Pages

Showing posts with label baddays. Show all posts
Showing posts with label baddays. Show all posts

Tuesday, October 10, 2006

Hidup (Serasa) Berhenti

Hidup gue serasa berhenti. Hanya rasanya saja. Hidup gue memang masih berjalan, tetapi sudah banyak hal dalam hidup gue yang diam di tempat.


Gue sebagai mahasiswa seharusnya lebih banyak belajar lagi, apalagi sekarang adalah masa-masa Ujian Tengah Semester (UTS). Tetapi dalam kenyataannya gue hanya bisa diam. Gue hampir sama sekali gak belajar sebelum ujian. Gue memang berusaha untuk bisa belajar, tetapi sama sekali gak berhasil.


Gue gak gitu tahu pasti apa yang menyebabkan hidup gue bisa berhenti seperti sekarang ini. Dalam perkiraan gue sih, berhentinya hidup gue sekarang ini karena beberapa masalah yang terjadi dalam hidup gue beberapa waktu lalu. Permasalahannya tidak usah lagilah disebutkan. Hanya saja permasalahan itu, menurut gue, kebanyakan selesai dengan gantung. Tidak semua sisi dari permasalahan yang gue alami itu berhasil gue selesaikan.


Permasalahan gue dengan mata kuliah MPS gue adalah salah satu contohnya. Awalnya sih gue pikir permasalahan mata kuliah itu dapat selesai begitu saja ketika gue dinyatakan gagal mata kuliah itu --ini juga berarti gue sudah dapat dipastikan tidak bisa lulus tepat waktu--. Ternyata, sebagai tanggung jawab moral, penyelesaian akhir yang seharusnya gue lakukan untuk mata kuliah ini adalah minta maaf, entah secara langsung ataupun tidak, kepada pendeta gereja dan gereja tempat gue seharusnya praktek untuk mata kuliah gue itu. Kenyataannya, sampai sekarang gue tidak melakukan apa-apa.


Tanpa gue sadari, permasalahan yang awalnya gue anggap kecil itu berpengaruh terhadap seluruh hidup gue. Itu juga ditambah dengan diri gue yang sering memperbesar masalah kecil dan juga, ternyata, gue termasuk orang yang kurang mampu bekerja atau hidup di bawah tekanan (dan masalah?).


Gue mau coba buat alur cerita permasalahan yang gue alami dari awal masa kuliah semester ini hingga sekarang hidup gue serasa berhenti, dan rasanya gue juga ingin berhenti hidup. OSMABA dan Pasca OSMABA... muncul permasalahan bersama. Gue sempet berpikir untuk break kuliah untuk semester ini atau bahkan setahun, hanya gara-gara permasalahan ini. Karena permasalahan ini, gue males mikirin masalah praktek ke gereja sehingga muncullah masalah mata kuliah MPS gue. Hampir bersamaan dengan masalah mata kuliah MPS, ada masalah tulisan gue yang gue buat di blog gue. Ketakutan gue dicap buruk oleh orang sekampus gue gara-gara tulisan gue itu membuat gue praktis takut+malas ke kampus. Hal-hal itulah yang berpengaruh ke diri gue sehingga gue malah sering cabut kuliah, gak punya semangat ngerjain tugas yang pada akhirnya gue gak ngumpulin tugas-tugas itu, dan kalau masuk kelas gue juga gak bisa konsentrasi karena terpikir masalah-masalah yang lain. Unfortunately, and the newest, permasalahan-permasalahan itu ditambah lagi dengan permasalahan My Feelings are Killing Me.


Tadi pagi gue mulai berusaha untuk mencoba melakukan segala sesuatu dengan lebih bijaksana, setidaknya untuk membuat hidup gue gak serasa berhenti seperti sekarang ini. Hanya saja, dan tetap saja, hidup gue masih serasa berhenti.


Untuk saat ini gue masih bingung bagaimana caranya membuat hidup gue bisa berjalan seperti seharusnya. Gue pun gak tahu akan sampai kapan gue merasa hidup gue berhenti seperti sekarang ini. Satu hal yang gue tahu, gak akan ada yang bisa menyelesaikan masalah-masalah gue ini selain diri gue sendiri. Gue hanya sedang gak tahu bagaimana caranya. Atau mungkinkah gue tahu, tetapi karena hidup gue serasa berhenti gue pun tidak bisa melakukan apa-apa?


Kalasan Dalam 44B, Jakarta
16:20
10 Oktober 2006
DAY-8197

Wednesday, August 23, 2006

Stres Pasca OSMABA


OSMABA sudah selesai hari Jumat lalu. Hanya saja OSMABA kali ini meninggalkan stres yang begitu berat, paling tidak untuk diriku sendiri. Mungkin tidak banyak yang tahu. Tetapi, OSMABA STT Jakarta tahun ini merupakan ospek mahasiswa pertama yang dilaksanakan STTJ yang berakhir selarut malam seperti OSMABA saat ini. Sumpeh lo? Bukannya tahun lalu lebih larut malam lagi?

Gue stres.


Gue capek.


Berat badan gue mungkin juga turun karena sering lupa makan dan sering hanya makan sekali dalam sehari.


Ah, inti dari tulisan ini sebenarnya: gue capek dan stres. Gue juga kemungkinan bisa sakit karena ketidakteraturan gue dalam hal makan. Dan gue hanya bisa mengeluh..


PS:Ase ibotoh nasiam, lang adong uhurhu mambahen tulisan on gabe taridah i Google. Ai domma dokah bloghu on taridah i Google anggo adong halak na sihol manonggor ahu atap halamanhu. Jadi, anggo taridah tulisanhu on i Google, lang na hu sengaja ai. Ai na oto gakni ahu? On pe domma hu gantih isi ni tulisan on halani lang ra gakni nasiam ibotoh halak aha na masa. Anggo adong hata-hatahu ibagas tulisan on hinan na songon sihol ahu manghatahon na sabotulni marhiteihon aha no hubotoh, ai pe lang laho manghatahon hu bani halak i luar dirinta, tapi bani halak ibagas dirinta do. Gak ngerti, kan? Sama...

Thursday, May 25, 2006

Talk to the Hand

Gimana sih hidupmu Vontho?
Apakah yang kau pikirkan?
Kau tidak mau belajar dari kesalahan. Kalau saja kali ini kau DO, berarti kau sudah masuk ke dalam lobang yang sama. Goblok mana kau sama keledai?

Ah, dirimu hanya memikirkan hal bodoh selama ini. Tak penting untuk hidupmu. Apa sih yang bisa kau dapatkan dari hal yang gak penting itu? Hanya kesenangan sesaat bukan? Menuliskan ini di komputermu sebenarnya bukan kesenangan, tetapi tetap saja kau lakukan. Bodoh bukan? Bahkan yang bukan kesenangan pun kau lakukan?

Mau kemana kan kau bawa hidupmu vontho? Tak kah kau ingat lagu yang dianggap aneh ama teman-temanmu? Isi lirik lagunya : hidupmu bukan kebetulan. Mana bisa kau mengerti itu. Betul?

Sekarang, kerjakan saja paper Filsafat Timurmu. Jika tidak, DO sudah di depan matamu.

Asrama Putra STTJ, Dempo 14, Jakarta
23:59
25 Mei 2006
DAY8059



Wednesday, May 18, 2005

Miss You, Dad

Aku Bercinta


Oleh: Malulu

Aku memutuskan ini sikapku. Aku takkan mau disentuh oleh lelaki. Lelaki yang aku cintai sekalipun. Tidak. Sebelum aku menjadi isterinya. Tidak akan. Sebab biarpun kami saling mencintai, yang kupahami adalah, kami harus membiarkan diri kami bebas mandiri, tak dimabuki perasaan yang emosional. Tapi dipenuhi perbuatan. Berbuat yang terbaik bagi kekasihku. Dan menerima perbuatan baiknya untukku. Jejaka yang membiarkan aku tumbuh asri, tanpa gangguan tangan halusnya memang aku rasakan sebagai aksi cintanya kepadaku.


Itulah aku. Sebagai gadis ceria dari pertumbuhan remajaku, sudah banyak lelaki yang kukenal. Walaupun mereka tak kuberi menyentuh tubuhku, tetapi mereka semakin mencintaiku dan membiarkan hidupku mandiri.


Mereka memang tidak banyak. Satu, dua, tiga atau…ya empat orang. Itu kuingat benar. Pertama kali, memang mereka jengkel. Masak sudah lama bergaul namun tak ada kecupan di pipi atau pegangan tangan. Gerutu mereka kuingat. Namun aku katakan, ”Bila sempat mengusik pendirianku, biarlah kau pergi entah kemana. Aku tidak akan merasa kecewa atas kepergianmu.” Sebabnya ini. Benar aku merdeka dan tak pernah merindukan elusan tangan si dia yang telah pergi bersanding dengan wanita yang dicintainya.


Cukup menyenangkan memang. Biarpun berpisah dengan pacarku, mereka pamit untuk mempersunting gadis pujaannya, aku tetap tegar penuh semangat. Cinta memang membiarkan sesamanya bertumbuh bebas dan merdeka. Tak diikat oleh puja dan puji yang tak mahal keluar dari si dia yang kucintai.


Di usiaku yang ke-24 tahun, aku bertemu dengan teman sekelasku di SMP dulu. Kenangan di ruang kelas dengannya terus mengalir dalam percakapan kami. Aku aktif bersamanya dalam kegiatan gerejawi. Main drama, koor, kebaktian pemuda dan merayakan Natal. Kami tidak pernah bicara soal cinta. Kami berbicara mesra tentang kegiatan gereja dan masa sekolah kami dulu. Rutin memang sebagai mahasiswa, si dia ini menarik perhatianku. Kegiatan mengajarku selaku guru tetap bersemangat.



