Pages

Showing posts with label paper. Show all posts
Showing posts with label paper. Show all posts

Monday, June 5, 2006

Paduan Suara dalam Ibadah

Mata Kuliah : Liturgika
Dosen : Pdt. Rasid Rachman, M.Th

PADUAN SUARA DALAM IBADAH

Paduan suara sepertinya sudah merupakan sebuah bagian yang harus ada dalam sebuah ibadah. Hal ini Penulis rasakan di dalam beribadah di gereja sejak kecil. Penulis memang tidak langsung mengikuti ibadah untuk orang dewasa, tetapi karena rumah Penulis yang terletak selalu dekat dengan gereja membuat penulis memiliki pemahaman tersebut. Setiap kebaktian di hari Minggu selalu terdengar paduan suara, atau lebih dikenal di gereja asal Penulis sebagai koor, menyanyikan sebuah nyanyian di dalam ibadah. Paduan suara yang ada juga tidak hanya satu, tetapi paling tidak terdapat satu “persembahan koor” dalam setiap ibadah di hari Minggu.

Permasalahannya terdapat pada pemahaman jemaat mengenai paduan suara itu sendiri. Jemaat sepertinya tidak mengerti fungsi sebenarnya paduan suara itu sendiri dalam ibadah. Inilah yang akan membuat saya/Penulis untuk menulis makalah singkat (dan gak jelas, Pak) mengenai paduan suara ini. Penulis mengharapkan makalah ini dapat membuka wawasan penulis sendiri mengenai paduan suara.

***

Musik merupakan sesuatu yang penting dalam ibadah. Luther banyak menggunakan musik dalam ibadah. Luther juga menggunakan paduan suara untuk mendukung pelaksanaan nyanyian jemaat. Itu adalah tugas dan tanggung jawab utama dari paduan suara menurut Luther.[1] Dengan demikian, fungsi utama dari paduan suara adalah membantu jemaat dalam menyanyikan nyanyian jemaat.*

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam paduan suara:

1.            Paduan suara berfungsi untuk membantu jemaat dalam menyanyikan nyanyian jemaat. Dengan kata lain, paduan suara berfungsi sebagai kantoria ataupun song-leader. Hanya saja perlu diperhatikan agar suara paduan suara tidak lebih dominan dari suara seluruh jemaat.

2.            Paduan suara seharusnya dimengerti sebagai bagian dari ibadah (liturgi), yang menyatakan pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan melalui nyanyian.[2] Tidak boleh ada unsur pertunjukan sama sekali jika paduan suara tersebut berfungsi di dalam ibadah. Menurut Christina Mandang, hal itulah yang menyebabkan kita tidak boleh menyampaikan apresiasi kita kepada paduan suara melalui tepukan tangan pada saat ibadah berlangsung.[3] Sebab paduan suara tidak berfungsi untuk menghibur jemaat, tetapi sebagai bagian dari ibadah bersama-sama dengan jemaat berfungsi untuk menyatakan pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan.

3.            Paduan suara sebaiknya tidak menghadap kepada jemaat. Hal ini dapat menimbulkan kesan bahwa paduan suara bernyanyi seperti paduan suara yang bernyanyi di ruang pertunjukan, yaitu bernyanyi kepada jemaat, bukan bernyanyi untuk kemuliaan Tuhan. Hal seperti ini seharusnya tidak dilakukan.[4]

4.            Paduan suara sebaiknya ditempatkan tersebar bersama dengan jemaat. Paduan suara yang ditempatkan tersebar bersama dengan jemaat dapat diarahkan dan dikontrol oleh pemain musik. Dengan cara ini berarti paduan suara dalam ibadah tidak membutuhkan seorang dirigen yang jika ada (pada cara ini) dapat merusak perhatian jemaat.[5] Hal ini juga membantu jemaat untuk bernyanyi sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk memuji Tuhan.[6]

Menurut pendapat saya, hal penting keempat dari paparan sebelum ini adalah cara yang terbaik untuk menyatakan fungsi paduan suara adalah untuk membantu jemaat dalam menyanyikan nyanyian jemaat. Paduan suara seperti pada cara tersebut seperti tidak menunjukkan keberadaan suatu paduan suara dalam ibadah, tetapi pasti akan sangat membantu jemaat dalam menyanyikan nyanyian jemaat.

