Pages

Tuesday, November 3, 2009

Cinta Adalah...

Cinta adalah
Berbahagia untuk orang lain
Saat mereka bahagia
Sedih untuk orang itu saat mereka sedih
Bersama di kala senang
Dan bersama di kala sedih
Cinta adalah sumber kekuatan

Cinta adalah
Bersikap jujur kepada diri sendiri sepanjang waktu
Bersikap jujur kepada dia sepanjang waktu
Bercerita, mendengar, menghargai kebenaran
Dan tak pernah berpura-pura
Cinta adalah
Pemahaman yang begitu lengkap sehingga
Kita merasa seolah kita bagian darinya
Menerima dia sebagaimana dia adanya
Dan tak mencoba mengubahnya menjadi orang lain
Cinta adalah sumber kesatuan

Cinta adalah
Kebebasan mengikuti hasratmu sendiri
Sekaligus berbagi pengalaman dengannya
Pertumbuhan satu individu di samping
Dan bersamaan dengan pertumbuhan individu lain
Cinta adalah sumber keberhasilan

Cinta adalah
Kegairahan merencanakan bersama
Kegairahan melakukan bersama
Cinta adalah sumber masa depan

Cinta adalah
Amukan badai
Ketenangan pelangi
Cinta adalah sumber renjana

Cinta adalah
Memberi dan menerima dalam situasi sehari-hari
Bersikap sabar dengan kebutuhan dan hasrat pasangan
Cinta adalah sumber berbagi

Cinta adalah
Mengetahui bahwa si dia
Akan selalu bersamamu apa pun yang terjadi
Merindukan dia saat dia pergi
Tetapi tetap dekat di hati sepanjang waktu
Cinta adalah sumber keamanan

Cinta adalah
Sumber kehidupan

Susan Polis Schutz

dikutip dari Bettie B Youngs, More Taste Berries for Teens: Koleksi Kedua, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), 221-222.

Aku mengutip tulisan di atas atas saran Yonea Sabatiari. Menurutku tulisan di atas adalah tulisan yang bagus.

Monday, November 2, 2009

Aku Makan

Aku baru saja makan siang di kantin sekolahku. Aku hanya makan nasi putih dengan lauk sayur capcay dan telor dadar. Itu sudah cukup untuk membuat perutku kenyang.

Makan. Itu bukanlah aktivitas yang terlalu spesial buatku. Buktinya aku sering melewatkan makan pagi atau makan siang atau makan malamku. Aku juga tidak pernah terlalu memilih-milih makanan apa yang akan aku makan.

Aku sering melewatkan salah satu waktu makanku bukan karena penghematan, tetapi lebih ke arah malas. Atau, karena aku sering menunda-nunda, salah satu penyakitku. Walaupun begitu, aku jarang (kalau dibilang tidak pernah sepertinya berlebihan) merasakan maagku sakit.

Berbicara tentang maag, aku jadi ingat kapan pertama kali aku kena penyakit maag. 27 Juni 1999. Itu adalah hari di saat Bapak akan diantar ke pemakaman. Waktu itu makan siang, dan menunya adalah nasi, rendang, dan sayuran. Sewaktu makanan sudah kutelan, aku merasakan sakit di lambungku. Besoknya aku dan Mamak langsung memeriksakan diriku ke Rumah Sakit St.Elizabeth. Just in case ada luka di dalam perutku akibat kecelakaan yang mengakibatkan Bapakku dirawat di RS Vita Insani Siantar sebelum akhirnya dia meninggal. Dua hari berikutnya aku di-rontgen. Ternyata tidak ada keanehan di perutku. Dokter hanya menvonis kalau aku sakit maag. "Karena banyak pikiran," kata dokter. Aku bertanya dalam hati, "apa? Banyak pikiran?" Vonis dokter aku terkena penyakit maag membuatku selama 3 tahun duduk di SMU Negeri 1 Medan selalu harus membawa bekal a.k.a bontot ke sekolah. Itulah pula yang menyebabkan diriku diberi julukan Dewa Bontot di Buku Tahunan SMUNSA 2002.

Makan di fastfood restaurant sebenarnya bukan pilihan buatku ketika aku baru menginjakkan kakiku di Bandung. Setiap kali jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza sepulang mengikuti kebaktian di GII Dago, aku tak pernah terpikir untuk makan di McDonald. Bukan kelasku, pikirku saat itu. Cara berpikir seperti itu berubah ketika kakakku datang mengunjungiku. Dengan dialah aku pertama kali makan di McD BIP. Aku tidak ingat kapan tepatnya itu terjadi, tetapi setelah itu aku jadi tidak sungkan-sungkan lagi untuk makan di McD BIP dan rumah makan cepat saji sejenisnya.