Aneh! Pemuda ini lain. Lain dengan yang dulu. Aku punya perasaan lain kepadanya. Aku mungkin cinta dia dan… anehnya tanganku dipegangya. Itu kali pertama tanganku dipegang. Berkesan memang. Tanpa curiga seikitpun sepertinya kubebaskan dia. Tapi hanya itu. Ia tidak kutolak. Kenapa aku membiarkannya? Entahlah, aku tidak tahu. Mungkinkah ini tanda kerelaanku bersamanya? Inilah pertanyaanku. Aku teringat tekadku semula. Aku takkan mau disentuh oleh teman lelakiku, kecuali ia akan menjadi suamiku. Tetapi kenapa yang satu ini? Kenapa harus dia? Apakah ia bersedia jadi suamiku? Saat ini ia masih mahasiswa, belum ada jaminan mau mempersuntingku.


Keraguanku mulai terbukti ketika ia mulai menggandeng wanita lain di hadapanku. Soalnya sepele. Ibuku marah ketika kawanku ini datang. Besoknya ia bersama gadis lain. Tapi aku kuatir. Tak mungkin kemarahan ibuku memisahkan kami. Aku tak putus asa. Seperti biasa aku bertemu dia di gereja. Hanya saja aku tidak diantarnya pulang seperti selama ini.


Tanpa kuketahui penyebabnya ia datang lagi. Dan memulai percakapan pengalaman sewaktu kami di SMP dulu. Saat ia diwisuda, orang tuanya datang ke rumah kontrakku, ia memperkenalkan ayahnya. Calon mertuaku? Tidak. Sebab kami tidak pernah bicara soal perkawinan, tetapi, mungkin juga. Sebab kenapa orang tuanya harus dibawa kepadaku? Ia memang pernah cerita. Tanpa persetujuan orangtuanya ia takkan menikah dengan seseorang.


Inilah mungkin saatnya orang tuanya menilai diriku sebelum menyetujuinya. Dan benar juga. Tekadku untuk tidak dijamah oleh siapapun, selain yang menjadi suamiku terwujud. Ia beritahukan aku bahwa orangtuanya setuju……… Ia jadi suamiku……… Kami saling mencinta. Dan tanpa kuketahui sebabnya aku dulu membiarkan tanganku dielusnya. Hanya itu. Dan dialah membelaiku kini dalam mengayuh rumah tangga bahagia kami. Hanya dia dan memang kepadanyalah aku curahkan segalanya.


Selaku suku Simalungun ia menuruti tradisi kami. Malam penuh bahagia itu, sang suami mempersembahkan sekapur sirih. Aku bersedia menerimanya, tanda kebahagiaanku bersamanya memasuki kesucian perkawinan.











Cerita di atas ditulis oleh Malulu antara tahun 1997-1999 di Batam. Malulu bukanlah nama sebenarnya dari si penulis. Nama sebenarnya dari Malulu adalah (the late) Apulman Saragih. Tapi waktu aku menemukan tulisan itu dimuat di Poldung, nama penulisnya memang Malulu. Poldung sendiri adalah sebuah tabloid yang diterbitkan oleh Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Resort Batam yang pada saat itu yang menjadi pendeta di sana adalah penulis sendiri. Gak ngerti deh masih terbit apa ndak tuh tabloid. Soalnya yang punya ide tuh tabloid untuk terbit kayaknya sih si penulis sendiri yang sekarang sudah gak ada lagi. Waktu pertama membaca sih aku udah ngerti kalau itu cerita sebenarnya kisah yang pernah dialami si penulis, karena aku sudah pernah dengar sendiri cerita itu langsung dari istri si penulis. Tapi memang "aku" dalam cerita itu jelas bukan si penulis, melainkan istri si penulis. Si penulis sudah jelas dong berperan sebagai apa dalam cerita itu. Dan apa hubungannya antara penulis dengan aku? Yeah, he's my late dad. A great dad yang bukan kami keluarganya aja yang merasa kehilangan. Tapi sayang salah satu penyebab dia pergi adalah aku. And now I miss him so much. I never felt like this before he left. Miss you, Dad.


as posted in vontho.blogspot.com


In the hard time like now, why do I have to miss him again.

Thursday, May 12, 2005

12 Mei 2005: Asli Bajakan

Old City, May 12, 2005
7:10 pm


Dear PLC.4 MIE HAED,


    Pagi ini aku bangun cukup terlambat. Aku baru bangun dari tempat tidurku sekitar pukul 9:30. Aku memang baru tidur sekitar pukul 1:30 tadi pagi. Tidur jam segitu juga bukan karena mengerjakan tugas, tapi karena main game keluaran Pop Cap Games, Rocket Mania Deluxe. Itulah mungkin yang menyebabkan aku tidak bisa bangun cepat. Bangun tidur aku ke lantai dua untuk ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi aku ke beranda lantai dua. Aku mengangkat dumbell dan melakukan latihan ringan sampai seorang teman kosku datang mengomentari yang tidak perlu dikomentari. Aku pun naik lagi ke kamarku. Duduk di atas kursi. Merenung sejenak, apakah aku sebaiknya saat teduh atau tidak. Aku pun memutuskan untuk bersaatteduh. Aku berdoa. Lagi-lagi masih dengan perasaan bersalah. Kali ini karena kemarin malam sekitar jam 11 lewat, aku menelepon Mamakku. Aku menelepon bermaksud untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Aku memang berusaha agar Mamakku tidak menanyakan keadaanku terutama keadaan kuliahku. Tapi aku tidak bisa menahannya bertanya tentang kuliahku. Aku yang sepertinya sudah mulai terbiasa berbohong memilih untuk berbohong kepadanya. Aku tahu suatu saat dia pasti akan tahu yang sebenarnya, tapi tidak di hari ulang tahunnya. Di saat dia sendirian di rumah, tanpa ada orang lain yang menemani. Tanpa seorang pun yang bisa dia jadikan tempat berbagi cerita kalau saja aku langsung mengatakan hal yang sebenarnya. Tanpa orang yang bisa menghentikan tangisannya kalau dia sampai menangis mengetahui hal yang sebenarnya.


    Ya, karena kebohonganku kemarinlah aku merasa bersalah lagi di hadapan Tuhan. Hatiku menuduhku kalau aku adalah orang yang tidak pantas untuk datang ke hadapanNya. Tapi akhirnya aku pun memulai mengucapkan doaku. Dimulai dengan permohonan ampun kepada Tuhan karena keberadaanku saat ini yang masih saja berdosa, padahal aku adalah orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia, termasuk dosaku. Akhirnya aku bisa berdoa. Aku mengakui segala dosa dan pelanggaranku yang sepertinya tidak banyak -atau bahkan tidak ada- orang yang tahu, tetapi Dia pasti tahu. Aku jadi mengingat janji dalam firman Tuhan yang mengatakan kalau kita mengakui dosa kita, maka Dia akan setia dan adil. Yang aku tahu sih, Dia akan mengampuni dosaku.


    Aku lalu berdoa untuk pembacaan firman Tuhan yang akan aku baca pagi ini. Hari ini firman Tuhan diambil dari Efesus 3:13-21. Isinya adalah sebagai berikut:


    Inilah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu. sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar seta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya. Amin.


    Yang aku mengerti dari firman Tuhan itu adalah memang benar kalau kasih Tuhan itu betapa panjang dan lebar dan tinggi dan dalam dan kita perlu Tuhan juga untuk mengerti kasih-Nya yang bahkan melampaui segala pengetahuan. Dan segala kemuliaan hanyalah bagi Dia yang dapat melakukan lebih dari apa yang didoakan dan lebih juga dari yang dapat manusia pikirkan.


    Aku bersyukur buat firman Tuhan yang aku baca itu, terutama karena memang Dia dapat melakukan lebih dari apa yang aku minta dan juga lebih dari apa yang aku pikirkan. Aku sudah pernah merasakan betapa Dia memang Tuhan yang seperti itu tahun lalu ketika aku merasa ataupun memastikan diriku sudah tidak tertolong lagi atau sudah pasti DO. Tapi itu hanya pemikiranku, bukanlah pikiran Tuhan. Nyatanya aku masih bisa kuliah di sekolahku sekarang ini. Tapi kejadian yang sama terulang lagi. Aku pun hanya bisa menyerahkan segala sesuatunya kembali kepada-Nya. Aku tidak berharap Dia mau menyelamatkan aku lagi seperti tahun lalu. Tapi kali ini aku mungkin lebih baik meminta kepadaNya memberikan jalan yang terbaik buatku dan juga buat keluargaku.


    Setelah membaca firman Tuhan itu, akupun membaca buku renungan harian Saat Teduh yang merupakan pedoman buatku untuk membaca firman Tuhan setiap harinya (kalau aku bersaatteduh). Judulnya untuk renungan hari ini adalah "Tanpa Bunga, Tanpa Coklat". Membaca judulnya pada awalnya aku bingung apa yang menjadi intinya. Tapi setelah membacanya, inti yang aku dapat adalah bahwa kasih Tuhan itu tidak ditunjukkan seperti kasih seorang pacar kepada kekasihnya. Yaitu memberikan bunga atau coklat. Allah menyatakan kasih-Nya dengan memberikan Tuhan Yesus Kristus bagi kita untuk mati di kayu salib. Di awal renungan dituliskan mengenai seorang yang sedang jatuh cinta dapat dikenali melalui senyuman, energi yang meningkat, dan cara mereka yang ingin terus bercerita mengenai cinta yang baru singgah dalam kehidupan mereka. Aku gak tahu apakah aku sudah pernah betul-betul merasakan jatuh cinta. Tapi membaca itu aku ingin merasakan jatuh cinta. Bukan kepada seorang wanita yang saat ini aku suka. Tapi kepada Tuhan. Aku berpikiran untuk melakukan itu. Dan memang ada sesuatu yang berbeda aku rasakan ketika aku ingin jatuh cinta kepadaNya. Yang selama ini aku seperti loyo tidak bersemangat untuk melakukan apapun, tadi pagi aku mulai bersemangat (lagi). Aku ingin melakukan yang terbaik buat Tuhan. Karena memang itulah yang diinginkan-Nya dari setiap anak-anak Nya.