***

           Pada pemaparan mengenai paduan suara yang Penulis tuliskan ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa umumnya gereja-gereja di Indonesia belum menempatkan paduan suara pada posisi sebenarnya. Saya setuju dengan Christina Mandang yang menyatakan paduan suara lebih sering ditempatkan hanya sebagai pengisi ibadah saja.[7] Hal ini, menurut saya, terjadi karena pemahaman yang salah mengenai fungsi paduan suara dalam ibadah. Makalah singkat yang masih jauh dari sempurna ini penulis harapkan dapat menjadi bahan untuk membuka pemahaman jemaat mengenai fungsi paduan suara dalam ibadah. Paduan suara juga diharapkan menyadari keberadaan suatu paduan suara bukanlah untuk menghibur jemaat dan juga bukan untuk melakukan pertunjukan di dalam ibadah. Sebab, seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya, paduan suara bersama-sama dengan jemaat berfungsi untuk menyatakan pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan.

Daftar Pustaka

Giles, Richard Giles. Re-Pitching the Tent. Norwich: Canterbury, 1997.

Mandang, Christina. Pembinaan Musik Gereja GPIB Paulus Jakarta: Pemandu Nyanyian Jemaat. (Makalah, disampaikan di GPIB Paulus Jakarta pada Sabtu, 18 Februari 2006).

Maxwell, William D. Concerning Worship. London: Oxford University Press, 1949.



[1] Christina Mandang, Pembinaan Musik Gereja GPIB Paulus Jakarta: Pemandu Nyanyian Jemaat, (Makalah, disampaikan di GPIB Paulus Jakarta pada Sabtu, 18 Februari 2006), hal. 3.

[2] Richard Giles, Re-Pitching the Tent (Norwich: Canterbury, 1997), hal. 196.

[3] Christina Mandang, Op.cit.

[4] William D. Maxwell, Concerning Worship (London: Oxford University Press, 1949), hal. 108.

[5] Ibid., hal.107

[6] Richard Giles. Op.cit.

[7] Christina Mandang, Op.cit.



makalah ini adalah makalah Liturgika I yang saya ceritakan di
(dan gak jelas, Pak)
* : koreksi yang Pak Rasid buat hanyalah di tanda titik yang berlebih satu pada akhir kalimat ini.

(dan gak jelas, Pak)

Kemarin gue ngambil paper Liturgika gue di BAA kampus gue. Gue sih masih kurang puas dengan nilai yang tertera di halaman terakhir paper gue itu. Cuma 80. Gue baru merasa senang dengan nilai itu waktu teman gue ada yang bilang nilainya 70. Terus gue lihat paper dia, ternyata banyak tulisan tangan Pak Rasid yang mengoreksi tulisan dia. Entah itu tulisan kata Alkitab yang huruf A nya tidak dia buat huruf kapital, atau juga konsistensi istilah yang dia pakai. Jumlah halaman paper yang dia buat juga lebih banyak dari yang gue buat. Tetapi, dia cuma dapat 70.

Pacarnya teman gue tadi malah bernasib (menurutku) kurang baik dibanding gue. Dia buat papernya berjumlah 18 halaman, tetapi hanya mendapat nilai 85. Teman gue yang asal gerejanya sama dengan gue mungkin mendapat nilai yang paling tinggi. Dia membuat paper yang menilai unsur teologis dari lagu buku nyanyian di gereja kami yang diciptakan oleh A.K. Saragih. Dia mendapat nilai 100. Walaupun begitu, dia masih memiliki kekurangan dalam penulisannya. Buktinya Pak Rasid masih memberikan koreksi juga di papernya.

Gue memang menyombongkan diri (pada diri gue sendiri) waktu gue lihat punya teman-teman gue ada dapat pengkoreksian dari dosen Liturgika kami itu. Sementara itu gue hanya salah pada tanda titik di akhir kalimat yang berlebih. Ada 2 titik. Dan hanya itulah yang dikoreksi oleh Pak Rasid.