Makan saat sakit tentunya...

bersambung

Isi Kepalaku?

Halaman tempat aku menulis ini telah terbuka sejak pukul 09.04. Aku baru bisa mengetik tulisan ini setelah jam di komputerku menunjukkan 10.34. Waktu terbuang begitu saja. Dalam waktu satu setengah jam, aku hanya bernyanyi untuk menyenangkan hatiku sendiri. Aku bernyanyi lagu Jamie Cullum, Michael Buble, dan Rod Stewart. Semua lagu yang kunyanyikan memang dapat menghiburku. Beberapa waktu setelah lagu selesai dinyanyikan, aku merasa kuatir lagi.

Yah, aku kuatir. Aku takut. Banyak hal yang aku takutkan dalam hidupku. Aku pernah membuat tulisan di blog-ku ini tentang Si Penakut dan Nila Setitik. Aku waktu itu menyebut diriku si penakut dan nila setitik. Penakut karena memang aku takut menghadapi masa depanku yang dari mataku memandang memang terlihat sama sekali tidak jelas, bahkan hingga saat ini ketika aku telah berumur seperempat abad lebih. Nila setitik? Aku lupa kenapa aku menyebut diriku nila setitik.

Aku sudah tak tahu mau menulis apa. Isi kepalaku sebenarnya penuh, tetapi aku pikir tidak mungkin menumpahkan semua isi kepalaku di sini.

KGJ
3 November 2009
10:40

Welcome Message Picture-ku di multiply-ku telah kembali. Aku memakai layanan GooglePages yang setahuku tak lama lagi akan tidak beroperasi juga.

Monday, October 26, 2009

Arti Mencintai

Aku diminta oleh Yesie untuk menulis sebuah tulisan tentang cinta. Aku bingung mau menulis dari mana. Pada awalnya yang ada di dalam pikiranku adalah membuat tulisan tentang arti mencintai, bukan arti kata cinta itu. Itulah sebabnya aku pernah melakukan sejenis polling lewat sms kepada puluhan orang yang nomornya ada di handphoneku. Jawaban mereka beragam. Oh iya, pertanyaannya sebenarnya cukup panjang sehingga kebanyakan jawaban beragam mereka itu tidak terlalu menjawab seluruh pertanyaan yang aku tanyakan. Pesan singkat yang aku kirim berisi demikian: “Menurutmu, apakah arti mencintai? Apakah kau sedang mencintai seseorang saat ini? Bila ya, mengapa engkau mencintainya?”

Sebelum sampai pada jawaban mereka yang beragam itu, aku sepertinya perlu menuliskan di sini apa arti cinta dan mencintai menurut beberapa buku referensi di perpustakaan STT Jakarta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta itu adalah suka sekali, sayang benar. (Definisi pertama itu merujuk kepada suka atau sayang kepada anggota keluarga.) Definisi kedua: cinta adalah kasih sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan). Sedangkan mencintai artinya adalah menaruh kasih sayang kepada; menyukai. Karena belum puas dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, aku juga mencari arti kedua kata itu di Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) karangan J.S Badudu dan M.Zain. Definisi pertama: kasih sayang yang besar sekali. (Definisi inipun ditujukan kepada sayang terhadap anggota keluarga.) Definisi kedua: kasih sayang yang besar sekali dan keinginan memiliki. Contoh kalimat untuk definisi kedua di dalam KUBI ini pun menarik: Cintanya kepada kekasihnya sangat besar. Sedangkan mencintai artinya adalah cinta akan seseorang atau sesuatu.

Definisi manakah yang Anda pilih? Kalau aku sih lebih memilih definisi KUBI.. Mengapa? Pengin aja. Nah, lho?

Nah, sekarang kita sampai pada jawaban beragam dari para responden polling sms saya:

Eunice© (20tahun): “Cinta adalah perasaan yang tumbuh ketika kita ingin selalu bersama dan selalu ingin membuatnya tersenyum bahagia. Dan kita akan mencintai seseorang jika kita dapat saling melengkapinya.”

Ingrid (19): “Mencintai adalah belajar untuk menyangkal diri. Aku mencintai seseorang yang aku butuhkan dan membutuhkanku.”

Daphne (19): “Mencintai seseorang karena dia adalah dia. Mencintai berarti siap menghadapi resiko apapun….  Kalau kita cinta sama dia ya kita harus menanggung resiko apapun sifat dia alias apa adanya dia.”