    Selesai bersaatteduh, aku pun dengan semangat langsung pergi membeli makan pagi di Mang Uba. Makan di beranda lantai dua. Selesai makan, langsung mandi. Berangkat ke kampus bermaksud untuk kuliah sekitar pukul 10:45. Tiba di kampus, di Gedung B lantai 3, aku menunggu. Sewaktu menunggu itulah aku bertemu dengan "saninaku" atau "apparaku"  yaitu Buhman dan juga seorang teman bernama Rinto Damanik. Buhman nanya ke aku dimana sebenarnya aku ngekost. Dan tanpa aku minta dijawab, Rinto lalu menjawabnya dengan mengatakan kalau aku satu kost ama Ben, Timbul, Mofren, dan Hery. Lalu muncullah sesaat pembicaraan mengenai temanku si Ben. "Si Ben itu banyak kali ngomongnya," kata Buhman. "Semuanya mau ditamparinya. Jadi gak senang aku ngeliatnya." "Tapi dia itu punya karakter tersendiri. Gak ngikutin orang lain gitu lo. Pernahlah dia ngomong gini. 'Kutampari pun kau nanti dalam mimpimu'." sambung Rinto. Aku yang memang sudah sering mendengar kata-kata temanku Ben "kutampari kau nanti" hanya bisa tersenyum mendengar komentar mereka itu.


    Ternyata setelah 20 menit lebih menunggu, dosennya tidak datang. Jadi kami yang sudah pada datang ke kelas, membubarkan diri secara teratur. Aku tidak langsung pulang. Aku duduk-duduk dulu di lantai 3, di depan ruangan Lab. Bahasa (Inggris). Di depan lab tersebut ada meja yang terdapat majalah Newsweek dan majalah luar negeri lainnya juga koran The Jakarta Post. Aku memang bukan orang yang ahli dalam berbahasa Inggris. Tapi aku lumayan sering membaca atau sekadar melihat-lihat majalah berbahasa Inggris di perpustakaan kampusku. Jadi, kenapa tidak, pikirku tadi. Aku pun membuka koran The Jakarta Post yang ternyata koran hari Senin tanggal 9 Mei 2005.
    Aku sering membuka koran hanya ingin melihat sekilas apakah ada yang menarik headlines atau judulnya dan terutama apakah ada iklan yang menarik. Dan ada satu iklan yang menurutku cukup menggelitik. Karena isi iklan tersebut terkesan menakut-nakuti. Iklan itu dipasang oleh perusahaan yang menurutku perusahaan terbesar di dunia yang gencar mengkampanyekan "say no to piracy" atau untuk keuntungan mereka juga "use genuine software". Aku sengaja bela-belain menulis iklan tersebut di sebuah kertas yang aku temukan di atas meja tersebut. Isi iklan tersebut adalah sebagai berikut:



Don't let the pirated software kill it slowly.
Pirated software can seriously damage your computer and much worse destroy the precious data in it.
Using genuine software is assurance to greater security, reliablity and peace of mind.



(as seen in The Jakarta Post Monday, May 9, 2005)


Sumpeh, lo? Gini gitu aku juga orang yang masih pake barang bajakan produknya Pak Bill Gates. Sampai sekarang gak ada masalah tuh kalau berhubungan dengan hardware ataupun data. Jadi gak benar kalau pirated software bisa membuat komputerku rusak atau datanya hilang. Gak tahu juga sih dengan produk terbarunya Pak Bill Gates sudah dilengkapi dengan "perusak" jika software tersebut diperbanyak dengan maksud membuatnya jadi original/genuine bajakan. Tapi sampai sekarang sih, dari OS sampai semua software yang ada di dalam komputerku ASLI semua. ASLI BAJAKAN maksudnya.


   I guess that's all for today.

Tuesday, May 10, 2005

11 Mei 2005: That's All HAED

Old City, 11 Mei 2005
7:00am

Dear PLC.4 MIE HAED,

Pagi ini aku bangun sekitar jam 5. Aku terbangun karena HP ku bergetar. Ternyata alarm untuk mengingatkanku hari ini ulang tahun Mamakku. Ya, hari ini memang ulang tahun Mamakku. Ulang tahunnya yang ke-52. Aku lalu bangun setelah beberapa waktu loading operating system kepalaku. Aku ke kamar mandi. Throwing litte water. Terasa cukup bau. Mungkin karena pencernaanku kurang bagus karena kemarin aku hanya makan sekali aja. Aku lalu balik ke kamar. Duduk lagi di atas tempat tidurku. Aku sempat berpikir untuk bersaatteduh. Sudah lama aku tidak pernah lagi saat teduh pagi-pagi sesaat setelah bangun. Tapi tak lama berselang aku meletakkan kembali badanku di atas tempat tidur, berpikir untuk tidur lagi. Bersyukurlah komputerku menyala sendiri sekitar pukul 5 lewat 30. Aku pun bangun lagi dan menyetel speaker dan Winampku. Aku memutar lagu instrumental rohani. Aku berniat untuk berdoa dan bersaatteduh.

Aku lalu duduk di atas tempat tidurku. Mengambil sikap mau berdoa. Dan memang aku seperti susah mau berbicara apa kepada Tuhan yang menciptakan aku dan seluruh alam semesta ini. Satu per satu kata-kata aku ucapkan dalam doaku. Aku bersyukur karena pagi ini bisa bangun pagi dan masih diberikan hidup. Aku bersyukur pagi ini bisa berdoa kepadaNya. Aku juga bersyukur buat umur yang masih ditambahkan Tuhan kepada Mamakku. Dalam doaku aku memohon ampun karena banyaklah dosa yang aku perbuat, termasuk keadaanku sekarang yang jarang kuliah.

Setelah berdoa, aku membaca firman Tuhan dari Alkitab. Aku membaca ayat yang ditentukan di dalam buku renungan Saat Teduh. Yakobus 3:13-18. Berikut ini isi nats Alkitab tersebut:
Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang dari atas, melainkan hikmat dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dengan damai untuk mereka yang mengadakan damai.

That's all HAED.

Friday, April 29, 2005

Suatu Siang, My Sassy Girl, Kacau, Pembela Lain, dan Jatuh Cinta?

Suatu siang, 20 menit setelah pukul 12, di dalam kamarku, di depan komputerku, mengetik tulisan ini. Hari ini hari Jumat tanggal 15 April 2005. Aku saat ini masih berstatus sebagai seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung (STT Telkom). Bicara statusku sebagai mahasiswa, jadi ingat film My Sassy Girl. Gyeun Wo, peran utama cowok dalam film itu, ada memberitahu tentang dirinya. Aku sengaja menonton kembali film itu yang masih ada di harddiskku untuk menuliskan dialognya.

Gyeun Woo: "Kenal aku? Aku mahasiswa biasa. Jurusan mesin. Belajar? Aku pintar tapi tidak pernah belajar. Orangtuaku bisa buktikan itu."

//Then flashback when he was child shown//
His mother: "Kau pintar seperti Ibu tapi masalahmu adalah belajar."
His father: "Karena kau warisi kepintaranmu dari Ayah nilaimu akan bagus-bagus jika belajar lebih giat, Bodoh."

//Then flashback when he was older than the scene before shown//
His mother: "Naik 4 angka dalam 3 tahun."
His father: "Kau sebut ini rapor? Karena kau warisi kepintaranmu dari ibumu nilaimu akan bagus-bagus jika belajar lebih giat."

//Back to reality//
Gyeun Woo: "Jika kau mengasuh anak, jangan pernah bilang mereka pintar. Mereka takkan pernah belajar. Tujuanku? Belum kupikirkan. Kini kau sudah tahu? Benar. Aku mahasiswa payah."

13:40

Cukup lama waktu yang aku butuhkan untuk melanjutkan tulisan ini. Soalnya aku mengingat kalau dulu aku pernah sengaja membeli koran Kompas hari Jumat -yang jumlah halamannya hampir selalu lebih dari 52- karena ada di bagian Muda-nya tentang membuat skrip/skenario sebuah film. Aku pun berhenti menulis ini dan lalu mencari koran itu sambil Windows Media Player-ku tetap memutar film My Sassy Girl cd1.

Aku memang hampir selalu menyimpan dengan rapi setiap koran atau tabloid ataupun majalah yang aku beli. Aku pun memeriksa lemari Excel tempat aku menyimpan korans, tabloids dan majalahsku. Aku membongkar sambil merapikan kembali semuanya berdasarkan urutan tanggalnya dan jenis koran/tabloidnya. Walaupun tersimpan cukup rapi, tetap aja aku harus membongkar semuanya sampai akhirnya baru menemukannya. Kompas yang memuat apa yang aku cari itu ternyata Kompas Jumat, 18 Juni 2004.

Aku memang mencari koran itu untuk mencari tulisan tentang membuat skrip/skenario itu. Aku bermaksud membuat skrip/skenario dari scene yang aku tulis di atas. Memang sih sebenarnya tulisan itu -berjudul GINI NIH, SEBUAH SKRIP DIBUAT- dibuat sebagai tips membuat skrip dari sebuah ide cerita. Tapi kali ini aku ingin mencoba membuat skrip dari scene film yang aku tonton. Berhasil gak ya? Let's see!