Tapi itu hanya sebentar saja. Sewaktu gue ke warnet di depan kampus gue, gue melihat beberapa kata yang mencurigakan di halaman depan paper gue itu. Awalnya gue cuma baca kata "gak jelas." Bagaimana mungkin di dalam paperku ada kata yang gak baku seperti kata "gak" ini, pikirku. Ya, ampun. Gue baru ingat. Sewaktu gue ngetik paper yang berjudul "Paduan Suara dalam Ibadah" itu, ada teman gue -kalo gak salah sih si Daniel Gunawan- yang ngeliat gue ngetik. Karena gue males kalau ada orang yang ngeliat gue ngetik sesuatu di komputer gue, gue malah iseng. Gue tambahin kata-kata "dan gak jelas, Pak" di dalam tanda kurung. Terus gue sempet juga bilang ama yang ngeliat gue iseng itu, "asal ntar gue gak lupa aja ngehapus kata-kata ini."

Dan ternyata gue lupa. Gue baru sadar kemarin setelah paper itu dinilai dan dikembalikan ke gue. Tetapi, bagaimana mungkin kata-kata itu lepas dari pengamatan Pak Rasid ya? Apa sebenarnya gue hanya bisa dapat nilai 80 karena ada kata-kata itu? Kalau misalnya ya, kenapa juga dia tidak melakukan koreksi di paper gue ya? Entah dia menaruh tanda lingkaran dan tanda tanya di bagian itu.

Ah, karena (dan gak jelas, Pak) itu, gue jadi gak mau menyombongkan nilai paper gue yang hanya berjumlah dua setengah halaman itu (bnd: Hans 18 halaman dapat nilai 85).

Oiya, yang membuat gue kurang puas dapat nilai 80 adalah harapan gue dapat nilai A- untuk nilai akhir mata kuliah Liturgika I gue ini. Jadi, kalau gue dapat A-, nilai ini bisa menutupi nilai mata kuliah lain yang kemungkinan besar jelek. Masih ada 5 mata kuliah lagi yang belum jelas nilainya. Untuk sementara sih, gue sepertinya lulus dari semester dua ini. Walaupun mungkin hanya dengan IP pas-pasan, gue udah cukup senang. Daripada DO. Oops...

Kalasan, belakang kantor Kontras, Jakarta
11:26
3 Juni 2006

Thursday, May 25, 2006

Konfusianisme

Mata Kuliah : Pengantar Filsafat Timur
Dosen : Pdt. Stanley R. Rambitan, M.Phil.

Konfusianisme

Tokoh yang memunculkan ajaran Konfucianisme ini adalah Conficius atau Konficius. Ada buku yang menuliskan nama asli tokoh ini adalah Kung Fu Tzu atau Kung Sang Guru, dan ada juga yang menuliskan namanya adalah Kun Fu Tse. Dalam penulisan makalah ini, penulis akan menggunakan nama Conficius yang merupakan sebutan nama asli tokoh ini yang dilatinkan.[1]

Conficius lahir pada tahun 551 sebelum Masehi di kabupaten Lu (sekarang berada di provinsi Shantung di Cina bagian Timur). Bapaknya meninggal saat ia masih berumur 3 tahun. Ibunya miskin. Conficius terpaksa mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Penderitaan dan kemiskinan sejak muda membuat Conficius merasa ia memiliki ikatan dengan kebanyakan orang.

Conficius menyelesaikan pendidikannya dalam waktu singkat. Conficius memusatkan perhatiannya pada pendidikan pada umur 15 tahun. Pada umur 20 tahun, Conficius sudah menjadi seorang guru privat. Conficius menjadi guru privat setelah menjabat beberapa jabatan tidak berarti dan menjalani suatu pernikahan yang tidak berhasil. Pekerjaannya sebagai guru privat kemudian menjadi profesinya.

Nama baik dan kebijaksanaan hidup Conficius kemudian tersebar luas dengan cepat dan menarik perhatian sekelompok pengikut. Para pengikut Conficius bahkan memberikan klaim bahwa belum ada orang seperti Guru mereka itu. Walaupun begitu, profesi Conficius sebagai guru privat merupakan sebuah kegagalan jika ditinjau dari ambisi hidupnya. Tujuan hidup Conficius sebenarnya adalah menjadi seorang pejabat di pemerintahan. Conficius meyakini teori-teorinya tidak dapat dilaksanakan jika teori-teorinya tidak disalurkan langsung melalui kehidupan nyata, yaitu pemerintah.