Mandy (20): “Mencintai berarti berbagi kasih dengan orang lain dan menerima dia apa adanya (idealnya). Ia, karena dia pacarku.  (2)Karena dia belahan jiwaku.(3)Terkadang cinta itu pilihan. Pilihan untuk sakit atau senang. Dan itu semua tergantung penikmat cinta itu sendiri. (4)Orang hidup karena cinta. Dan cinta ada untuk memberikan kehidupan. Prioritas bisa membantu kita melihat dan menentukan mana yang utama. Hidup atau cinta.”

Aaron (20): “Mencintai itu seperti titik equilibrium dalam ekonomi, sebuah keseimbangan di mana kita memberi, sekaligus membuka diri untuk menerima. Iya, sekarang lagi mencintai seseorang, karena dia bisa membuat gue berada di titik equilibrium itu.”

Samantha (21): “Karena ada ketertarikan tertentu yang membuat gue jatuh cinta, kemudian karena ada rasa sayang maka cinta itu semakin timbul.”

Audrey (24):  “Mencintai itu... Ketika kebahagiaan seseorang lebih penting dari kebahagiaan sendiri, karena kalau orang itu bahagia, kamu jadi jauh lebih bahagia lagi. Mencintai seseorang? Banget. Kenapa? Ga tau juga. Penginnya tau…. (2)Mencintai dilakukan karena cinta sama seseorang. Kenapa cintanya sama orang itu yang susah dijawab.”

Dorothy (22): “…Kebanyakan kita memerlukan alasan untuk mencintai seseorang, tetapi cinta yang sebenarnya tidak membutuhkan alasan. Ia hanya butuh tindakan.”

Nicole (21): “Aku pernah mencintai seseorang. Tapi dia tidak mencintaiku. Seseorang pernah mencintaiku. Tapi aku tidak mencintainya. Kedua kenyataan ini menyakitkan. Sekarang aku mencintai sesorang, yang juga mencintaiku. Itu jauh lebih baik.”

Chloe (22): “Mencintai adalah membuat yang kita cintai bahagia meski tidak bersama dirinya. Cowok-cowok yang aku cintai sudah dimiliki sama orang lain. Kalau pacar sekarang lagi ga punya tuh. Tapi saya punya keluarga dan teman-teman yang saya cintai.”

Felicity (20): “Cinta menurut gue ya persaaan yang ada yang dilandasi kepercayaan, ketulusan dan kejujuran. Iya..gue sedang merasakan mencintai seseorang.”

Jocelyn (20):  “…Aku sampai sekarang cuma bisa mencintai keluarga intiku. Di luar itu sepertinya aku belum pernah yang namanya jatuh cinta, karena aku gak tau arti mencintai itu apa. Sekarang aku lagi belajar untuk benar-benar mencintai Tuhan saja…”

Judith (19): “Nggak.. Aku gak sedang mencintai”

Yvonne (20): “Mencintai berarti menyayangi dengan apa adanya tanpa mengharapkan balasan. Itu sih idealnya. Gue gak lagi mencintai seseorang. Lagi merenung buat diri sendiri.”

Thelma (20): “Tidak bisa diungkapkan dengan sekadar kata-kata karena itu semua ada di dalam hati.”

Marion (19): “Arti mencintai adalah menerima apa adanya. (Hehe, dangkal banget ya?! Ya begitu deh. Mencintai seseorang saat ini? Hmmm.. Yapp. Karena dia mencintai saya. Dan di depan dia, gue bisa menjadi diri gue sendiri. Karena dia menerima gue apa adanya.. (Kok gue jadi melow sih?! Najonk banget ya? Hehe..”

Rosemary (20): “Ada yang bilang katanya mencintai itu ga perlu alasan, karena jika ada berarti cintanya ga tulus dong.. (2) tapi, kalau kata cowok gue alasannya karena ingin hidup dan membina keluarga bersama orang yang dicintai.”

Florence (20): “You know..Love isn’t about loving a perfect person..But love is about loving an ordinary person perfectly..

Suzanne (19):  “..Mencintai? Apa ya? Gue sendiri gak tau arti pasti mencintai.. dan gue juga kurang suka istilah ini. Kalau dalam hubungan laki-laki dengan perempuan gue lebih suka istilah sayang daripada cinta. Karena cinta mungkin bisa jadi gak bermakna saat suatu hubungan putus. Tetapi sayang bisa terus-menerus dalam wujud yang berbeda. (2) Gue gak pernah menyamakan cinta=sayang. Gue gak pernah bilang bahwa gue mencintai seseorang.  Sayang itu lebih dalam dan gak akan pengaruh bila rasa sayang itu gak berbalas. Kayak gue bilang tadi bisa dalam wujud yang lain. Saat ini gue  menyayangi seseorang. Alasan mengapa gue sayang sama dia mungkin akan terkesan terlalu dangkal bila bisa dituliskan.