01.Int. Kamar - Malam
Pemain: Gyeun-Woo

Gyeun-Woo sedang tidur-tiduran di atas matras. Dia tidur-tiduran seperti sambil sedang berpikir.

(this dialogue as a background, said by Gyeun Woo)
"Kenal aku? Aku mahasiswa biasa. Jurusan mesin. Belajar? Aku pintar tapi tidak pernah belajar."

CUT TO

02.Int. Sebuah ruangan - Siang
Pemain: Ayah Gyeun Woo, Gyeun Woo, dan Ibu Gyeun Woo.

Sebuah kertas hasil ujian yang nilainya 20 dipegang oleh ayah Gyeun Woo.
(this dialogue as a background, said by Gyeun Woo)
"Orangtuaku bisa buktikan itu."

Ketika kertas itu diturunkan terlihat Gyeun Woo kecil, mungkin setingkat SMP nya Indonesia, masih memakai seragam sedang dihukum mengangkat dumbell di kedua tangannya (mirip sedang melakukan dumbell shoulder-press, tapi setelah di atas kepala gak pake turun lagi).

Lalu terlihat Ibu dan Ayah Gyeun Woo duduk di hadapannya menyaksikan dia dihukum lalu memberikan semacam ceramah.

His mother: "Kau pintar seperti Ibu tapi masalahmu adalah belajar."
then his father: "Karena kau warisi kepintaranmu dari Ayah nilaimu akan bagus-bagus jika belajar lebih giat, Bodoh."

CUT TO

03.Int. Sebuah ruangan yang sama dengan scene 02 - Malam
Pemain: Ayah Gyeun Woo, Gyeun Woo, dan Ibu Gyeun Woo.

Sebuah kertas hasil ujian dipegang oleh ayah Gyeun Woo. Tapi kali ini nilainya 24. Ketika kertas itu diturunkan terlihat Gyeun Woo sedang dihukum (lagi?) mengangkat dumbell di kedua tangannya tapi kali ini bebannya lebih berat.

Ibu dan Ayah Gyeun Woo yang duduk di hadapannya menyaksikan dia dihukum lagi-lagi memberikan semacam ceramah.

"Naik 4 angka dalam 3 tahun." said his mother.
"Kau sebut ini rapor?" sambung Bapak-nya sambil memukul-mukul kertas ujiannya itu.

"Karena kau warisi kepintaranmu dari ibumu nilaimu akan bagus-bagus jika belajar lebih giat." sambung Bapaknya lagi.

CUT TO

04.Int. Kamar - Malam
Pemain: Gyeun-Woo

Gyeun-Woo masih sedang tidur-tiduran di atas matras.

"Jika kau mengasuh anak, jangan pernah bilang mereka pintar. Mereka takkan pernah belajar. Tujuanku? Belum kupikirkan. Kini kau sudah tahu? Benar. Aku mahasiswa payah." said Gyeun Woo as background.

.....

Wah, kayaknya gak berhasil..

15:00

Aku ke kamar mandi sebentar untuk menyetor little water. Aku kembali ke kamarku dan mulai mengetik ini lagi sambil ditemani film My Sassy Girl cd2. Awalnya aku memang menulis ini untuk cerita tentang keadaanku sekarang ini. Dan aku mengingat film My Sassy Girl -film yang baru aku tonton liburan semester lalu, tapi sekarang menjadi salah satu favoritku- karena salah satu adegan yang aku tuliskan di atas. Gyeun Woo bilang dia adalah mahasiswa payah. Sama juga dengan aku yang memang mahasiswa, tapi mahasiswa payah. Selain itu aku juga sering dapat pernyataan dari orang, yang menurutku tidak membantuku, kalau aku ini sebenarnya memang pintar tapi sama dengan Gyeun Woo, harus belajar lebih giat. Terus terang aku memang jarang atau bisa dibilang gak pernah belajar. Makanya kuliahku sekarang ini sangat berantakan. Mungkin masih lumayan kalau gak belajar aja, tapi aku parahnya gak pernah datang kuliah untuk 4 dari 6 mata kuliah yang aku ambil semester ini. Dan sekarang dalam masa UTS aku bahkan tidak belajar sama sekali.

Pokoknya saat ini sebenarnya hidupku lagi berantakan semua. Kamarku bak kapal pecah. Semuanya berserakan dimana-mana. Pecahan tangkai mug-ku gak aku bersihkan, aku biarkan aja di lantai kamarku. Meja belajarku -yang fungsinya gak pernah untuk belajar- saat ini dipenuhi oleh barang-barang ini: buku-buku, binder, kamus, Alkitab pertamaku, warta gereja GII, warta PMK, kertas-kertas lainnya yang gak jelas isinya apa (beberapa di antaranya kuitansi berobatku Februari lalu), diktat kuliah mikroprosesor, kalender meja UKkSU, macam-macam brosur, tissue Paseo, uang receh, cotton bud, deodoran Sanex dan Brylcreem, Brylcreem gel rambut, Gatsby WAX, Kiwi Shoe Polish, speaker Philips 2.0, monitor LG 15', mousepad dan mousenya, tempat sendok Nagata yang kujadiin tempat alat-alat tulisku, jam meja yang udah lebih dari seminggu tetap menunjukkan jam 14:42, payungku yang sudah rusak, penghapus whiteboard -untuk organizeboardku-, Berocca yang sudah gak ada isinya lagi, kotak starter-pack nomor XL ku, USB Flash Drive-ku, handphoneku, dan other stuff yang tak bisa terlihat lagi karena semua benda itu berada di atas mejaku yang hanya berukuran 95x65cm. Itu masih yang di atas meja aja. Kalau dilihat ke seluruh ruangan, what a mess I made in my room.

Mess that I made not just in my room, but in my whole life. My college, my relationship with everyone, even with my family and God. Sejak aku punya handphone, aku memang lebih sering ditelepon daripada menelepon orangtuaku

punya banyak kesamaan dengan Gyeun Woo dalam film My Sassy Girl ini. Aku gak pernah belajar....

**********

Suatu malam sekitar jam 19.10 pada tanggal 26 April 2005, masih di dalam kamarku, di depan komputer sambil mendengarkan lagu yang keluar dari Winampku. Aku mencoba menyambung tulisanku di atas setelah istirahat sangat lama menuangkan isi kepala ke Notepad. Baris terakhir di atas aku ketik sekitar jam 16.00 hari itu tanggal 15 April 2005 ketika teman sekosku menginterupsi mengajakku untuk pergi latihan fitness.

Aku gak begitu ingat lagi apa yang ada di dalam kepalaku yang ingin aku tuang dalam tulisan yang gak selesai di atas. Makanya di baris terakhir aja terdapat kalimat yang gak nyambung. Itu ya karena interupsi waktu itu. Tapi aku akan berusaha menyambungnya lagi. Semoga berhasil..

Mess that I made not just in my room, but in my whole life. My college, my relationship with everyone, even with my family and God. Sejak aku punya handphone, aku memang lebih sering ditelepon daripada menelepon orangtuaku dan kakakku. Dan sekarang mess that I made adalah aku mematikan handphoneku -gak ingat sejak kapan, tapi mungkin aja sejak awal April sebelum kakakku ulang tahun dan sampai sekarang aku nyambung tulisan ini lagi-. Aku juga sepertinya juga udah pernah cerita kalo aku gak ngirim SMS atau nelepon kakakku pada hari H nya dia ulang tahun. Bahkan keesokannya aku hanya ngirim SMS yang isinya kayaknya ngasal banget. Kebiasaan kakakku yang seharusnya aku contoh adalah waktu sebelum ujian (baik UTS maupun UAS) dia selalu menelepon ke Medan untuk didoakan. Dan sering memang Mamakku berdoa buat kami waktu kami sedang meneleponnya. Dan apa yang aku buat bukanlah suatu hal yang bisa dipuji, bahkan aku sadar hal ini patut untuk disayangkan. Aku tidak menelepon Mamakku waktu aku mau UTS semester ini. HP ku tidak aku aktifkan juga supaya Mamakku tidak bisa menghubungiku dan menanyakan keadaanku. Kalo ditanya kenapa aku tidak mengaktifkan HP-ku, aku akan menjawab kalau aku memang sengaja menghindar dari Mamakku. Bad, isn't it? Satu hal yang pasti yang akan ditanyakan Mamakku kalau aku menelepon dia atau aku yang ditelepon adalah mengenai kuliahku. Aku memang bukan orang yang gak pernah bohong selama hidupku -tapi menurutku aku orang yang jarang berbohong, atau paling gak suka berbohong, dan memang gak pandai berbohong-. Tapi sayangnya aku sangat sering berbohong kalau ditanya oleh Mamakku mengenai kuliahku -hanya kepada Mamakku dan kakakku aku suka bohong mengenai kuliahku-. Aku akan mengatakan kalau semuanya sedang berjalan dengan lancar, padahal pada kenyataannya tidak. Kenapa sebelum UTS kemarin aku tidak menelepon Mamakku dan sengaja mematikan HPku supaya tidak bisa dihubungi, salah satu alasanku adalah aku gak mau bohong lagi kepada Mamakku. Untuk itulah aku gak mau bicara dengan Mamakku ataupun kakakku. Aku tahu Mamakku pasti bakalan sangat kuatir karena aku tidak bisa dihubungi dan aku tidak ada menghubunginya. Aku memang punya rencana untuk memberitahukan hal yang sebenarnya. Tapi aku gak berani mengatakan yang sebenarnya kalau lewat telepon. Lewat surat? Aku gak tahu bagaimana mengatakannya kalau lewat surat, walaupun sebenarnya aku lebih bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan panjang dan lebar dan lebih jelas kalau lewat tulisan. Mau tahu kekacauan yang aku buat? Mungkin daftar ini masih kurang lengkap:

  • aku gak masuk kuliah untuk 4 dari 6 mata kuliah yang aku ambil
  • aku gak ikut praktikum yang sebenarnya sudah aku masukkan ke dalam daftar SKS yang aku ambil semester ini
  • aku hanya mengikuti 2 ujian UTS dari 6 mata kuliah yang ada UTS-nya
  • tugas mata kuliah Studium Generale yang sebenarnya tugas kelompok sampai sekarang belum aku kumpul karena aku sendiri gak punya kelompok

Aku gak tahu bagaimana kekacauan yang aku buat ini akan berakhir. Tapi aku mungkin saja sedang menuju sebuah kehancuran yang akibatnya lebih parah kalau saja kekacauan yang aku buat tahun lalu tidak berakhir dengan aku masih bisa melanjutkan kuliahku di sekolahku sekarang ini. Kacau deh pokoknya... But we'll see at the end of this semester, apakah aku akan diminta mengundurkan diri sajalah oleh sekolahku, atau masih diizinkan gak ya aku kuliah di sini.