Suatu ketika, Conficius pada akhirnya mendapat jabatan dalam pemerintahan, namun jabatan tersebut bukanlah jabatan yang yang memiliki kekuasaan. Jabatan tersebut diberikan seorang penguasa yang meminta nasehat Conficius. Namun, karena mengetahui tipu muslihat penguasa tersebut memberikan jabatan tersebut agar Conficius tutup mulut, ia pun mengundurkan diri.

Lalu Conficius berkeliling dari satu negara ke negara lain untuk menawarkan nasehat yang tidak diminta oleh penguasa setempat. Ia memberikan nasehat mengenai cara memperbaiki pemerintahan penguasa itu. Hal ini dilakukannya sambil mencari kesempatan untuk mewujudkan cita-citanya. Conficius pun dipanggil kembali sewaktu terjadi pergantian pemerintahan di negaranya. Sadar bahwa ia sudah terlalu tua untuk menjadi pejabat, ia menghabiskan waktunya untuk mengajar dan menyunting kitab-kitab klasik secara tenang. Pada tahun 479 sebelum masehi, dalam umur 73 tahun Conficius meninggal dunia.[2]

Pokok-pokok Ajaran

Konfusianisme menggunakan istilah Dao. Istilah ini digunakan dalam hal-hal yang berhubungan dengan moralitas, perangkat peraturan, atau asas perilaku dalam pengertian sosial dan politik. Dao berarti cara hidup atau tatacara kehidupan insani (yang berhubungan dengan manusia). Ia juga menekankan tatacara manusia harus sesuai dengan tatacara alam. Hubungan seorang manusia dengan manusia lainnya juga harus mengikuti tatacara kehidupan yang telah dibangun oleh orang bijak kuno berdasarkan tatacara alam (Dao).[3]

Pandangan Konfusianisme tentang Manusia[4]

Kodrat manusia merupakan pemberian langit. Hukum kodrat manusia ini tidak terlepas dari alam semesta. Hukum yang diterapkan pada manusia ini sama dengan hukum yang mengatur pergantian musim dan proses alam yang lain. Menurut Conficius, manusia merupakan fungsi dari alam, artinya manusia harus berpatokan kepada alam dalam menjalani kehidupan.

Alam sudah dapat mengatur dirinya sendiri. Manusialah yang menjadi penyebab kemungkinan terjadinya kekacauan alam. Alam sudah memiliki aturan-aturan bagi bekerjanya alam dan juga bagi perilaku manusia sebagai bagian alam. Manusia sebagai fungsi dari alam seharusnya mengikuti aturan-aturan itu. Jika manusia dapat mengikuti aturan-aturan itu, maka alam akan selalu dalam keadaan tenang. Manusia pun dapat mempertahankan posisinya yang baik di dalam dunia dan terhindar dari kekacauan. Jika manusia tidak dapat mengikuti aturan-aturan itu dan malah berbuat seenaknya, maka alam akan kacau.

Tujuan manusia menurut Konfusianisme adalah mencapai keharmonisan ataupun keseimbangan. Keharmonisan dengan alam dan juga keharmonisan dengan sesama manusia.

Beberapa pokok ajaran Conficius:

1. Setiap manusia memiliki Yen. Yen berarti setiap manusia harus memiliki keluhuran budi, cinta, dan kemanusiaan dalam dirinya. Orang yang telah memiliki Yen senantiasa akan bersedia mengorbankan dirinya untuk menjaga keseimbangan dirinya dengan orang lain. Hal ini membuat Yen tetap berada di dalam dirinya. Di dalam masyarakat, orang yang memiliki Yen terlihat sebagai orang yang ulet, rajin, dan suka bekerja. Di dalam kehidupan sebagai individual, orang yang memiliki Yen terlihat sebagai orang yang ramah, tidak mementingkan diri sendiri, dapat merasakan penderitaan orang lain serta dapat menghargai perasaan orang lain dengan mengukur diri sendiri. Dalam hal menghargai perasaan orang lain dengan mengukur diri sendiri, Conficius menyatakan sebagai berikut: “Jangan berbuat sesuatu terhadap orang lain yang tidak Tuan ingin akan menimpa diri Tuan sendiri.”[5]

