untuk dikejar. Kuliah berlangsung seperti biasa. Buatku, seperti biasanya: tidak terlalu menyenangkan. Hanya satu kalimat penting yang aku catat kemarin di kelas. "You totally messed them up," said Miss Young to Miss Carenen. Wait, it's not a note written on any paper. It's a status update I sent to Facebook and Twitter.

Hah, sekarang sudah jam 1:23? Sepertinya cerita ini harus segera diselesaikan.

Hanya beberapa hal yang perlu ditambahkan: pulang ke rumah, sorenya aku diajak bermain catur lagi oleh Andre. Aku memenangkan lagi tiga permainan. Malamnya, aku mengajak Wilson bermain catur. Aku memenangkan dua permainan. Ceritanya pasti akan jauh berbeda kalau yang menjadi lawan mainku adalah Stepanus atau Bang Hendrik.

Kesimpulan hari kemarin: bermain catur dan berlari dapat menjadi kegiatan rutin yang menyehatkan tubuh. Setidaknya aku tidak akan marah dibilang jelek dan bisa tetap merasa biasa saja walaupun kuliah tidak menyenangkan.

Kesimpulannya terlalu maksa kah?

Kamarku, Abednego Residence, Kalasan Dalam, Pegangsaan, Menteng, DKI Jakarta, Indonesia
Hari Raya Nyepi, 16 Maret 2010
1:32

Monday, March 8, 2010

My Alice in Wonderland 3D

So this is the story.

Kemarin siang aku hampir mengajak dosenku pengajar Teologi Bencana untuk menonton film Alice In Wonderland 3D. Itu karena setiba di kelas kemarin siang aku iseng bilang ke Sunny, "gimana ya kalau ajak Miss Bonnie nonton? Alice In Wonderland 3D.."
Sunny pun tiba-tiba malah bilang langsung ke Miss Bonnie, "Miss, vontho mau ajak Miss watching movie. Alice In Wonderland 3D."
"Oh.. Alice In Wonderland. I heard it's a good movie. Do you have seen it?"
"Will..." jawabku seadanya.
"You can watch it after the exam."

Sewaktu ujian berlangsung, aku malah mengajak Sonny lewat sms. Sayangnya dia lagi tidak enak badan.

Ujian selesai, aku bergegas berjalan pergi keluar kampus. Aku melihat Sosam dan Ella yang menurutku hendak ke Benhil. Aku sengaja mengejar bus yang mereka tumpangi.

Singkat cerita, aku malah menonton bersama mereka berdua.

And the story end like this.

KFC Cikini
9 Maret 2010
01:56

Wednesday, March 3, 2010

Coretan 1 April 2009




aku tidak menyangka kalau aku menulis dengan rapi sebuah catatan tidak penting tentang yang terjadi di suatu pagi di April 2009. tulisanku sangat rapi, entah kenapa. di akhir catatanku ini, aku menuliskan kalau aku menulis catatan ini di dalam kelas Pembangunan Jemaat 2, sepanjang kuliah berlangsung.