// Gak gitu ngerti apa ide aku membuat kalimat ini, tapi sepertinya masih bisa disambung dengan yang aku tulis pada 15 April lalu // punya banyak kesamaan dengan Gyeun Woo dalam film My Sassy Girl ini. Aku gak pernah belajar....

This the sentence gonna be: Aku punya banyak kesamaan dengan Gyeun Woo dalam film My Sassy Girl ini. Aku gak pernah belajar. Mungkin kata gak pernah belajar terlalu berlebihan. Tapi sepertinya kata sangat jarang sekali belajar lebih cocok buatku. Bahkan sebelum ujian, ntah itu UTS maupun UAS, aku gak pernah belajar seperti orang yang mau ujian. Makanya hasil kuliahku selama ini yah cuma bisa nanokom (worse than nasakom of course). Mata kuliah yang bisa dapat A sampai sekarang hanyalah 3 MK (tapi 2 MK aja yang ada kuliah, UTS dan UAS nya), yaitu: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris (MK Semester I), dan Geladi (sejenis PKL tapi di STT Telkom selevel dibawahnya, MK semester IV). Sisanya hanya sedikit nilai B, beberapa nilai C, banyak D, dan sangat banyak E. Aku pikir bukanlah satu hal yang bisa dibanggakan, bahkan sebenarnya memalukan sekali bukan? Hal terakhir yang cukup membuatku hang adalah keluarnya nilai mata kuliah Teknik Digital yang aku harapkan tidak ngikut yang lain, tapi ternyata sama aja akhirnya aku mendapat nilai E.

Enough bout the mess.. Aku akan coba mengingat kembali apa aja yang terjadi sejak terakhir aku mengetik nih tulisan yang filenya kuberi nama sassy.txt.

15 April 2005
16:00 teman sekosku -Timbul Baratha Silalahi- mengajakku pergi fitness, akupun menghentikan tulisanku di atas. Kami berangkat bertiga. Aku, Timbul, dan Ben. Di fitness center tempat kami biasa latihan, kami bertemu seorang anak kecil yang diajak oleh ibunya. Mungkin masih berumur 2-3 tahun. Dia sepertinya berusaha mencari perhatian kami. Waktu ditanya namanya siapa dianya malah lari. Tapi tak berapa lama dia kembali lagi ke tempat kami sedang latihan. Masih berusaha mencari perhatian dengan gayanya yang centil dan mentel. Dan akhirnya dia memberitahu namanya waktu aku jongkok di hadapannya.
"Namanya siapa?" tanyaku dengan nada mungkin rada-rada centil.
"Dila," jawabnya. Aku gak gitu pasti namanya siapa, soalnya temanku -yang sama-sama berada dekat dengan dia waktu dia akhirnya memberitahu namanya- bilang namanya Bila. Tapi yang membuatku senang saat itu dia buka mulut setelah aku yang tanya. Padahal aku sebenarnya orang yang gak gitu suka dengan anak-anak. Mungkin karena aku gak punya adik kali ya dan mungkin juga karena aku memang gak pernah dekat dengan anak kecil. Setelah dia memberitahu namanya, akhirnya pertanyaan lainnya yang kami tanyakan ke dia mulai langsung dijawabnya. Dia bermain-main di sekitar kami, melompat-lompat, berlari ke ibunya lalu balik lagi ke tempat kami, dan juga menyanyi. Bahkan dia mengangkat dumbell 1 kg dan melakukan gerakan yang biasanya memang dilakukan untuk melatih otot bisep.

16 April 2005
17:30 aku keluar dari kost-kostanku dengan tujuan awal membeli makan. Tapi setelah dekat dengan tempat membeli makanan, aku berubah pikiran karena aku seperti gak punya semangat untuk makan. AKhirnya aku pergi ke ATM di kampus bermaksud untuk mengambil uang. Karena uangnya pecahan 50 ribuan niatnya sih setelah ngambil uang aku bakalan ke warnet untuk ngenet sebentar dan uangnya pecah deh jadi pecahan lebih kecil. Tapi betapa tidak terkejutnya aku ketika aku sudah masuk ke ruangan mesin ATM itu berada dan melihat Kartu Mandiriku ternyata tidak ada lagi di tempat aku biasa menaruhnya di dalam dompetku. Aku hanya bengong beberapa detik. Mencoba mengingat-ingat kembali bagaimana terakhir kali aku mengambil uang dari ATM itu. Dan ingatanku mengatakan sepertinya Kartu Mandiriku itu terjatuh di jalan antara ATM itu ke tempat jualan koran. Aku pun berjalan pulang dengan perasaan tidak percaya kalau kartu ATM-ku hilang. Aku balik ke kosanku. Di kamarku aku mencoba mencari, dan memang tidak aku temukan. Karena seingatku aku gak pernah atau jarang ngeluarin kartu ATM di kamar. Soalnya kan di kamarku gak ada mesin ATM. Aku pun dengan perasaan cukup takut juga kalau uang yang ada di tabunganku terkuras abis berusaha mencocokkan saldo tabungan terakhirku yang slip pengambilan terakhirnya masih ada di dompetku dengan menggunakan menu m_Mandiri di LifeInHand menu SIM ku. Akhirnya aku mendapat SMS balasan. Hasilnya cocok. Masih sama. Syukurlah pikirku saat itu. Tapi tindakan berikutnya yang aku ambil adalah menelepon Call Mandiri. Block the card. Karena aku gak punya uang lagi untuk menelepon dari wartel, akhirnya aku menelepon dari HP-ku. "...Kartu Anda sudah diblokir hari ini 16 April 2005 pukul 18 lewat 20 menit..." That's the customer service told me in the call I made. Call duration 03:45. That was shown in my HP after the call ended. Aku periksa pulsaku. Call Unitnya bersisa 13,9. The call cost 8 call unit. Sialan pikirku saat itu. Gara-gara kartu ATM ku hilang tambah deh pengeluaranku yang tak perlu.

17 April 2005
Aku gak gitu ingat aku bangun sekitar jam berapa, tapi akhirnya aku memutuskan untuk bersama dengan temanku sekosku yang lain bergereja di GKP aja. GKP adalah singkatan dari Gereja Kristen Pasundan. Memang lumayan banyak juga sih mahasiswa yang gereja ke situ. Tapi umumnya mereka sering datang ke situ pada masa ujian. Gak ngerti alasannya kenapa, tapi seperti udah menjadi kebiasaan aja. Jam tanganku sudah menunjukkan 08:45. Aku baru aja siap berpakaian. Dan aku tahu kami pasti bakalan terlambat. Padahal gereja itu letaknya cukup jauh juga kalau jalan kaki. Waktu sudah menunjukkan jam 9 kurang 5 menit dan kami belum berangkat juga. Masih ada teman kami baru aja siap mandi. Tapi akhirnya kami meninggalkannya dan berangkat duluan. Singkat cerita kami akhirnya tiba di gereja itu sekitar jam 9 lewat 10. Dan aku yang baru pertama kali datang lagi ke gereja itu sejak sekitar Oktober 2003 dari jauh uda yakin aja kalau gereja itu penuh. Dan memang penuh. Aku akhirnya duduk di tempat duduk barisan paling belakang gereja itu, tapi cenderung untuk berada di luar gereja. Aku yang biasanya gereja di GII Dago sempat berpikir untuk cabut aja dan berangkat langsung untuk mengikuti kebaktian di GII yang jam 11. Tapi aku akhirnya mengurungkan niatku. Aku duduk aja. Tidak mendengar dengan jelas apapun yang terjadi di dalam gereja. Khotbahnya aku bahkan tidak tahu ayatnya diambil dari mana. Yang membuatku seperti mengikuti ibadah hari itu hanyalah aku masih bisa menyanyikan beberapa lagu dengan baik dan cukup benar. Sepanjang ibadah pun akhirnya pikiranku melayang.

Aku jadi ingat pertama kali diajak gereja ke gereja itu oleh teman-teman sekosku yang lama. Mereka bilang dengan agak bercanda kalau gereja itu adalah gereja murah. Karena selain tidak memakan ongkos kalau mau gereja -jaraknya gak nyampe 1 km dari kostanku dulu-, mereka juga sepertinya menganggap kalau persembahan yang diberikan juga gak perlu berjumlah besar seperti kalau bergereja di GII. Kolektenya bisa nyicil, canda mereka. Memang sih gak ada patokan dalam memberi persembahan kalau gerejanya "besar" persembahannya juga harus besar dan sebaliknya. Tapi mungkin ada sebagian orang yang sepertinya melakukan itu. Dan pertama kali aku masuk gereja itu di tahun 2002, gereja itu masih sempit. Gedungnya sedang diperlebar. Bangku tempat jemaat duduk juga sepertinya tidak bagus. Keadaannya bisa disamakan dengan gereja di kampung-kampung.