2. Untuk menjaga keseimbangan, manusia harus menjaga 5 hubungan timbal balik sebagai suatu lingkaran keseimbangan hidup, yaitu hubungan yang seimbang.[6]

a. Hubungan antara ayah dan anak. Jika tercapai hubungan yang seimbang, maka Ayah mencintai anaknya dan anak menghormati ayahnya

b. Hubungan antara saudara tua dan saudara muda. Jika tercapai hubungan yang seimbang, maka yang lebih tua berlaku baik terhadap yang muda dan yang muda menghormati yang lebih tua

c. Hubungan antara suami dan istri. Jika tercapai hubungan yang seimbang, maka suami akan berbuat baik kepada istinya dan istrinya memperhatikan suaminya.

d. Hubungan antara kawan yang lebih tua dan yang lebih muda umurnya. Jika tercapai hubungan yang seimbang, maka timbul perasaan kasing sayang terhadap satu sama lain dan yang satunya menghormati dan menghargainya.

e. Hubungan antara raja dan rakyatnya. Jika tercapai hubungan yang seimbang, maka raja akan bertindak adil dan melindungi raknyatnya, dan raja akan setia dan taat kepada rajanya.

3. Konsep pembetulan nama-nama. Conficius hidup pada masa Cina hidup dalam dalam ketidakteraturan, degradasi moral, dan anarki intelektual. Seorang muridnya bertanya apa yang akan Conficius lakukan jika Conficius memerintah negara.Conficius menjawab bahwa hal satu-satunya yang perlu dilakukan adalah pembetulan nama. Seorang penguasa hendaknya bersikap sebagai seorang penguasa, seorang menteri bersikap sebagai seorang menteri, seorang bapak bersikap sebagai seorang bapak, dan seorang anak bersikap sebagai seorang anak.

Menurut Conficius, jika nama-nama tidak betul, maka ucapan tidak akan mengikuti alur alam dan tidak ada sesuatu yang dapat didirikan dengan mantap. Jika demikian, maka tidak ada aturan perilaku yang dapat ditegakkan. Akibatnya hukum dan penghukuman tidak dapat berjalan. Jika hukum dan penghukuman tidak dapat berjalan, maka orang tidak tahu tindakan apa yang seharusnya dilakukan. Akibatnya terjadi ketidakteraturan tindakan.

Kekacauan seperti inilah yang menurut Conficius menjadi penyebab kekacauan pada negaranya. Seorang penguasa tidak bersikap sebagai seorang penguasa, dan seterusnya. Untuk mengatasi kekacauan itu, menurut Conficius perlu dilakukan pembetulan nama sehingga setiap nama harus sesuai dengan hakikat idaman yang ditentukan oleh alam.[7]

Daftar Pustaka

Takwin, Bagus. Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur. Yogyakarta: Jalasutraha, 2003.

Smith, Huston. Agama-agama Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001.

Arifin, H.M. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar. Jakarta: Golden Trayon Press, 1986.



[1] Bagus Takwin, Filsafat Timur:Sebuah Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur (Yogyakarta: Jalasutraha, 2003) hal. l 83.

[2] Huston Smith, Agama-agama Manusia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), hal 188-191.

[3] Bagus Takwin, Op.Cit.

[4] Ibid., 86-87

[5] H.M. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar (Jakarta: Golden Trayon Press, 1986), hal. 29-30.

[6] Ibid. hal. 32.

[7] Bagus Takwin, Op.Cit., hal 87-89.

Paper ini gue kerjakan semalam. Paper ini sebagai tugas untuk ujian susulan gue. Gue memang gak ikut ujian akhir semester nih mata kuliah gara-gara sakit. Tadi gue baru ngumpulin di BAA nih paper sama Kak Malen. -DAY8060-

Talk to the Hand

Gimana sih hidupmu Vontho?
Apakah yang kau pikirkan?
Kau tidak mau belajar dari kesalahan. Kalau saja kali ini kau DO, berarti kau sudah masuk ke dalam lobang yang sama. Goblok mana kau sama keledai?

Ah, dirimu hanya memikirkan hal bodoh selama ini. Tak penting untuk hidupmu. Apa sih yang bisa kau dapatkan dari hal yang gak penting itu? Hanya kesenangan sesaat bukan? Menuliskan ini di komputermu sebenarnya bukan kesenangan, tetapi tetap saja kau lakukan. Bodoh bukan? Bahkan yang bukan kesenangan pun kau lakukan?