Shirley (19): “Menurut gue..Mencintai itu..Suatu perasaan yang meluap-luap  yang membuat kita rela melakukan apa saja demi melihat orang yang kita cintai bahagia. Kenapa gue mencintai dia?Ya karena saat bersama dia, gue bisa menjadi diri gue sendiri dan dia bisa membuat gue nyaman, dan bahagia.”

Eileen (20): “..Menurut gue mencintai itu memahami.. Gue rasa gue sedang mencintai seseorang. Terus, gue gak tau kenapa gue mencintai dia, tapi yang pasti gue mengagumi kesederhanannya, kedewasaannya dan relasinya dengan Tuhan dan sesama..”

 


©semua nama di dalam tulisan ini bukan nama sebenarnya. Umur pun hanya perkiraan dari penulis.



Tulisan di atas adalah tulisan yang aku buat sekitar Februari lalu berdasarkan polling sms yang aku buat sendiri. Yesie sebenarnya memintaku untuk membuat tulisan di atas untuk dimasukkan ke buletin Kurir, sebuah buletin mahasiswa di sekolahku. Sayangnya, aku tidak bisa membuat kesimpulan dari hasil polling di atas. Note: Bagian yang dicetak tebal adalah bagian yang menurutku beberapa hal yang menarik dari arti mencintai menurut beberapa orang yang merespon polling smsku.

Friday, October 23, 2009

Abednego: Gokil

Abednego. Nama itu ditetapkan beberapa hari sebelum Jalan Salib di Parigi dalam rangkaian acara OSMABA 2005 (Agustus 2005). Saya sendiri tidak tahu siapa yang menetapkan nama itu menjadi nama angkatan kami. Singkat cerita, nama itu tetap menjadi nama angkatan kami, mahasiswa S1 STT Jakarta angkatan 2005, hingga saat ini.

Abednego sendiri seingatku merupakan singkatan dari Angkatan Bandel, Nekad, dan Gokil. Namanya memang Alkitabiah karena Abednego merupakan salah satu tokoh di dalam kitab Daniel. Begitu tahu singkatannya, sepertinya orang tahu kalau itu tidak Alkitabiah sama sekali. Kembali ke kepanjangan dari Abednego, saya belakangan menyadari kalau kepanjangan Abednego lebih cocok Anak-anak Bandel, Nekad, dan Gokil. Sehingga bila disebutkan angkatan Abednego, tidak terjadi perulangan kata 'angkatan'. Nice, I thought.

Hari ini kelas kami menjadi kelas yang mengkoodinir ibadah Jumat siang di Kapel STT Jakarta. Salah satu ciri kelas kami terlihat dalam proses persiapan ibadah tadi: gokil. Walau saya tidak mengikuti secara keseluruhan prosesnya, saya tahu letak kegokilan teman-teman sekelasku dalam mempersiapkan ibadah tadi siang. Tata liturgi disiapkan oleh Yosafat. Itu sih biasa. Yang gokil, kami tidak menunjuk siapapun untuk menjadi pengkhotbah hingga kemarin. Saya yakin penentuan bahwa tidak ada yang khotbah untuk ibadah tadi siang baru dilakukan kemarin siang. Pengganti khotbah ditampilkan semacam refleksi dalam pertunjukan drama yang menurut teman saya mengacu pada Metode Bercerita dalam kuliah Metode Mengajar. Yang gokil dari pertunjukan drama itu: skrip disiapkan oleh Jeremia Hutajulu bersama Stepanus Bungaran dalam waktu semalaman saja. Latihan untuk melakukan pertunjukan tadi pun baru dilakukan paling cepat setelah jam 9.30. (Saya tahu itu karena Jeremia dan Stepanus masih di KGJ sewaktu saya pulang untuk mandi ke KGJ setelah kuliah jam pertama.)

Saya tidak tahu penilaian orang lain terhadap jalannya "pertunjukan" di ibadah tadi siang. Pendapat saya, naskah drama yang disiapkan oleh Jeremia dan Stepanus cukup mengena dengan teks Alkitab yang menjadi bahan khotbah, yaitu dari Matius 11:25-30. Dan jalannya ibadah, walau di banyak bagian saya akui kurang menunjukkan bahwa teman-teman saya sudah lulus kuliah Memimpin Ibadah, berjalan cukup baik.

Mau tahu pendapat beberapa di antara kami tentang ibadah tadi siang? "Pasti hasilnya lebih buruk kalau ini dipersiapkan dari seminggu yang lalu!"

Well done, Abednego. We are gokil.

KGJ di KGJ
23 Oktober 2009
20:08

tulisan ini adalah pendapat pribadi. *halah, penting gak sih?*