Selain itu aku juga jadi berpikir tentang bagaimana dulu waktu aku masih sering ke sana. Di warta diberitahukan supaya jemaat berdoa supaya pembangunan gereja saat itu bisa tetap berlangsung. Saat itu cerita yang aku tahu masyarakat sekitar tidak setuju dengan adanya gereja itu. Bahkan saat itu jemaat ada yang harus berjaga-jaga (seperti beronda) dalam gereja itu setiap malam supaya gereja itu tidak diganggu. Tapi akhirnya gereja itu selesai juga pembangunannya. Pelebaran, lantainya lantai keramik, dan sebagainya. Tapi tetap aja masih ada yang kurang. Gereja itu kapasitasnya mungkin hanya bisa menampung jemaat sekitar 75-100 orang. Itupun mungkin sudah sesak. Dan kalau tiba-tiba jemaat yang datang lebih dari jumlah itu dan tidak ada acara khusus, maka jemaat yang datang harus bingung dulu mau duduk di mana. Aku pun berpikir bagaimana caranya supaya gereja itu dapat menampung lebih banyak jemaat. Dari segi lebar, gereja itu masih kurang lebar. Panjangnya juga kurang. Luas gereja itu mungkin hanya 10x8 meter. Tapi akhirnya aku mikir lagi. Bagaimana mungkin? Sedangkan pembangunan yang dilaksanakan untuk memperbaiki saat itu aja udah dilarang, apalagi sekarang.

Hal yang cukup ironis menurutku kalau dibandingkan dengan keadaan gereja yang dalam satu setengah tahun terakhir ini aku berkebaktian. Letaknya di daerah Dago. Sekali kebaktian dapat menampung jemaat kayaknya lebih dari 400 jemaat. Gereja ini mengadakan kebaktian sebanyak 6 kali setiap hari Minggu-nya. Aku sudah pernah mengikuti 4 dari 6 waktu kebaktian di gereja ini. Dan keempat waktu yang aku ikuti itu mungkin yang gak begitu penuh hanya yang kebaktian jam 7.30 pagi. Dan sekarang gereja itu sedang dalam rencana pembangunan gedung baru.

Pada suatu kebaktian yang aku ikuti di awal tahun ini, seorang panita pembangunan yang juga turut serta saat pertama kali gereja ini menjadi GII bercerita di mimbar. Sekitar tahun 1994 pengunjung gereja -nama gereja itu bukan GII- semakin berkurang. Mereka pun berniat menjual gereja itu. Dan akhirnya tanah itu dijual kepada seorang pengusaha yang akan membangun di tanah itu sebuah McDonald. Dan akhirnya pihak GII berusaha untuk membeli gereja itu supaya tempat itu tetap menjadi gereja. Tapi mereka harus membayar 2 juta US dollar untuk mendapatkan gereja itu. Singkat cerita, dengan campur tangan Tuhan tentunya, gereja itu dapat dibeli dengan uang 2 juta US dollar yang harus mereka kumpulkan kurang dari 2 minggu. Dulu gereja itu seperti tidak ada jemaat lagi makanya pengelola gereja sebelumnya menjual gereja itu. Tapi sekarang gereja itu menampung lebih dari 2000 jemaat setiap Minggunya. Bahkan ada kebaktian yang jemaatnya hanya berkebaktian dengan menonton layar di sebuah ruangan karena tidak muat lagi di dalam gereja. Dengan dasar itulah mereka berencana untuk membangung sebuah gereja yang bisa menampung kalau tidak salah 1500 jemaat sekali kebaktian. Dan direncakan gereja itu selesai sebelum Natal tahun ini dan sudah bisa dipakai untuk kebaktian Natal bersama -yang sebelumnya setiap tahun dilaksanakan di Sabuga ITB-. Bapak itu bercerita tentang awalnya GII Dago itu kepada jemaat sekalian untuk mengajak jemaat yang hadir untuk membantu dalam dana untuk pembangunan gereja itu. Dan dana yang dibutuhkan sekitar 2 juta US dollar juga kalo dikonversikan ke dollar. Dana yang sudah terkumpul -yang terakhir kali kudengar- sekitar 8 M. Dan masih dibutuhkan sebanyak sekitar 8 M lagi. Dan aku yakin, dengan tangan Tuhan yang penuh kuasa, uang yang dibutuhkan itu pasti bisa terkumpul -seperti yang Dia pernah lakukan saat gereja itu dibeli-. Walaupun begitu, tetap aja membuatku rada mikir. Di saat sebuah gereja sepertinya sudah mentok pembangunannya, sebuah gereja akan dibangun dengan biaya cukup besar untuk masa sekarang ini. Di saat sebuah gereja dapat menampung jemaat sebanyak 100 aja udah sesak, sebuah gereja yang bisa menampung lebih dari 400 akan diperbesar daya tampungnya menjadi sekitar 1500 jemaat sekali kebaktian.

Selain gedungnya, jemaatnya juga cukup memiliki karakater berbeda. Di GKP jemaatnya hampir sama dengan jemaat gereja suku kebanyakan, antara satu jemaat dengan jemaat yang lain lebih dari 75% saling mengenal. Di GII merupakan kebalikannya, bahkan sebenarnya jemaat yang datang ke GII bukanlah jemaat yang terdaftar di gereja itu. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang kuliah di Bandung. Saat di GII duduk paling depan bukanlah suatu masalah, di GKP sepertinya jemaatnya agak malas duduk paling depan. Tapi kalau soal terlambat, sepertinya hampir sama aja. Di GII ada juga orang yang terlambat datang, di GKP juga. Bedanya kalau di GII yang sudah terlambat banget dapat duduk di belakang, jadinya tidak begitu mengganggu. Kalau di GKP, yang terlambat banget datangnya berpotensi untuk mengganggu jalannya ibadah.Tapi apa yang aku pikirkan saat itu, aku bersyukur kepada Tuhan karena aku bisa melihat kedua hal itu terjadi. Dan dari kedua hal itu tidak ada yang Tuhan tidak ketahui.

Setelah kebaktian selesai, aku menunggu temanku. Waktu melihat jemaat yang keluar, ternyata banyak temanku yang biasanya gereja di GII malah gereja di GKP. Tapi biasanya mereka memang datang ke GKP pas ujian aja. Itulah satu hal yang aku sayangkan dari mereka. Aku memang punya niat salah juga waktu memutuskan untuk bergereja ke GKP aja, yaitu untuk menghemat. Tapi karena waktu mengikuti ibadah aku seperti tidak beribadah, aku memutuskan untuk berangkat ke GII sorenya. Setelah teman sekosku keluar, kami pun pulang.

16:00
Aku mandi lagi. Berpakaian. Lalu berangkat ke GII Dago. Gereja di GII Dago bukan cara untuk berhemat karena untuk sampai ke sana perlu naik 3 kali angkot. Ongkos yang habis untuk pulang pergi, umumnya tidak pernah kurang dari 6000 -untuk aku kadang ada pengecualian-.
17:15
Tiba di GII Dago. Jemaat yang berkebaktian pukul 16.00 -kebaktian berbahasa Mandarin- baru keluar. Yang mau masuk sudah menunggu di luar. Bermacam orang ada di sana. Tapi umumnya adalah mahasiswa. Ada beberapa hal yang menggangguku saat melihat jemaat yang masuk. Kebanyakan dari mereka gaya dan dandanannya seperti bukan mau ke gereja. Males deskripsikan gimana aja orangnya.
17:30
Kebaktian dimulai. Paduan suara masuk. Dan mataku tiba-tiba terjerat pada wajah seorang anggota paduan suara. Setelah cewek yang selama ini aku suka out of my life, aku memang seperti punya janji tak tertulis yang aku katakan kepada diriku untuk tidak naksir/suka seorang cewek pun sampai jangka waktu yang tidak ditentukan. Siapa yang mengira kalau jangka waktu itu berakhir pada waktu aku bergereja saat itu. Cewek itu berambut panjang. Gak tahu deh tinggi sebenarnya karena dia memakai jubah, jadi gak tahu deh dia itu pakai sepatu tinggi apa ndak. Tapi cukup tinggi deh kayaknya. Selain itu, menurutku wajahnya memang cukup manis dan cukup cantik.

**********

Tulisan di atas terakhir aku ketik beberapa menit selepas pukul 00 tanggal 27 April 2005. Lalu tulisan ini akhirnya aku sambung lagi sekitar jam 15:45 hari Jumat tanggal 29 April 2005 sambil mendengarkan lagu Paduan Suara GII pada tanggal 17 April lalu di Winamp-ku. Lagu itu aku dapatkan dari file rekaman yang aku ambil selama ibadah hari itu memakai voice recorder yang ada di USB Flash Drive-ku.

Sambung lagi tentang cewek yang hari itu aku lihat. Selama ini cewek yang aku suka memang kebanyakan adalah cewek yang lebih tua dariku. Gak tahu deh apa karena waktu kecil dulu aja aku sukanya ama cewek anggota pemuda gerejaku, yang jelas jauh lebih tua dariku. Nggak ngerti kenapa aku jarang tertarik ama cewek seangkatanku atau yang lebih muda dariku. Tapi mungkin dengan cewek ini aku hanya sebatas suka aja kali. Apalagi aku juga gak kenal tuh cewek siapa namanya, dimana kuliahnya, berapa umurnya, atau mungkin aja tuh cewek uda punya pasangan. Kenapa aku suka tuh cewek kayaknya udah sempat aku tulis juga sebagian di atas. Tapi mungkin gak apa-apa kali aku tulis lagi di sini. Dia tuh cantik dan manis (menurutku lho, orang bilang kan cantik itu relatif), sepertinya dia cewek pertama yang rambutnya agak keriting/berombak yang aku suka, terus dia tuh anak paduan suara yang bisa digolongkan anak baik-baik, terus suaranya kayaknya bagus lho. Menurutku suaranya bagus karena waktu paduan suara bernyanyi sebelum khotbah, di beberapa line terakhir dia dan seorang teman sebelahnya sepertinya disengaja untuk menyanyikan lagu itu dengan nada yang lebih tinggi. Gak mungkin dong yang suaranya biasa aja disuruh untuk itu, iya gak?