Mau kemana kan kau bawa hidupmu vontho? Tak kah kau ingat lagu yang dianggap aneh ama teman-temanmu? Isi lirik lagunya : hidupmu bukan kebetulan. Mana bisa kau mengerti itu. Betul?

Sekarang, kerjakan saja paper Filsafat Timurmu. Jika tidak, DO sudah di depan matamu.

Asrama Putra STTJ, Dempo 14, Jakarta
23:59
25 Mei 2006
DAY8059



Monday, May 15, 2006

Lapar dan Pusing

Sekarang sudah menunjukkan pukul 23:55 di handphoneku. Perutku sekarang sudah sakit. Tadi aku tidak makan malam sama sekali. Perutku hanya aku isi dengan 4 keping roti regal yang ada di perpustakaan asramaku. Itupun aku tidak tahu siapa yang punya roti itu.

Aku baru saja turun dari ruang serbaguna asramaku. Pertandingan Liverpool melawan Westham baru saja selesai. Sepanjang pertandingan babak perpanjangan waktu aku memang tidak memperhatikan lagi pertandingan itu. Aku bermain tenis meja di ruang yang sama bersama dengan Tio, anak Pak Mardi. Oiya, sekadar pemberitahuan, Pak Mardi adalah pegawai STT Jakarta yang bertugas di asrama.  Aku memang tidak jago bermain tenis meja. Hanya bisa serve dan selanjutnya aku selalu jadi bulan-bulanan Tio yang sekarang masih duduk di kelas 1 SMP.

Permainannya memang sekadar bersenang-senang saja, tetapi badanku sampai berkeringatan juga. Mungkin sekarang kepalaku juga seperti pusing karena capai dan tadi aku tidak makan. Asal jangan sampai sakit parah saja.

Yang menjadi pemenang pertandingan tadi adalah Liverpool. Hasil akhir 7-4 setelah Liverpool memenangkan adu pinalti 4-1. Dasar komentator antv dan juga komentator Indonesia yang gak jelas maksudnya apa menanyakan sebab kekalahan Westham lewat adu pinalti kepada suporter Westham. Memang suporternya mengerti dengan jelas apa yang terjadi di lapangan yang pertandingannya dilaksanakan jelas-jelas di Eropa sana. Aku langsung meninggalkan ruang serbaguna, tempat beberapa orang temanku juga menonton pertandingan tersebut, ketika mendengar komentar suporternya yang juga tidak kalah ngawur dengan maksud si komentator antv. Ah, sudahlah..

Sekarang sudah seharusnyalah aku memikirkan paper Liturgika dan juga mini-skripsi Bahasa Indonesiaku. Honestly, aku belum mengerjakan sama sekali mini-skripsi Bahasa Indonesiaku yang jumlah halamannya harus di atas 10 halaman. Paper Liturgika memang sudah dalam rencana pengerjaan dalam 3 hari terakhir. Tetapi aku selalu stuck. Sekarang, setelah waktunya tinggal lebih kurang 50 jam, aku masih baru mengerjakan pendahuluan dari paper Liturgika. Dan mini-skripsi belum sama sekali??? Apa sih yang aku pikirkan? KERJAKAN!!!!

Waktu pun berlalu. Sekarang di handphoneku sudah menunjukkan pukul 00:16. Perut ingin diisi. Paper minta dikerjakan. Kepala sudah mendekati pusing. Tetapi waktu terus berlalu.

Tolong!!!!

Asrama Putra STTJ, Dempo 14, Jakarta
00:16
14 Mei 2006
DAY8048

Gak Jelas (Sebelum Tidur)

Paduan Suara dalam Ibadah


Malam ini harus sudah selesai. Geblek/ mana mungkin sebentar lagi aku sudah pasti dalam keadaan tidur pulas. Ampun deh. Gue niat gak sih mengerjakan tugas dan juga mempersiapkan diri untuk UAS. Kalau tidak, lebih baik mampus saja dirimu dari dunia ini. Geblek!!!!!!!!!!!!!!!!


Musik merupakan bagian yang penting dalam ibadah.


Asrama Putra STTJ, Dempo 14, Jakarta
sebelum tidur pagi hari
13 Mei 2006

Wednesday, May 10, 2006

Virus Mampus

Ini baru namanya mampus.