Btw, dibawah ini adalah teks lagu yang paduan suara GII nyanyikan waktu itu sebelum khotbah. Lagu ini adalah medley 2 lagu. Gak tahu sih judulnya apa. Tapi tuh cewek nyanyi dengan nada yang lebih tinggi mulai dari line bertanda *. Dan pada tanda **, itu adalah kata yang aku tidak begitu yakin memang itu. FYI, lagu ini aku ketik dengan mendengar rekaman kebaktian 17 April lalu.

Namun ini yang aku percaya
Bahwa Dia dapat memelihara
Apa yang t'lah kuserahkan waktu aku percaya
Ku tak mengerti anugerah Tuhan yang diperbuatNya bagiku
Sebab layak ku terima kasih Kristus
Tebusku jadi milikNya
Namun ini yang aku percaya
Bahwa Dia dapat memelihara
Apa yang t'lah kuserahkan waktu aku percaya

Imanku t'lah mendapatkan sandaran yang teguh
Kupercaya Dia yang hidup akan membelaku
Firman Tuhan lah sandaran hatiku yang lemah
Keselamatan hanya dalam darah Penebusku
Ku tak perlu pembela lain
Ku tak perlu jalan lain
Cukuplah Yesus yang mati bagi dosaku
Ku tak perlu pembela lain
Ku tak perlu jalan lain
Cukuplah Yesus yang mati bagi dosaku
Sandaranku tidaklah lain
Hanya Dia lah domba Allah
Ku tak percaya iman lain
Nama Yesus sandaranku
Di atas Kristus karang teguh ku berdiri tak goyah
Nama lain guntur rebah
*Kelak Dia datang kembali
dengan nafiri ku memuji
Ku bernyanyi** di altarnya berjubahkan kebenaran
Di atas Kristus karang teguh ku berdiri tak goyah
Nama lain guntur rebah
Kristus sandaranku karang teguh

Bicara mengenai cewek sepertinya sudah bukan rahasia kalau cowok biasanya suka cewek yang cantik atau manis dilihat dari luar. Aku aja selama ini kayaknya belum pernah suka cewek yang biasa aja tampilan luarnya. Hampir semua cewek yang aku suka ternyata banyak orang lain juga yang suka. Tapi tentunya aku hanya bisa menjadi secret admirer mereka. Dari semua cewek yang aku pernah suka, baru satu orang aja yang tahu dari aku sendiri kalau aku suka ama dia. Dan setelah itu aku sepertinya tanpa perjanjian tertulis berusaha hanya menyukai orang yang gak mungkin aku dapatkan. Nah lho?

I guess I have to end the story bout the girl. Hari Minggu kemarin tanggal 24 April 2005 aku gereja jam 17.30 lagi di GII. Bukan sengaja mau lihat tuh cewek lho. Aku murni pergi ke gereja ya dengan tujuan untuk beribadah. Tapi wajahku seperti berseri-seri waktu ngeliat dia ada lagi di antara anggota paduan suara. Tapi mungkin aku termasuk cowok kurang ajar yang tanggung. Soalnya waktu kebaktian aku sering banget ngeliatin dia. Bahkan sepertinya dia tahu kalau aku ngeliatin dia (perasaanku aja sih yang mengatakan kalau dia tahu). Soalnya di Minggu 17 April aja aku udah ngeliatin dia mulu. Bahkan tempat dudukku Minggu 24 April kurang lebih sama dengan Minggu sebelumnya. Tapi bisa dibilang nanggung kurang ajarnya karena waktu dia seperti melihat ke aku (mungkin masih hanya perasaanku juga) aku gak berani eye contact. Aku langsung mengalihkan pandanganku. Payah, dari dulu aku memang gak berani kalau harus eye contact ama cewek, apalagi ama cewek yang lagi aku suka. Aku ada baca di Reader's Digest edisi Mei 2005 berjudul "Berapa Lama Anda Akan Hidup?" kalau orang yang sedang jatuh cinta itu mendapatkan tambahan umur 7 tahun. Jadi ya senang aja deh aku sekarang kalau aku sedang jatuh cinta walaupun dengan orang yang gak akan mungkin aku dapatkan (memangnya uang, bisa didapat?). Jatuh cinta? Masih diragukan apakah aku bisa jatuh cinta. Dan kalaupun bisa, apakah boleh?

I'm not sure where the story goes. But I guess I have to end the whole writting. Padahal sebenarnya masih banyak kejadian yang bisa diceritakan yang terjadi setelah tanggal 17 April yang lalu. Mungkin sebaiknya aku buat di lain waktu aja kali ya..

Wednesday, April 13, 2005

I Had A Dream Last Night

à ma place la nuit, 12 avril 2005

Last night, aku mimpi. Aku memang jarang mempermasalahkan mimpiku. Tapi kali ini aku mimpi sepertinya bisa dibilang berbeda dengan keadaan aku mimpi seperti biasanya. Saat ini aku sedang error. Hard to describe it, but right now i feel that there's no good in me. Jam tidurku berubah dimulai tanggal 9 April lalu. Aku gak pernah tidur kurang dari jam 12, bahkan hampir selalu lebih dari jam 2. Tapi kemarin sepertinya berbeda. Kalo ingatanku gak salah (maklum, ingatanku sepertinya error juga saat ini) aku tidur sekitar jam 12 lewat, tapi kalaupun salah tidaklah seperti biasanya lewat dari jam 2.

Karena aku bukanlah orang yang mahir menceritakan ulang sesuatu yang aku lihat ataupun aku alami, makanya di sini juga pemaparan mimpiku semalam juga bakalan gak seseru yang aku lihat di mimpiku.

Hal pertama yang ada dalam mimpiku adalah aku melihat Bapakku dan Mamakku. For the record, Bapakku died on June 26th 1999. Setelah kematiannya, aku memang pernah mimpiin dia. But most of the scene in my dream show that he was just there, but not talk anything at all. Karena ingatanku payah mengenai mimpi, aku gak gitu ingat apa kemarin dalam mimpiku dia ada ngomong apa ndak. Tapi Mamakku juga ada di dalam mimpiku. Aku bermimpi kami sedang di acara nikahnya paribanku (yang kemarin waktu aku mau pulang dari Medan menikah). Mamakku juga sebenarnya jarang masuk mimpiku, makanya aku bilang mimpiku kali ini berbeda.

Mimpiku tidak hanya itu aja. Yang aku ingat cuma ada tiga scene. Scene 1, yang di atas.
Scene 2, aku datang ke (mungkin) KFC. Di sana aku ketemu ama temanku yang aku juga sudah lupa siapa. Tapi di dalam mimpiku itu diceritakan kalau mereka makan di situ dibayarin ama teman sekosku yang namanya Desu. Bahkan sepertinya semua yang di tempat makan itu akan dibayari ama Desu. Maklum, di mimpi ini diceritakan kalau dia membayar milyaran rupiah.
Scene 3, masih di tempat yang sama. Tapi yang aneh di sini ada anak perempuan tetangga kami. Dia bekerja sebagai salah satu karyawan tempat itu. Karena tahu dibayarin, di mimpi itu aku minta untuk dibungkusin aja. Nah, anak tetangga kami ini deh yang ngebungkusin. Anehnya ntah apapun yang ada dalam bungkusan itu dia bilang harga semuanya 50rb. Dan selain scene itu masih ada scenes lain sih. Tapi itu dia, aku gak ingat.

Aku ingat tadi pagi aku ada bangun sekitar jam 7. Tapi tidur lagi. Hebatnya mimpiku yang sebelum bangun ternyata bersambung lagi lho beberapa saat aku tertidur lagi. Demikianlah seterusnya aku bangun lalu tidur lagi sampai aku akhirnya baru bangun (benar-benar bangun) sekitar jam 12. Jadi, kalau benar kemarin aku tidurnya hanya beberapa menit selepas dari jam 12, berarti aku udah tidur sekitar 11 jam lebih.

Tapi bicara mengenai mimpi, aku memang gak gitu permasalahin apakah itu ada artinya apa ndak. Soalnya aku memang sering mimpi yang aneh dan bahkan sepertinya apa yang ada dalam mimpiku itu ada juga yang benar-benar terjadi. Waktu SMP aku pernah mimpi lho kalau Bapakku meninggal. Dan ternyata Bapakku meninggal waktu aku baru tamat SMP. Aku gak ngerti apa artinya kalau mimpi digigit ama ular. Tapi aku juga pernah mimpi lho digigit ama ular. Dan setelah itu aku memang pernah digigit ama ular, walaupun hanya ular sawah. Terus waktu aku semester 2, aku bahkan mimpi kalau aku meninggal. Nah lho?

Apa yang ada dalam mimpi kemungkinan juga memang gak akan terjadi. Salah satunya ya kalau dalam mimpiku Bapakku ada bersama-sama kami. Ini tulisan udah selesai belum ya?

Sunday, March 27, 2005

Graduation

Hari ini aku bangun masih dengan perasaan tidak menentu. Malamnya aku memang baru tidur setelah menonton acara di TV Bincang Bintang di RCTI dan Midnight Live di Metro TV. They talked about sex dan kalo yang di Metro tentang penyimpangannya. Hebatnya acara itu ditayangkan live dan narasumber acara itu, Dr. Boyke, tampil di kedua acara itu dengan jam tayang yang sangat berdekatan. Aku bangun dengan perasaan tidak menentu bukannya karena menonton acara itu, tapi karena memang banyak hal dalam pikiranku yang mengganggu, esp mengenai masa depanku, I mean kuliahku di STT ini. Kesalahan yang aku lakukan hari ini sudah diawali dengan aku tidak berdoa dan saat teduh. Dalam hari ini perasaan yang aku rasakan memang bercampur, senang, galau, cemas, tidak senang. Tapi kalaupun senang, perasaan itu tetap tidak mendamaikan jiwaku. Karena apa? Aku tidak menyertakan Tuhan dalam setiap hal itu.

Let's begin the story about wisuda. Hari ini hari yang berbahagia buat mahasiswa STT terlebih buat yang sudah menyelesaikan semua mata kuliahnya dan juga TA nya. Aku sebenarnya sudah pernah diajak temanku Roy untuk datang ke acara wisudaan itu untuk ngebantuin mereka bagiin sesuatu untuk anak PMK yang wisuda hari ini. Aku juga sudah mengiyakan, tapi karena hari ini kuawali dengan perasaan tidak menentu aku memutuskan untuk tidak usah pergi.

Di saat perasaanku yang tak menentu itulah juga datang sebuah SMS dari Hera yang dikirim oleh Roy. Isinya: Von..U dtg kdpn rektorat dong.Bantuin kt dong-roy- Aku nerima SMS itu jam 11 lewat. Tapi saat itu aku masih belum mandi, kebiasaan. Aku lalu mandi, berpakaian dan tak lama kemudian aku sudah nyampe di kerumunan orang banyak di sekitar gedung GSG. Aku ke depan rektorat. Lihat sana, lihat sini, eh gak ada. Ternyata mereka -Roy, Timbul, Addrib, Medy- uda duduk di depan GSG. I join with them. Dan mereka -Sie Alumni/Pra Alumni- ternyata mau bagiin bunga dan sebuah CD untuk wisudawan-wisudawati khusus yang anak PMK nya aja -kayaknya atas nama PMK-. Dan dari list yang mereka punya ada 38 orang. Dan di antara 38 orang itu mereka gak begitu kenal semua. Itulah sebabnya aku disuruh datang karena memang waktu aku janji ke Roy mau bantuin mereka, aku bilang ke dia kalau aku lumayan banyak juga kenal orang-orang yang ada dalam list itu. Sekalian juga sih mereka bantuin nyariin orangnya di antara ratusan wisudawan lainnya.

Aku gak perhatiin jam tangan yang kupakai, tapi akhirnya pintu depan GSG dibuka. Orang-orang yang udah nunggu di luar akhirnya masuk dan orang yang udah lama duduk di dalam juga pada keluar. Mulai deh kami memperhatikan satu persatu wajah-wajah orang yang lewat di dekat pintu depan. Setelah barisan orang yang keluar beramai-ramai habis, ternyata hanya beberapa orang aja yang ada di dalam list itu yang keluar. Yang aku dan Roy ketemu orangnya dan ngasiin mereka bunga dan CD hanya 3 orang: Bang Fritz Saragih, Bang Jimmy Parade Sitorus, dan Bang Herman Panjaitan. Addrib dan Medy lumayan juga sih yang mereka ketemu orangnya. Yang aku kenal orangnya mereka kasiin tuh bunga&CD: K' Desy Mariana Hutajulu, Bang Roy & Bang Joe anak BEMERS, ama Bang Alfonsus anak Baywatch. Karena udah gak ada lagi yang pada keluar, akhirnya kami masuk. Ketemu deh ama Kak Septy. Ketemu deh lagi ama Bang Ernest. Lihat sana, lihat sini, eh aku ngeliat Kak Yuli di depan. Aku bilang ke Addrib ama Medy. Eh, ternyata mereka gak ngeliat. Tapi mereka jalan aja ke tempat yang aku tunjuk yaitu arah dekat podium. Tiba di depan dekat tempat paduan suara, ternyata ketemu ama Bang Amping. Aku nyalamin Kak Yuli sambil ngucapin selamat karena ternyata Addrib dan Medy tiba di depan malah ngasih bunga dan CDnya ke Bang Amping, aku deh yang ngasih bunganya ke Kak Yuli dengan bunga yang ada di tanganku. Tapi masalahnya CDnya gak ada lagi di antara kami bertiga. Roy ternyata sudah gak stick together lagi. Jadi deh aku harus nyari si Roy lagi. But finally one by one orang yang di list itu terlihat masih di dalam GSG dan hampir semua aku ikut nyalam mereka. Jadi akhirnya mereka dapetan satu tangkai bungadan sebuah CD.

One moment masih di antara happy moment for my brothers and sisters here in PMK STT Telkom, aku duduk di salah satu kursi. Staring to the front. SIDANG SENAT TERBUKA bla bla bla BANDUNG, 26 MARET 2005. Aku membaca isi tulisan yang ada di depan. Kapan? Mungkinkah? Aku tertunduk. Gak tau apa yang aku rasakan saat itu. Tapi ampe sekarang masih kepikiran.

Anyway, memang pada akhirnya gak semua yang ada di list itu orangnya dapat. Kayaknya ada sekitar 5 orang yang gak dapat orangnya. Tapi some of them yang ada di list itu ternyata mereka gak tahu yang mana orangnya, dan itulah (mungkin) gunanya aku ada di sana. Nunjukin orang (yang mana orangnya atau posisinya saat itu di mana) yang masih mereka belum kasi setangkai bunga dan sebuah CD itu. Salah satunya yang mereka gak kenal ternyata adalah Kak Prisilia Fransiska '99 atau Kak Lia. Nih orang aku kenal karena teman sekosnya saudara PA-ku, Wiwi. Juga teman seangkatannya kakak PA-ku, Bang Joti. Pernah dulu waktu kami PA di kamar Wiwi kakak ini datang ke tempat Wiwi, bercanda ama Wiwi ama Bang Joti. Yah kenalnya gitu-gitu aja sih.

Berikut nama-nama orang wisuda yang aku salam tadi (in order of appearance and or shaking hands):
-Bang Fritz
-Bang Jimmy
-Bang Herman
-Bang Alfonsus
-Bang Joe
-Bang Cepix
-Kak Septy
-Bang Ernest
-Kak Yuli
-Kak Relima
-Bang Adi
-Bang Zefanya
-Bang Luther
-Bang Immanuel
-Bang Olin
-Bang Amping
-Kak Lia
-Bang Anugrah

Sebelum pulang, aku perhatiin di kursinya ternyata ada ditempelin nama wisudawannya. Aku ambil satu (kok mesti banget gitu lho), sebagai kenang-kenangan. Kenang-kenangan buat hari ini, dan kenang-kenangan atas orang yang namanya tertera di label itu. Ayo, siapa coba? Ha..ha..ha.. Yang tahu cuma aku dan seorang temanku. Mungkin kamu juga bakalan tahu kalau ntar aku ceritain di sini.

anyway, Selamat ya atas wisudanya, Bangs dan Kaks! (kayak mereka bakal baca ini aja)

written on March 26th, 2005 about 9pm

Wednesday, March 9, 2005

Sepi

Entah kenapa aku ngerasa kesepian, padahal temanku yang ada di sekitarku gak sedikit. Tapi belakangan ini terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan. Same old brand new mistakes. Walaupun aku senang, pasti itu untuk beberapa saat aja. Dalam beberapa waktu ini aku udah berusaha untuk gak ngSMS siapapun di kala aku sedang punya masalah (most of the problem is aku masalahin yang gak perlu dipermasalahkan). Kalo dulu aku ngirim SMS ke beberapa teman sampai agak bosan, sekarang tak seorangpun yang menerima SMS dariku. Aku tahu teman-teman di sekitarku sebenarnya memperhatikanku. Tapi....

Kuliahku masalah yang sebenarnya harus aku perhatikan. Tapi aku dalam 3 minggu ini baru 2 kali masuk kuliah. Mungkin kalau aku cerita ini ke orangtuaku sama saja dengan membunuhnya. Aku sebenarnya harus berusaha lebih untuk belajar di sini, tapi ntah kenapa aku seperti jadi orang paling bodoh di dunia ini. Kalau saja semester ini berakhir dengan hal yang sama lagi dengan semester-semester sebelumnya, bernasib nanokom alias nasib satu koma (lebih parah nih dari nasakom) aku akan diminta mengundurkan diri dari tempat kuliahku. Hal yang sebenarnya tidak boleh sampai terjadi. Tapi bagaimana mungkin hal ini gak akan terjadi kalau aku masih seperti orang bodoh. Yang pasti aku bukanlah orang yang paling bodoh di dunia, tapi mungkin termasuk di antara orang-orang yang gak ..... Gak ngerti deh namanya apa..

Tapi, yang pasti aku sekarang merasa sepi.. No friends to talk to.. Walaupun ada pasti hanya bisa meringankan bebanku, masalahnya ada pada diriku.. Tak terselesaikan hingga kini..

Tapi yang pasti dan aku harus kuyakini, apapun yang aku alami dan lakukan, baik atau buruk, menyenangkanNya ataupun mendukakanNya, aku yakin TUHAN tahu..

TUHAN, aku seperti menuju kehancuran.. Kehancuran yang kubuat sendiri.. Apakah aku akan keluar atau berhenti dari semua hal buruk yang sampai sekarang tidak bisa aku hindarkan untuk kulakukan, hanya Engkau yang tahu TUHAN..