Sekarang memang minggu tenang. Namanya aja sih minggu tenang. Tetapi seharusnya tidak boleh dihadapi dengan tenang, apalagi tenang-tenang. Masalahnya, gue adalah salah satu (mungkin satu-satunya) orang yang tenang-tenang menghadapi minggu tenang ini. Paper ada dua buah yang harus diselesaikan, yaitu paper Liturgika dan mini-skripsi Bahasa Indonesia. Jangan tanyakan padaku sudah sampai di mana gue mengerjakannya, karena sampai sekarang gue masih bingung. Padahal Liturgika dikumpul Senin depan dan Bahasa Indonesia dikumpul Rabu depan. Kalau Liturgika sih bisa dikit aja asal ngena isinya. Bahasa Indonesia? Namanya juga mini-skripsi. Mesti banyak dong jumlah halamannya. Paling tidak 10-15 halaman. Mampus deh?!

Tadi pagi aku dikejutkan oleh adanya orang yang menelepon gue ke asrama. Tumben? Ternyata teman seangkatan gue. Cewek. Si Maria. Punya masalah dengan flash-disknya yang gak bisa diapa-apain. "Aku gak ngerti. Soalnya belum pernah mengalami seperti itu." That's what I said to her. Aku pun menyuruh dia datang ke asrama.

Tak lama, dia dan Rael dan juga Merry udah tiba di asrama gue. Gue buka di komputer gue. Found the problems. Membaca filenya sih bisa, tetapi menghapus filenya dan sebagainya yang berhubungan dengan menambah atau mengurangi jumah file di dalam flash-disknya tidak bisa dilakukan. The disk is write protected. Write protected gimana? Memang flash disk ada yang pake write protect? Terus terperangahlah gue karena melihat ternyata isi flash disknya dia berisi file berikon MS Word tetapi ternyata berekstensi *.exe. Virus.. Selamat datang...

Pulanglah mereka. Dengan flash disknya ditinggalin ke gue karena gue pikir masalahnya sesederhana file aslinya disembunyiin ama virus itu dan bisa dilihat dengan sedikit utak-atik di Folder Options. Eh, ternyata tidak bisa.

Tak lama berlalu, Rael pun menelepon. "File Word di laptopnya Irma dan Putri udah gak bisa dibuka lagi. Gue datang ke situ ya?"

Rael pun datang ke asrama gue. Dia membawa dua buah laptop di tas ranselnya. Gue utak-atik sebentar. Gue nyerah.. Norton Antivirus gak bisa menghapus file *.exe jahanam yang ada di laptop Irma, yang berarti di laptop Putri juga gak bisa dihapus dengan antivirus. Gue memang bisa ngakalin untuk bisa lihat file *.doc aslinya. Tapi isinya udah gak normal juga. Kalau gue hapus semua *.exe nya, ntar malah berabe. Makanya gue sekarang ke internet untuk nyari update terbaru. Terus nanyain di dunia maya ini apakah sudah ada antivirusnya, atau cara mengatasinya. Tetapi sepertinya tuh virus juga belum beredar dengan baik. (ini pikiran GOBLOG)

Jika saja antivirus terhadap virus buatan orang Indonesia yang "concern" terhadap Indonesia ini cepat ditemukan. Jika tidak, bisa mampus tuh teman gue si Irma yang sudah nyelesain paper Liturgikanya dan file MS Wordnya gak bisa kebuka gara-gara virus jahanam itu.

Gila, download progress untuk update antivirusnya masih 50%?
Mampus deh.. Mana tugas gue belum ada yang selesai.. Terus barusan ada sms dari Theofanny. "Eh. u da dmn?g da di dempo neh..cpt kesini,bantuin g bikin tabel.ga pk lama=>"

WOIIIIII!!!! Bisa mampus beneran nih gue?!

Warnet Choy, Proklamasi, Jakarta
14:56
10 Mei 2006
DAY8044

Thursday, April 6, 2006

Help Me Define Pornography!

Apakah Anda setuju jika Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP) disahkan menjadi UU APP?

Setuju
 
 46

Tidak Setuju
 
 43

Tidak Tahu
 
 9

Sekarang gue lagi punya tugas untuk membuat sebuah karangan eksposisi-ilmiah yang nantinya akan menjadi sebuah skripsi-mini ataupun mini-skripsi. Ini adalah tugas dari dosen Bahasa Indonesia kami, Dr. Lucy Montolalu, untuk tugas akhir kami di semester ini.

Hampir semua topik sebenarnya bisa dibuat menjadi karangan eksposisi. Sebagai bukti dosen kami itu membaca sebuah karangan eksposisi berhubungan dengan pasta gigi. Untuk yang harus kami buat itu ada embel-embel ilmiahnya. So, harus ada referensi-referensi segala. Tidak boleh hanya seperti yang dia bacakan yang memang berdasarkan pengalaman pribadi penulis itu sendiri.

Ketika ditanya apa saja yang bisa menjadi referensi, dosen kami ini menjawab semuanya bisa dijadikan bahan referensi. Itulah sebabnya beberapa waktu ini saya sibuk sendiri untuk mencari bahan di internet semua yang berhubungan dengan RUU APP. (Saya mencoba mengambil topik RUU APP).

Nah, untuk membuat karangan eksposisi-ilmiah ini kami seharusnya sudah membuat proposal (asli, mirip seperti buat skripsi beneran aja), yaitu bagian pendahuluan. (Latar belakang masalah, tujuan penulisan, perumusan masalah, dst). Aku masih belum selesai. Aku masih bingung "persoalan apa yang bisa dibahas dari RUU APP" ini? Any suggestion? Please!

Yang ada dalam benakku sih yang menjadi persoalan itu adalah definisi pornografi itu apa? Sudah dapat sih dari beberapa ensiklopedia di perpustakaan kampusku. Tapi yang menjadi masalah, definisi pornografi dalam RUU APP itu belum dapat. Anybody can help me?

Terus, ini juga kurang kerjaan. Di sini gue mau buat polling "Apakah Anda setuju jika Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP) disahkan menjadi UU APP?". (Udah ada yang buat belum sih sebelumnya?) Anybody is invited to give opinion. Karena setiap suara Anda berharga (memangnya Pemilu??)

Aku juga sebenarnya sudah tanya di Yahoo! Answers : What is the definition of pornography? Tetapi yang menjawabannya cuma tiga orang, dan ada satu yang menurutku lumayan menarik jawabannya: "Sex, drugs and rock and roll. If you like it, then it is porno." Karena yang menanggapi pertanyaan saya di Yahoo! Answers cuma tiga, di sini (manatau ada yang menanggapi, dan lebih banyak yang mau menanggapi) saya ingin menanyakan juga. Menurut Anda, apa sih definisi pornografi? Definisikan saja menurut bahasa sendiri, OK!

Thanks for the help!

Warnet Global, Proklamasi 27, Jakarta
12:30
07 April 2006

Thursday, December 1, 2005

Minggu Tenang atau Minggu Tegang?

kuliah-kuliah kami di semester satu di kampus gumul dan juang STT Jakarta berakhir hari ini.. dua minggu lagi kami akan ujian akhir semester..


tidak seperti di kampus putih biru STT Telkom Bandung dulu, di sini ada minggu tenang.. tapi ini hanya nama saja.. menurut senior kami, yang tentunya lebih berpengalaman dari kami di STT Jakarta, minggu tenang ini bukanlah benar-benar sama dengan namanya: tenang.. dalam minggu tenang, anak-anak STT Jakarta malah tegang.. ngerjain paper dan mempersiapkan ujian..


untuk kami yang semester 1 aja, jumlah paper yang harus kami selesaikan sebagai tugas untuk nilai UAS ada sebanyak 5 (lima) buah.. dan untuk mentor kami di asrama -sekarang semester 9- jumlahnya bahkan sebanyak 12.. semuanya harus selesai sebelum waktu pengumpulannya yang sama dengan waktu ujian mata kuliah itu sebenarnya.. jadi, kalo kami masih bisa menyelesaikan satu paper dalam 2 hari, mentor asrama kami harus menyelesaikan 1 paper per hari..


untuk kami, paper yang harus kami selesaikan adalah paper Pendidikan Agama Kristiani (dikumpul tanggal 12 Desember), Kewarganegaraan (tanggal 13), Bahasa Indonesia (tanggal 14), Pengantar Ilmu Teologi (tanggal 15), dan Bahasa Inggris Umum (tanggal 16)..


tenang, kah?


selamat datang minggu tegang! hope i can through it well..